
Pagi hari Denia bangun lebih cepat dari biasanya.
"Dia pikir wanita itu saja yang bisa masak, aku juga bisa," Denia membanggakan dirinya. Ia mencuci tangannya dan menyiapkan peralatan untuk masak.
"Bagaimana cara melakukannya?" gumamnya. "Ah... ini mudah," ia menghidupkan kompor dan menuang minyak. Ia ingin menggoreng ikan, minyak yang berada di wajan terlalu panas dan ia memasukkan ikan tersebut. Api menyambar, untung saja dapur tidak kebakaran. Ryan yang keluar dari kamar melihat asap yang mengebul dari dapur. Ia berlari kecil, takut terjadi sesuatu.
"Kau masak untukku?" tanya Ryan dengan senyum menggoda.
"Jangan terlalu percaya diri, aku masak untuk diriku sendiri. Bukannya sudah ada ya yang memasak makanan untukmu setiap hari?" Denia menatap sinis dan mengeluarkan sindiran mautnya.
"Iya juga, dapur ini menjadi kotor aku ingin dapur ini kembali seperti semula," Ryan berjalan santai ke meja makan, ia menahan senyumnya. Sebenarnya ia tak tega menyuruh istrinya membersihkan dapur tersebut. Tapi sekali-sekali tak apa pikirnya.
Denia merenggut kesal, "Suami keterlaluan!" ucapnya sambil menggosok wajan yang hitam karena sambaran api. Setelah dapur bersih seperti sediakala, Denia berjalan ke meja makan.
"Kau tak pergi bekerja?" tanya Denia yang masih cemberut.
"Tidak, hari ini ada lomba cerdas cermat di sekolah SMA International jadi aku sebagai sponsor akan datang kesana,"
"Oh.." jawab Denia cepat secepat kilat.
"Kau tak ingin ikut mendampinggiku?" Ryan menaikkan satu alisnya sambil menunggu jawaban dari Denia.
Denia menimbang-nimbang antara ikut atau tidak. Ia menghela nafas panjang, " Aku ikut!" ucapnya datar dan dibalas senyum dari Ryan.
"Baiklah aku akan pesan makanan untuk kita,"
"Untuk kita?" gumam Denia pelan, " aku dan kau," gumam Denia sambil tersenyum senang.
"Hei ada apa?" Ryan menjentikkan jarinya membuat Denia terbangun dari khayalannya. Kemudian ia menggelengkan kepalanya dan mengetuk kepalanya pelan.
***
"Pagi Ma, Pa." ucap Ali dan Dilah sambil berjalan menuju meja makan. Kemudian mereka duduk berdekatan.
"Pagi!" ucap Dini dan Riki serentak.
~"Hem Ma, Pa. Hari ini aku akan pergi ke perlombaan cerdas cermat yang diadakan di SMA International Schoo..." terpotong
"Kenapa kamu tak memberi tahu bahwa akan diadakan lomba di sekolah SMA ku dulu," gurutu Dilah kesal.
"Oh ya aku lupa bilangnya, kamu mau ikut keacaranya?" tanya Ali tersenyum semanis mungkin agar istrinya kembali ceria.
"Mau!" ucap Dilah girang.
"Padahal perusahaan Ryan sudah jadi sponsornya masa kamu tidak tahu, Nak," ucap Riki kemudian ia mengambil gelas berisi air minum.
__ADS_1
"Tidak Pa, aku tak bertanya pada kakak," ucapnya lesu, biasanya perusahaan Dilah juga jadi sponsor tapi kali ini tidak. Hal itu yang membuatnya semakin kesal.
Setelah sarapan Ali berpamitan," Sayang aku pergi dulu sebentar ya," Ali melangkah.
"Kau melupakan sesuatu," Dilah terlihat kesal.
Cup, Ali mengecup kening istrinya. Dilah mendadak jadi girang dan membalas mengecup pipi dan mencium tangan Ali.
Ali mengeluarkan mobil, dan menuju ke suatu tempar disana ada anak-anak SD, SMP, dan SMA bercampur sebagai suporter.
"Hei adik-adik sekalian, kalian akan jadi suporternya kak Luna, bersiaplah!" ucap Ali semangat.
"Siap Pak," ucap mereka semangat. Tentu saja, karena mereka menjadi suporter bayaran, mereka mendapatkan 100 ribu perorangan. Setelah itu, Ali menuju rumah Luna untuk memastikan Luna sudah siap.
"Assalamualaikum," Ali mengucapkan salam.
"Wa'alaikum salam, masuk Pak!" ucap ibu Luna dengan ramah.
"Iya Bu," menunduk dan masuk ke dalam rumah.
Luna keluar dari kamarnya. Ia mengenakan seragam sekolah dan kaca mata besar serta rambut diikat dua.
Luna tak boleh bergaya seperti itu. Aku tak ingin orang-orang menghinanya lagi. Ia harus berubah, tapi siapa yang bisa mengubahnya?
"Sudah siap Luna?" tanya Ali semangat.
"Tidak apa-apa, ayo berangkat." Ali berpamitan pada ibu Luna kemudian mereka masuk ke mobil.
Ali membawa Luna ke rumah mertuanya, ada sesuatu yang ingin ia rencanakan. "Pak, bukannya arah sekolah SMA International School arah sana ya, Pak?" tanya Luna gusar.
"Ada sesuatu yang ingin Bapak tunjukkan," ucap Ali santai, pandangan Ali masih lurus ke depan.
Sesampainya di rumah mertuanya. Ali dan Luna turun dari mobil. Luna masih bingung mengapa gurunya membawanya ke sini.
"Assalamualaikum," Ali dan Luna mengucapkan salam.
"Wa'alaikum salam," Dilah membuka pintu, wajahnya berubah ketika melihat Luna.
"Ada apa?" tanya Dilah jutek.
"Sayang," Ali melambaikan tangan dan berbisik,
"Tolong dandani Luna agar terlihat lebih cantik,"
"Aku tidak mau," Dilah melipat tangannya kesal.
__ADS_1
"Tolonglah Sayang," Ali memelas untuk membuat Dilah takluk.
"Nanti kamu jatuh cinta sama dia," ucap Dilah ketus sambil melirik Luna tak suka.
"Sayang, cintaku hanya untukmu," kemudian Ali mencium pipi istrinya, Dilah menjadi luluh.
"Luna kemarilah!" Dilah mengucapkan dengan nada tak suka.
"Iya Tante," ucap Luna sambil berjalan mendekati Dilah.
"Aku akan mendadanimu menjadi lebih cantik," ucap Dilah ketus, masih ada rasa cemburu di dalam hatinya.
"Tidak usah Tante, aku seperti ini saja," ucap Luna menolak.
Dilah memutar bola matanya dan mendengus kesal. Kemudian Dilah mengontrol emosinya. "Ayo Luna, agar kamu semakin cantik untuk membuat kepercayaan dirimu saat berlomba nantinya," Dilah sudah mulai lembut agar Luna menurut. Akhirnya Luna mengangguk setuju.
Dilah mendandani Luna dengan telaten. Satu jam ia mendandaninya, Setelah usai, Luna melihat kearah cermin. Ia merasa berbeda pada wajahnya.
"Wah... Aku cantik sekali," ucap Luna memuji dirinya. Baru pertama kali ia memuji dirinya. Biasanya ia selalu mengatakan dirinya jelek.
"Hem," Dilah tersenyum,
"Apakah kau pernah jatuh cinta dengan seseorang?"
Duar!
Rasanya ada sesuatu yang meledak. Apakah istri pak Ali tahu bahwa Luna jatuh cinta pada suaminya? Luna berpikir harus menjawab apa. Bingung, ragu, takut bercampur aduk di dalam hatinya.
"Saya pernah jatuh cinta tapi cinta itu tidak tepat, saya akan berusaha melupakannya."
Tuh kan benar, dia jatuh cinta dengan gurunya sendiri.
Ali mengetuk pintu, kemudian ia membukanya. Kebetulan pintu tidak di kunci. Ia melihat Luna yang begitu cantik membuat dirinya tercengang. Dilah menjadi geram, ia ketuk kepala Ali dengan kipas lipat agar sadar.
"Aduh," pekik Ali memegang kepalanya.
"maaf, maaf, aku sampai tercengang, tapi sungguh Luna kau cantik sekali, Nak." puji Ali yang masih takjub.
"Ehem!" Dilah berdehem dan mengerutkan bibirnya.
"Terima kasih Sayang, kamu jauh lebih cantik," ucap Ali memuji.
"Apakah kita akan pergi sekarang?" tanya Luna agar suasana tidak bersitegang.
"Tunggu, aku ganti baju dulu!" ujar Dilah.
__ADS_1
"Luna kamu temanin aku ya, jangan sama Pak Ali."
Ali menggelengkan kepalanya dan menahan tawa. Ia tahu, itu adalah strategi istrinya agar Ali tak menatap Luna.