
Jantung Luna berdebar kencang diatas rata-rata normal. Kini ia bertanding melawan 9 orang yang siap mengalahkannya. Hanya satu orang dari 10 yang akan melaju ke babak selanjutnya.
"Peraturan disini, dilarang keras mencaci maki, memprovokasi, dan memprotes keputusan juri," ucap pembawa acara.
"Sekarang kita mulai dengan pertanyaannya jika tahu jawabannya pencet bel,"
"Baiklah pertanyaan pertama, laut terbesar di dunia adalah?"
Luna gerak cepat memencet bel, membuat Ali merasa senang, "Karibia," jawab Luna.
"Salah," ucap si pembawa acara.
Seorang memencet bel, "Laut cina selatan," ucapnya tersenyum tipis.
"Benar," semua orang bertepuk tangan untuknya. "10 poin untuk Naira," ucap pembawa acara.
__ADS_1
Juara terakhir mau ikut lomba ya begini jadinya, Lucia membatin.
"Pertanyaan kedua, dalam revolusi perancis terdapat peristiwa penting yaitu raja perancis yang dihukum mati. Pertanyaannya siapakah raja perancis tersebut?"
Luna menjadi yang pertama memencet bel. Banyak orang menatap sinis kepada Luna.
"Luna jawab lah dengan benar," gumam Ali pelan.
"Silakan Luna!" ucap pembawa acara.
"Raja Louis XVI"
Para suporter bayaran bersorak senang. Luna juga heran mengapa banyak yang mendukungnya. Karena pada dasarnya Luna adalah murid yang pendiam dan jarang bergaul. Luna tidak tahu bahwa wali kelasnya sekaligus mentornya telah membayar orang-orang untuk menjadi pendukung Luna. Semua ini Ali lakukan untuk membuat Luna bersemangat.
Dan benar saja, poin Luna melesat jauh. Kepala sekolah San Teresyia menjadi tercengang. Bahkan Lucia juga tercengang. Kebencian Lucia makin bertambah.
__ADS_1
Demi bertemu Ayah aku harus menang, batin Luna.
30 menit sudah dilewati. Sekor Luna masih yang tertinggi. Tak ada yang bisa mengalahkan Luna pada babak penyisihan. Isu miring tentang Luna yang hanya mendapat rangking terakhir di San Tersyia Bakti School membuat para lawan Luna lengah. Kini mereka menelan ludah dan takjub karena Luna maju ke babak selanjutnya yaitu semi final.
Sekarang sesi kedua, giliran Lucia Anastasya maju sebagai wakil sekolah San Teresyia Bakti School. Dalam setiap pertanyaan cerdas cermat Lucia memborong poin banyak. Bahkan sang tuan rumah SMA International School tergangga.
"Aku tak menyangka sekolah San Teresyia Bakti School sehebat ini," ucap kepala sekolah SMA International School.
"Apakah itu artinya juara bertahan kita selama 25 tahun direbut oleh San Teresyia Bakti School?" wakil kepala sekolah SMA International School mendadak khawatir.
"Entahlah, tapi sepertinya kita punya harapan,"
Sesi kedua selesai, Lucia Anastasya unggul dalam lomba cerdas cermat. Sepertinya ia akan bertemu Luna di semi final. Lucia menyombongkan diri setelah turun dari podium. Ia menatap Luna penuh benci.
Sesi ke tiga, Sarah menjadi wakil San Teresyia Bakti School. Namun sayang, langkahnya terhenti karena poinnya tak mencukupi untuk maju ke babak selanjutnya. Sesi ketiga dimenangkan oleh Rudi yang berasal dari SMA International School. Kepala SMA International School agak lega, pasalnya ada 1 perwakilan yang melaju ke babak semi final.
__ADS_1
Sesi empat, Andi menjadi wakil San Teresyia Bakti School. Sayangnya, Andi menyusul Sarah yang gagal pada babak penyisihan. Sesi keempat dimenangkan oleh Ciko, perwakilan dari SMA Jaya Warna.
Kepala sekolah San Teresyia Bakti school melotot tajam kearah Kharisma selaku mentor ketiga perwakilan yang diutus sekolah tersebut. Sangat disayangkan hanya Lucia yang maju ke babak selanjutnya. Luna tak dihitung walaupun ia maju ke babak selanjutnya karena Luna ikut lomba cerdas cermat tersebut dengan jalur mandiri yang tak membawa nama sekolah sama sekali.