Jatuh Cinta Padamu

Jatuh Cinta Padamu
Denia Menghilang


__ADS_3

"Salahku?" Ryan mengernyitkan dahinya. Ia duduk di sofa untuk meredam amarahnya.


"Iya salahmu," Denia memukul perutnya. Sontak saja Ryan mendengus kesal.


"Jangan kau lakukan itu, jika terjadi sesuatu dengan anakku, aku tidak segan-segan menuntutmu," Ryan mengeluarkan ancaman membuat Denia membeku.


"Aku lebih mencintai anakku ketimbang dirimu," Ryan memalingkan wajahnya dan pergi entah kemana.


"Mengapa bisa jadi seperti ini?" Denia menahan air matanya.


Denia membereskan barang-barangnya, ia ingin meninggalkan Ryan. Entah apa yang ada dipikiran Denia. Bisikan setan membuatnya berniat untuk meninggalkan Ryan suaminya.


Selang beberapa lama Denia sampai di rumah orang tuanya.


"Assalamualaikum Ma," Denia mengetuk pintu.


"Wa'alaikum salam, Denia." Ibu Denia terkejut. Denia langsung memeluk ibunya.


"Ma, aku ingin tinggal disini saja bersama Mama," Denia menangis dipelukan ibunya.


"Denia, kau sudah izin dengan Ryan?" ibu Denia melonggarkan pelukan. Denia menggelengkan kepala dan menyeka air matanya.


"Denia, kau tidak boleh tinggal disini sebelum dapat izin dari suamimu," ucap ibunya lembut.


"Ma, jadi Mama tidak suka aku tinggal disini?" Denia cemberut masam.


"Bukan begitu Nak, ayo masuk!" ibu Denia mengizinkan Denia masuk.


***


Ryan pulang jam 8 malam, ia masuk ke rumahnya. Alahkah terkejutnya Ryan ketika Denia tidak ada di rumah.


"Apakah dia mabuk lagi?"


Ryan bergumam pelan, ia masuk ke kamar Denia. Ia melihat barang-barang Denia tidak ada pada tempatnya.


"Astaga kemana dia?"


Ryan menjadi panik, ia langsung menyiapkan mobil. Berulang kali Ryan menelepon Denia tapi tidak diangkat, tidak putus asa, Ryan memelepon Denia. Namun bukannya diangkat malah nomor tersebut sudah tidak aktif lagi.


"Sial! Dia mau pergi dariku?"

__ADS_1


Ryan menyetir mobil, ia berniat untuk melaporkan Denia hilang pada orang tua Denia. Ryan tidak peduli lagi mau dimarahi orangtua Denia atau tidak yang terpenting Denia dapat ditemukan. Ryan melajukan mobilnya ke rumah orangtua Denia.


"Seharusnya aku tidak berkata seperti itu? Dia sedang hamil. Pasti dia sedikit sensitif." gumam Ryan.


Sesampainya di rumah orangtua Denia, Ryan menghela nafas panjang. Ia agak ragu untuk mengetuk pintu, bagaimana jika orangtua Denia marah padanya?


"Arghh! Aku suami payah! Jika orangtuanya marah padaku itu wajar. Aku tidak bisa mendidik anaknya dengan baik," Ryan meremas rambutnya.


Ryan menghembuskan nafas dalam, kemudian ia mengetuk pintu.


"Assalamualaikum," ucap Ryan agak takut.


"Walaikum salam, Ryan itu kau? Apakah kau mencari Denia?" tanya ibu Denia lembut.


Mengapa ibunya tahu aku datang untuk mencari Denia?


Ryan hanya diam saja, "Denia ada di dalam," ucap ibu Denia selanjutnya.


"Benar Ma, Denia ada di dalam?" tanya Ryan takut-takut.


"Iya, dia ada di kamarnya, kalau ada masalah bicarakan baik-baik ya Ryan. Istrimu sedang hamil jadi dia agak sensitif," ucap ibu Denia.


"Maafkan Ryan Ma," Ryan langsung memohon ampun.


Ryan tersenyum tipis pada ibu Denia, kemudian ia menuju kamar Denia. Ryan menarik daun pintu, kebetulan pintu tidak di kunci jadi Ryan dapat membukanya dengan mudah. Ryan membuka pintunya pelan, kemudian ia melihat Denia yang sedang menangis.


"Mengapa aku bisa hamil?" tanya Denia pada dirinya sendiri.


"Aku melihat Ryan dekat dengan wanita itu, iya aku akui aku cemburu padanya,"


Ternyata benar apa yang dikatakan Mita, ternyata kedekatanku dengan Mita membuatnya cemburu, batin Ryan.


"Laki-laki kaya seperti dia hanya menginginkan keturunan untuk melanjutkan usahanya. Dia sama sekali tidak menginginkanku,"


Denia terisak tangis, "Aku yakin dia akan mendekati banyak wanita," ujar Denia mengikuti sesuatu yang terlintas dipikirannya.


"Ehem, uhuk-uhuk."


Ryan berdehem dan pura-pura batuk


"Kau!" Denia menatap tajam pada Ryan. Denia berdiri menuju pintu agar ia dapat mengusir Ryan dan mengunci pintu rapat-rapat tapi Ryan sudah membaca situasi. Ryan lebih dulu menutup pintu.

__ADS_1


"Kau cemburu padaku?" tanya Ryan dengan menahan tawanya.


"Tidak!" Denia menjawab cepat.


"Tadi aku mendengarnya," Ryan duduk di pinggir ranjang dan menarik tangan Denia agar Denia duduk disebelahnya.


"Iya, aku cemburu kau dekat dengan wanita bernama Mita, kau memujinya, kau memuji masakannya," ujar Denia sebal.


"Jelas aku memujinya seperti itu,"


Denia mengerutkan bibirnya membuat Ryan tertawa.


"Kau!" Denia mengepal tangannya karena ditertawakan Ryan.


"Karena Mita adalah adikku," ujar Ryan santai.


"Tapi.. Tapi kau bilang dia karyawanmu?" tanya Denia gugup. Ia menahan malu.


"Iya dia karyawanku sekaligus adikku," ujar Ryan menjelaskan.


"Aku tidak percaya, kau berbohong padaku. Kau berkata begitu agar aku tidak marah karena kau ketahuan selingkuh kan?" Denia memalingkan wajahnya pada Ryan.


"Kalau kau tidak percaya aku akan mempertemukanmu dengan Mita dan Dilah juga. Agar Dilah menjelaskannya padamu. Bukankah Dilah sahabatmu?"


Denia berpikir sejenak, ia menahan malu telah sembarangan cemburu pada Ryan.


"Maafkan aku ya telah mengancam dan memarahimu tadi. Aku takut sekali kehilangan anak kita," ujar Ryan meminta maaf.


Denia tersenyum tipis, ia mengangguk pelan tanpa membuka suara.


"Mari kita tidur, besok aku akan membantumu untuk membereskan barang-barangmu. Kumohon jangan pernah lari dari hidupku."


Denia mengangguk patuh, kemudian Ryan dan Denia merebahkan tubuh di tempat tidur.


"Bolehkah aku memelukmu?" tanya Ryan dengan lembut.


"Aku sangat ingin memelukmu tapi... Aku takut sekali kau marah padaku," ucap Ryan selanjutnya.


"Iya," ucap Denia pelan.


Ryan memeluk Denia, "Kau boleh marah besok jika aku memelukmu terlalu lama," ucap Ryan, Denia terlihat menahan senyumnya.

__ADS_1


Mengapa memeluk Ryan jauh lebih nyaman dibandingkan memeluk boneka kesayanganku. Denia


__ADS_2