
Setelah usai makan Riki mengajak menantunya Ali ke teras rumah. Sedangkan Dilah, Ryan, Denia dan Dini duduk berbincang-bincang di depan televisi.
"Ali, usahakan malam ini!" suara Riki terdengar pelan tapi masih bisa didengar Ali.
"Iya Pa, doa kan," senyum Ali sambil mengangguk.
"Iya, papa akan mendoakannya," tersenyum berbinar. Semoga saja sebentar lagi ia mendapat cucu.
"Pa, sudah malam sebaiknya kami pulang," Ali tersenyum berpamitan pada Riki.
"Oh iya, jangan lupa ya malam ini, segerakan!" ucap Riki sambil tersenyum. Laki-laki paruh baya ini sudah tidak sabar menantikan cucu.
"Iya Pa," Ali berjalan menuju ruang keluarga untuk menemui istrinya.
"Sayang pulang yuk sudah malam!" tersenyum mengajak Dilah pulang.
"Iya," beranjak dari sofa.
"Ma, kami pulang ya," ucap Dilah dan Ali.
"Kami juga ingin pulang," ucap Ryan yang melihat jam sudah larut malam.
"Iya, hati-hati." Dini mengikuti kedua pasangan tersebut sampai depan rumah.
"Assalamualaikum," ucap salam mereka sambil mencium tangan Riki dan Dini secara bergantian.
"Wa'alaikum salam," jawab Dini dan Riki serentak.
Setelah Dilah, Ryan, Ali dan Denia pulang. Dini dan Riki masuk ke dalam rumah dan duduk bersantai
"Sebentar lagi kita akan punya cucu." ucap Riki berbinar.
"Benarkah? aku sudah tidak sabar." senyum Dini berbinar.
"Doa kan Ali dan Dilah malam ini," ucap Riki sambil mengganti siaran televisi.
"Iya,"
semoga saja berhasil.
***
Sesampainya di rumah, Dilah dan Ali menuju kamar. Dilah berbaring miring sambil mengetik sesuatu di ponselnya. Setelah selesai alahkah terkejutnya ia ketika melihat suaminya yang tak pakai baju.
"Sayang ini sudah malam, pakai bajumu!" perintah Dilah dengan perasaan sesuatu yang mengganjal.
"Tidak apa," tersenyum dan mendekati istrinya.
"Sayang, kamar ini dingin ayo pakai baju!" perintah istrinya agar tak terjadi sesuatu malam ini.
__ADS_1
"Kita akan menghangatkan diri bersama," semakin mendekat dan mencium bibir istrinya.
"Sayang!" memalingkan wajah.
"Tidak mau ya? Ya sudah." Ali duduk ditepi tempat tidur dengan wajah kesal.
Bukannya dulu dia yang ngajak diluan, mengapa sekarang jadi seperti ini?
"Sebentar saja ya, aku ngantuk." ucap istrinya sambil memeluk dari belakang.
"Baiklah," melakukan apapun yang mereka suka.
1 Jam Kemudian
"Baru begitu saja sudah tidur, dasar lemah!" gumam Ali pelan sambil melihat istrinya yang ingin tidur.
degh! Dilah tak bisa dibilang lemah. "Apa katamu? aku lemah." Dilah seketika membuka matanya lebar-lebar dan menatap Ali dengan tajam.
"Ayo kita lakukan sekali lagi!" ujar Dilah sambil menarik tangan Ali.
Melakukan sekali lagi?
Ali menelan ludah, kata-kata istrinya tadi akan membunuhnya malam ini. Dan terjadilah sekali lagi, bukan-bukan maksudnya berulang kali.
Pagi hari tepatnya pukul 5 pagi Ali meraba tempat tidur dan tidak mendapati istrinya disampingnya.
Mungkin dia sudah bangun. Ali
"Ya ampun. Cakaran, gigitan, merah-merah.
Haaa.., mengapa dia buas sekali?"
Ali turun tangga dengan perasaan kesal ia meletakkan baju dibahunya dan melihat istrinya sedang membersihkan meja makan.
"Kenapa bisa jadi seperti ini? Kamu wanita atau singa sih?" tanya Ali kesal sambil menunjuk satu-satu bekas aneh ditubuhnya.
"Jadi siapa sekarang yang lemah?" ucap Dilah angkuh sambil melipat tangan dan tersenyum lembut bak sutra.
"Aku mau mandi," mengalihkan pembicaraan, kali ini ia kalah lagi, kalau terus membahas tentang tadi malam ia akan malu sendiri.
"Arah kamar mandi ke sana," tunjuk Dilah dengan ekor matanya arah kamar mandi yang sebenarnya sambil menutupi mulutnya dengan tangan. Gelagat Ali membuat ia ingin tertawa terbahak-bahak.
"Iya, aku tahu." beranjak menuju arah yang benar.
"Buahaaa," tawa Dilah sangat keras, ia tak bisa menahan tawanya.
Setelah itu, Dilah mempersiapkan untuk sarapan suaminya dan bekal makanan.
"Sayang sudah salat?" tanya Dilah tersenyum tapi masih tertawa kecil mengingat hal tadi.
__ADS_1
"Sudah," jawab Ali cepat dan duduk.
Dilah mengambil makanan untuk Ali. "Segini cukup?" tanyanya takut berlebihan.
"Iya cukup," ucap Ali ketus. Kemudian Dilah memberikan piring yang berisi makanan tadi pada Ali.
Dilah melirik suaminya yang makan, wajah Ali terlihat cemberut masam saat makan. Karena mengingat hal tadi, Dilah masih tertawa kecil.
"Kenapa tertawa?" tanya Ali dingin.
"Tidak ada," menggelengkan kepala.
Setelah selesai makan dan memeriksa barang-barang yang dibawa sudah lengkap dan tidak ada yang ketinggalan. Ali menghantar istrinya ke kantor. Setelah sampai kantor Dilah mencium pipi Ali lembut dan mengatakan. "Jangan marah lagi ya!" senyum Dilah kemudian mencium tangan Ali dan melambaikan tangan. Ali hanya mengangguk dan menuju SMA San Teresyia Bakti School.
"Aduh bagaimana ini, ada bekas gigitan dileher. Memangnya aku makanan apa sampai digigit seperti ini?" gumam Ali kesal sambil melihat lehernya dicermin kecil.
Ali memarkirkan mobil tersebut di parkiran sekolah dan masih melihat bekas-bekas aneh dilehernya.
"Untung saja aku mata-mata. Jadi aku tahu cara menghilangkan ini. Ada krim menyamarkan kulit rahasia yang hanya diketahui oleh mata-mata saja." ujar Ali sambil mengoles krim tersebut dilehernya.
Lihat nanti sayang aku akan membalasmu. senyum misterius Ali.
Jam pelajaran dimulai, Ali masuk di kelas 10 dan mulai mengajar seperti biasanya.
***
Di ruangan Dilah, ia tersenyum karena mengingat kejadian pagi tadi. Terdengar pintu ruangan Dilah diketuk.
"Iya masuk, tidak dikunci." sahut Dilah dari dalam.
"Nona, Mita sudah membaik apakah dia boleh masuk kerja hari ini?" tanya Vio.
"Jika dia kuat untuk bekerja tidak menjadi masalah jika dia masuk kerja tapi kalau belum jangan izinkan." ucap Dilah.
"Baik Nona, ia sudah membaik dan terlihat bersemangat pagi ini," ujar Vio menjelaskan.
"Iya, kembalilah bekerja" ucap Dilah sambil menandatangai surat.
"Baik Nona," tunduk Vio dan keluar ruangan.
Mengapa Mita mirip sekali dengan kak Ryan ya? Aku lupa bertanya tentang Mita kepada Papa dan Mama. batin Dilah.
Jam istirahat kantor, Dilah makan bersama Cikha dan Lusi di kantin sambil berbincang-bincang hangat. Semenjak menikah, Dilah mulai terlihat baik dan tidak angkuh seperti dulu. Sekarang ia benar-benar mau berbaur dengan karyawan biasa.
Jam kantor dimulai, karena kerjaan sudah selesai. Dilah berniat untuk ke rumah sakit dan mendonasikan uangnya sebesar 1 miliar untuk anak-anak yang mengidap kanker dan penyakit serius lainnya. Tak lupa ia membeli berbagai mainan, balon dan boneka lucu untuk mengibur anak-anak yang berjuang melawan penyakitnya. Setelah dari rumah sakit Dilah ingin balik ke kantor tapi ia melihat Heni teman lamanya.
"Eh Heni," ucap Dilah yang melihat Heni
"Dilah, itu kamu?" tanya Heni tersenyum dan segera memeluk Dilah.
__ADS_1
"Apa kabar?" tanya Dilah melepasksn pelukan.
"Baik," tersenyum.