Jatuh Cinta Padamu

Jatuh Cinta Padamu
Demam


__ADS_3

"Dilah, bisa kita cari tempat yang enak untuk mengobrol." ucap Heni dengan raut wajah sedih.


"Baiklah,"


Mereka menuju sebuah cafe tak jauh dari lokasi tadi dan memesan makanan beserta minuman.


"Kau harus berhati-hati dengan Amel," ujar Heni mengejutkan, kenapa ia tiba-tiba berkata begitu.


"Kenapa?" Dilah mendelik, ia benar-benar bingung mengapa Heni berkata demikian.


"Dia mengambil tunanganku Erick, hiks, hiks, hiks." sedih Heni kemudian Dilah mengusap usap punggunnya untuk menghilang kesedihan.


"Apa dia seperti itu?" tanya Dilah yang mulai penasaran.


"Iya, aku tak berbohong. Setelah acara reuni itu hubungan kami renggang dan ternyata Amel dibalik hancurnya hubungan kami." ucap Heni tersedu-sedu.


"Heni, yang sabar mungkin Tuhan menunjukkan sikap asli Erick sebelum kalian menikah."


"Iya benar, Tuhan masih berbaik hati padaku." senyum Heni sambil menyeka air matanya.


"Oh, ya. Bagaimana hubunganmu dengan Ali? Bukankah kalian tak saling mencintai. Mengapa tak berpisah saja?" ucap Heni dengan ringannya.


"Hmm, bagaimana ya?" Dilah juga malu untuk mengakui kalau sebenarnya ia telah jatuh cinta.


Heni tersenyum misterius menatap Dilah yang tengah bingung untuk menjelaskan tentang hubungannya dengan Ali.


"Atau jangan-jangan..." Heni menggantungkan kalimatnya.


"Hahaha, tak mungkin kau jatuh cinta dengan Ali."


"Huh!" Dilah menghela nafas lega.


"Aku tahu dirimu, dalam sejarah hidupmu kau tak pernah jatuh cinta walaupun telah menjalin kasih selama bertahun-tahun."


Dilah hanya terdiam apa yang dikatakan Heni memang benar adanya. Ia dulu tak mencintai siapapun walau ia menjalin hubungan dengan pria sampai bertahun-tahun. Contoh kecilnya adalah Danial, ia sudah berpacaran hampir dua tahun tapi tak memiliki rasa apapun pada Danial.


"Hahaha, Dilah aku melihat Ali bersama seseorang di taman waktu itu." ucap Heni, sepertinya kesedihan Heni menghilang sejak ia menanyakan hubungan Dilah dan Ali.


"Wanita atau pria?" ucap Dilah ketus, ia benar-benar dimakan api cemburu.


"Hahaha, lihat wajahmu Dilah. Kau sepertinya cemburu pada suamimu." tawa kecil Heni.

__ADS_1


"Jangan perhatikan wajahku, cepat jawab pertanyaanku!" ucap Dilah yang dimakan api cemburu.


"Huh, sayangnya dia seorang pria yang berkulit agak kecoklatan dengan tubuh tegap dan tinggi." ujar Heni sambil menggit bibir untuk menyembunyikan tawanya.


"Itu pasti Yanto, Fina pernah mengirim foto pacar terpaksanya itu padaku," ujar Dilah yang cemberut, sebenarnya ia ingin marah pada Heni karena telah membuatnya cemburu.


Heni melihat jam di tangannya. Ia lupa kalau ada janji dengan seseorang.


"Dilah, aku harus segera pergi. Intinya berhati-hatilah dengan Amel. Oh ya suamimu makin lama semakin tampan." ucap Heni menggoda Dilah, agar Dilah membuka matanya lebar-lebar kepada Ali.


"Iya, jangan dekati suamiku. Ku peringkatkan padamu!" ucap Dilah ketus.


"Tidak akan, aku bukan orang yang suka merebut milik orang lain." Heni berangkat dan melambaikan tangan pada Dilah sahabatnya.


Dilah langsung ke kantor. setelah sampai kantor, tubuhnya merasa lelah sekali. Ia merasa pusing dan terasa sangat dingin padahal hari sedang panas-panasnya.


"Apa ini karena kegiatan tadi malam yang menguras energi?" gumam Dilah memegangi kepalanya.


Dilah memanggil karyawannya untuk membawa secangkir teh hangat padanya. Setelah meminumnya ia agak mendingan.


"Sepertinya aku demam," gumam Dilah sambil membereskan barang karena ia hendak pulang ke rumah.


Ali sudah berada di depan kantor, ia berdiri sambil melihat kearah pintu menunggu Dilah keluar. Dilah keluar dengan berlari kecil untuk mendekati Ali. Ia menempelkan tangan Ali di pipi, leher, dan keningnya agar Ali tahu suhu tubuhnya.


Dilah memelas, rasanya ia tak berdaya dengan segera Ali membuka pintu dan Dilah masuk ke mobil kemudian disusul Ali yang menyetir mobil.


Apakah sebenarnya aku pemenang dalam kegitan tadi malam? Batin Ali menahan senyum. Ia melihat Dilah yang lemas kemudian ia segera membawanya ke dokter.


"Kita akan ke rumah sakit." ucap Ali sambil menyetir.


"Hem, hem," Dilah mengangguk tanda setuju.


Akhirnya mereka sampai di sebuah rumah sakit.


Dokter memeriksakan Dilah dan mengatakan. "Istri Anda hanya kelelahan dan kurang tidur." ucapnya tersenyum sambil mengambil jarum suntik.


Dilah melotot takut kemudian iamemeluk Ali dengan erat.


"Nona, sebaiknya Nona disuntik vitamin." ucap dokter tersebut, namun Dilah menggelengkan kepala dan memeluk Ali semakin erat.


"Sayang tidak apa-apa, setelah disuntik kamu akan lebih baik." ucap Ali sambil mengecup kening Dilah yang memeluknya erat.

__ADS_1


"Iya Nona, rasanya seperti gigitan semut." ujar dokter tersebut agar Dilah tak merasa takut.


Dilah menggelengkan kepalanya dan memeluk Ali semakin erat. Ali melepaskan pelukan istrinya dan mengatakan.


"Dokter, suntik saja istri saya agar dia cepat sembuh!" ucap Ali tersenyum misterius. Dilah menggeleng takut.


"Sepertinya istri Anda tak ingin disuntik. Baiklah saya akan memberi obat dan vitamin agar dia cepat sehat kembali." ujar dokter tersebut memberikan solusi.


***


Setelah salat ashar, Dilah berbaring di tempat tidur dengan selimut yang tebal untuk menutupi tubuhnya agar tak terasa dingin. Sedangkan Ali membuatkan bubur hangat untuk istrinya.


"Sayang makan bubur ini!" Ali menyuapi Dilah dengan lembut. Bubur itu masuk ketenggorokannya. satu, dua, tiga suap bubur masuk ke dalam tenggorokannya, kemudian Dilah menyudahi makannya. Ali memberikan obat pada Dilah dengan segera Dilah meminun obat tersebut. Ali begitu perhatian pada istrinya yang sedang sakit. Ia tersenyum melihat istrinya yang sudah memejamkan mata.


Setelah salat isya Dilah kembali harus makan bubur agar perutnya terisi. Ali menyuapi Dilah dengan lembut.


Ya Tuhan terima kasih atas jodoh yang kau berikan kepadamu. Batin Dilah sambil tersenyum


"Sayang segeralah tidur!" senyum Ali dan menyelimuti istrinya.


"Iya, maaf soal yang tadi malam." ujarnya memelas.


"Tidak apa." Ali tersenyum dan menuju televisi untuk menonton.


***


Pagi ini Dilah tak diizinkan masuk ke kantor. Ali tetap bekerja dan menyuruh pembantunya Bu Susi untuk merawat istrinya dengan baik. Bu Susi membuatkan bubur untuk sarapan. Namun rasanya sungguh berbeda dengan buatan Ali tapi tak mungkin ia tak memakannya karena itu akan menyakitkan Bu susi yang sudah bersusah payah untuk memasaknya.


Seandainya Ali yang merawat, pasti akan lebih menyenangkan. Batin Dilah


Bukan Ali tak ingin merawat, ia harus mengajar di sekolah sebagai kewajibannya.


Jam 3 sore, waktunya sekolah SMA San Teresyia pulang. Ali bergegas ke rumah. Hatinya tak tenang meninggalkan istrinya di rumah. Setelah Ali sampai di rumah, Bu Susi pamit dan diberi imbalan atas jasanya.


"Sayang, apakah kamu sudah membaik?" tanya Ali kemudian ia mengecup kening istrinya.


"Sudah, besok mungkin aku sudah bisa masuk kantor." ujarnya yang tak betah di rumah. Dilah wanita pekerja keras jika tak bekerja rasanya ada yang kurang dalam hidupnya.


"Jangan memaksakan diri!" ujar Ali yang ditanggapi cemberut masam.


"Sayang cium," ucap Dilah tersenyum.

__ADS_1


"Di sebelah mana?" tanya Ali.


"Ini!" sambil mengetuk bibirnya dengan jari tekunjuk.


__ADS_2