
"Sudah saatnya kita mengatur strategi," ucap Amel geram.
"Strategi?" tanya Reno.
"Iya, strategi untuk memisahkan Dilah dan Ali," ucap Amel dengan licik.
"Mengapa kau semangat sekali ingin memisahkan mereka?" tanya Danial yang juga ada disitu.
"Jangan bilang kau mencintai Ali," ucap Rene sambil mengernyitkan dahi.
"Iya, aku jatuh cinta padanya," ucap Amel mengakui tentang cintanya.
"Sudah kuduga," ucap Danial tak suka.
"Aku punya cara agar Ali dan Dilah berpisah." ucap Danial selanjutnya.
"Apa?" tanya Amel antusias.
"Fitnah, kau fitnah Ali berselingkuh dengan seseorang. Dulu Dilah memutuskanku karena aku selingkuh dengan Soya," ucap Danial memberikan arahan.
"Wow... Aku sudah memikirkan caranya," Amel tersenyum iblis.
***
"Pak, apakah Bapak benar-benar ingin mengundurkan diri di sekolah SMA San Teresyia Bakti School?" tanya kepala sekolah.
"Benar Pak, lagi pula Pak Iman sudah selesai tugas."
"Pak, saya berharap Anda tetap menjadi guru disini," ucap kepala sekolah memelas pada Ali.
"Maaf Pak, Bapak sendiri yang menginginkan saya untuk cepat keluar dari sekolah setelah Pak Iman pulang dari tugasnya," jelas Ali.
"Maaf Pak, saya akan memperkerjakan Bapak lagi. Kemampuan Bapak luar biasa," ucap kepala sekolah memuji.
__ADS_1
"Maaf Pak, saya tidak bisa. Permisi!" Ali keluar dari ruangan kepala sekolah.
Ali mengendarai mobil ingin pulang ke rumah.
"Assalamualaikum !" panggil Ali pada istrinya.
"Wa'alaikum salam, kamu sudah pulang?" tanya Dilah sambil duduk di samping Ali.
"Sudah Sayang,"
"Ada yang ingin aku tanyakan," ucap Dilah terdengar serius.
"Apa?" Ali menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan Dilah.
"Aku ingin kamu yang mengurus perusahaanku," Dilah menatap Ali dengan dalam.
Aduh, bagaimana ini? Apakah aku harus mengundurkan diri dari pekerjaanku sebagai mata-mata?
***
Huek!
Denia memuntahkan isi perutnya, "Aku mengapa mual sekali?" gumam Denia ia kembali muntah.
"Apakah aku salah makan?" tanya Denia pada dirinya sendiri.
Denia muntah kembali, ia menjadi pucat. "Satu-satunya yang dapat membantuku adalah Ryan," Denia langsung menelepon Ryan.
"Halo Ryan," ucap Denia.
"Iya ada apa?" Ryan semakin heran tidak biasanya Denia menelepon dirinya.
"Bisakah kau pulang ke rumah?" Denia mual ia kembali ke wastafel untuk memuntahkan isi perutnya. Ryan yang mendengar Denia muntah menjadi tambah khawatir.
__ADS_1
"Aku akan pulang ke rumah," ucap Ryan, ia langsung bersiap-siap.
Ryan membawa mobil dengan cepat, ia takut terjadi sesuatu pada istrinya.
"Kau sakit?" tanya Ryan sambil menempelkan telapak tangannya di dahi Denia.
"Aku mual dan sering muntah belakangan ini," keluh Denia.
"Baiklah kita ke dokter sekarang,"
Ryan menuntun Denia ke mobil, setelah Denia masuk ke mobil. ia masuk ke mobil dari pintu yang lain dan mulai menyetir.
"Kau terlihat pucat Denia," ucap Ryan ketika ia melihat sekilas kearah Denia.
"Iya, sepertinya aku sakit,"
Sesampainya di rumah sakit, Denia langsung diperiksa oleh dokter.
"Istri Bapak baik-baik saja, dia hanya kelelahan. Selamat ya Pak istri Bapak hamil," ucap dokter tersebut dengan senyumannya.
Denia melotot, ia menggenggam tangannya erat.
"Itu benar kan Dok?" tanya Ryan memastikan.
"Benar Pak, saya akan memberikan vitamin untuk istri Bapak," ucap Dokter tersebut.
Setelah urusan mereka di rumah sakit, Denia dan Ryan langsung pulang ke rumah.
"Aku tidak mau hamil," ucap Denia dengan kesal.
"Kau kenapa, kau seharusnya bersyukur sebentar lagi kau akan punya anak," ucap Ryan lembut, ia tidak habis pikir mengapa Denia berkata demikian.
"Aku tidak mau punya anak darimu, ini semua salahmu! Salahmu!" bentak Denia
__ADS_1