Jatuh Cinta Padamu

Jatuh Cinta Padamu
Amerika Serikat


__ADS_3

2 minggu kemudian, Ali sudah sampai di Amerika serikat. Ali tinggal di kota super sibuk yaitu New York. Mata Ali berkeliling melihat lalu lalang orang yang sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Ali dan Heru mencari hotel terdekat.


"Aku rindu sekali dengan kalian berdua, sampai sekarang Dilah tak pernah menghubungiku dan berusaha mencariku, apakah dia sudah tidak mencintaiku?" gumam Ali sambil menatap jendela hotel.


Disisi lain Dilah direpotkan dengan putra semata wayangnya. Sekarang Dilah tidak mengurus perusahaan seperti dulu. Ia meminta Vio dan Ikhsan untuk bekerja sama dalam mengurus perusahaannya. Ia bersikeras ingin membesarkan putranya sendiri tanpa bantuan pengasuh bayi.


Dilah sudah terlihat rapi dengan pakaiannya. Ia berniat untuk keluar malam ini. Lagi pula Franz sudah tertidur pulas.


"Kau mau kemana Sayang?" tanya Dini melihat Dilah dari atas sampai bawah.


"Mau keluar Ma, aku bosan sekali di rumah," Dilah hendak melangkah walaupun Dini belum mengizinkan.


"Kau mau mengulangi kesalahanmu?"


Dilah terkejut melihat Riki yang tiba-tiba muncul.


"Pa, aku bosan sekali di rumah. Aku ingin melupakan semuanya yang terjadi padaku," Dilah menjelaskan alasannya untuk keluar.


"Apa mantanmu itu yang mengajakmu keluar?" Riki sudah menebak siapa orang yang ingin mengajak putrinya keluar.


"Pa! Aku ini sudah dewasa, aku bisa menjaga diriku. Lagi pula dia hanya sekedar mantan pacar Pa!" Dilah berusaha agar diizinkan keluar rumah.


"Papa tidak mau kau pergi dengannya," Riki menahan marah. Namun, Dilah tidak menghiraukannya.


"Ma, jaga Franz ya," ucap Dilah mencium punggung tangan Dini.


Franz yang tidur tiba-tiba menangis sangat keras, membuat Dilah tidak jadi keluar. Dilah ke kamar untuk melihat Franz diikuti dengan Dini dan Riki.


"Bahkan putramu tidak mengizinkanmu untuk keluar," ucap Riki dengan amarahnya kemudian ia keluar dari kamar putrinya.


"Sayang sebaiknya kau dirumah. Kasihan Franz sendirian, seandainya ada Ali disini pasti Franz tidak kesepian," Dini membuat Dilah mengingat Ali. Mata Dilah memerah, ia berusaha menahan air matanya.


"Ma, kumohon jangan bahas laki-laki jahat itu,"


"Baiklah mama tidak akan membahasnya," Dini menghembuskan nafas pelan lalu keluar dari kamar putrinya.


Dilah mengambil Franz dari box bayi. Ia menimang Franz agar berhenti menangis. Telepon seluler Dilah berbunyi. Ia meletakkan Franz di box bayi sambil membelai wajah Franz lembut.

__ADS_1


"Halo! Halo Dilah," suara dari balik telepon.


"Iya Danial, maaf aku tidak bisa pergi hari ini. Franz menangis, ia membutuhkanku sekarang,"


Kurang ajar bayi itu, beraninya dia menjadi penghalangku untuk mendekati ibunya.


"Halo Danial!" Dilah memanggil Danial kembali karena Danial tidak merespon ucapannya.


"Eh.. Iya tidak apa-apa Dilah, ya sudah jagalah Franz dengan baik,"


"Sekali lagi aku minta maaf," Dilah menutup telepon.


Aku yakin bayi itu sama seperti ayahnya. Bagaimana cara agar aku menyingkirkannya? Batin Danial.


Dilah mengambil Franz dari box bayi. Ia menimang Franz sambil bersenandung. Franz berhenti menangis, ia malah tersenyum ceria.


Melihat Franz tersenyum ceria dan terlihat imut membuat Dilah tak sabar ingin mencium putranya.


"Sayang kamu manis sekali," ucap Dilah sambil menciumi pipi putranya.


"Kamu senang mama dirumah ya?" Franz tersenyum manis membuat Dilah semakin geram dan mencium Franz lagi.


"Bisa, kau berada dimana sekarang?" Riki melihat asing dengan latar dimana Ali berada.


"New York Pa, Ali ada misi penting,"


"Ya sudah, Papa akan ke kamar istrimu,"


Riki menuju kamar putrinya. Ia mengambil Franz dari gendongan Dilah.


"Franz lihat Papamu," Riki menunjukkan ponselnya. Ali berbinar melihat Franz yang begitu mengemaskan.


"Hei jagoan Papa, Papa merindukanmu dan mamamu juga," Ali meneteskan air mata kerinduannya.


Dilah ingin sekali mengambil ponsel ayahnya dan mengatakan bahwa dia juga merindukan suamimya itu, tapi.. Tapi.. itu tidak mungkin terjadi. Kesalahan Ali membuat dirinya menahan tindakannya itu. Seandainya Dilah tahu bahwa waktu itu Ali dijebak pasti tidak seperti ini ceritanya dan seandainya Dilah tidak keras kepala mungkin ia akan berkumpul bersama suaminya.


Ali banyak bercerita pada putranya. Rasa rindunya, rasa sayangnya. Semua ia ceritakan pada putranya.

__ADS_1


***


Mengapa belakangan ini aku tidak bertemu dengan Ali? Amel bertanya-tanya pada hatinya.


Amel melihat Yanto sedang berjalan santai. Kebetulan hari ini adalah hari minggu jadi Yanto berolahraga.


"Yanto!" panggil Amel.


Yanto menoleh kebelakang melihat Amel berlari kecil kearahnya.


"Ada apa Amel?" tanya Yanto heran. Tidak biasanya Amel mengajak bicara padanya.


"Ali kemana? Sudah lama aku tidak bertemu dengannya."


Ah! Kesempatan bagus, ini saatnya aku mengatakan rencana Ali.


"Ali keluar negeri, setelah Dilah mengusirnya. Dia benar-benar pergi, dan dia pergi keluar negeri," ujar Yanto membuat Amel sesak.


"Ke negara mana dia?" Amel berniat ingin menyusul Ali.


"Entah! Dia tidak memberitahuku, dia ingin menenangkan pikiran makanya dia pergi keluar negeri. Sepertinya dia tidak ingin diganggu siapapun,"


Amel menjadi lunglai. Amel memegang kepalanya yang mendadak pusing. Yanto meninggalkan Amel dan lanjut berjalan santai


"Ini tidak adil! Mengapa kau meninggalkanku Ali?" Amel berteriak dan menangis haru.


Amel mendatangi Danial dan Reno. Ia menceritakan semua tentang kepergian Ali.


Danial malah tertawa puas, berarti kesempatan untuk mendapatkan Dilah Wiranata terbuka lebar.


"Ini tidak adil! Kau bisa mendapatkan Dilah dengan mudah sedangkan aku. Aku, aku ditinggalkan olehnya begitu saja,"


"Sudahlah Amel, kau tidak perlu bersedih. Masih banyak laki-laki diluar sana," Danial tertawa puas sambil menepuk pundak Amel.


"Iya, tapi tidak ada laki-laki seperti Ali!" teriak Amel murka.


Amel meninggalkan Reno dan Danial. Reno dan Danial tertawa puas sampai mengudara. Entah karena mereka merasa menang dari Ali atau mentertawakan kesialan Amel karena usaha Amel sia-sia. Entahlah yang jelas mereka tertawa sangat bahagia. Kakak dan adik itu sangat bahagia hari ini.

__ADS_1


Kalian tertawa sebahagia itu, aku akan mengatakan pada Dilah kebenarannya, batin Amel.


__ADS_2