
"Benarkah dia mirip denganku?" Dilah tersenyum simpul. "Tapi sebenarnya aku ingin dia mirip dengan ayahnya." Eldo membeku. Jantungnya berdebar. Ingin sekali ia berkata sejujurnya tapi Ia terdiam karena kebohongan Ali barusan.
"Tak semua keinginan itu terwujud, bukan?" tanya Ali sambil melirik tak senang pada Eldo.
"Iya Ali, kau benar. Tak semua keinginan dapat terwujud." Dilah tersenyum lembut.
Suasana penuh senang tiba-tiba berubah menjadi mengerikan ketika Menir datang membawa putra pertamanya dan menantunya.
"Eldo, istrimu sudah melahirkan. Cepat ceraikan dia!" perintah Menir bersikeras.
"Pa, Papa ini apa-apaan sih?" Eldo mengernyitkan dahinya.
"Eldo istrimu ini tidak berguna. Dia tak bisa melihat mana mungkin dia bisa mengurus anakmu. Sudahlah ceraikan dia dan cari penggantinya agar dapat mengurus anakmu."
"Benar kata Papa Eldo. Istrimu tak cocok menjadi menantu keluarga Wijaya. Lihat dia buta. Keluarga Wijaya itu keluarga yang sempurna. Tak boleh orang-orang yang memiliki kekurangan masuk di keluarga Wijaya." Laurah menambahkan.
__ADS_1
"Benar kata Laura. Papa malu punya menantu seperti dia," ucap Menir selanjutnya.
"Aku tidak mau. Aku sudah dewasa aku berhak memilih pendampingku. Papa tidak boleh memisahkan kami." Eldo memegang tangan istrinya. Menunjukkan pada sang papa bahwa ia sangat mencintai istrinya itu.
"Baik, kau tak mau mendengarkan kata Papa. Mulai sekarang kau bukan putraku dan putramu bukan cucu Papa. Papa tidak mau punya cucu dari wanita buta." Menir pergi dengan dongkol ia tak dapat membujuk putranya untuk mengikuti keinginannya.
"Lihat bagaimana keluargamu memperlakukan sahabatku?" Ali menggeram kesal ingin sekali ia memukul Eldo karena ulah ayahnya Eldo yang perkataannya sangat menyakitkan.
"Ali, cukup! Kau jangan ikut campur!" Eldo gemetaran dengan mengacungkan jari telunjuknya kearah Ali. Eldo mengalihkan pandangannya dari Ali ke istrinya. Eldo melihat istrinya menangis.
"Jangan menangis, kumohon. Apapun yang terjadi aku selalu ada untukmu." Eldo mencium kening istrinya.
"Eldo, benar apa yang dikatakan ayahmu dan Laura. Aku tak berguna untukmu. Pergilah dan turuti permintaan ayahmu."
"Tapi..." Eldo menggelengkan kepalanya. Ia menempelkan tangan istrinya di pipinya itu.
__ADS_1
"Jangan jadi anak durhaka. Benar apa yang dikatakan ayahmu. Dalam keadaan buta seperti ini aku tidak bisa mengurus anak kita. Aku ikhlas kamu menikah lagi." Saran sang istri.
Sebenarnya aku tak rela berbagi. Tapi demi putraku aku siap menerimanya. Aku tak berguna. Aku tak bisa mengurus putraku dengan keadaan buta seperti ini. Dilah membatin.
"Tapi aku mencintaimu aku tidak bisa menikah lagi dengan orang lain." Eldo menolak.
"Eldo, dengarkan kata Papa. Aku tidak mau kau dan putraku tidak diterima oleh keluargamu karena diriku. Aku ikhlas, Eldo. Aku ikhlas!"
Akhirnya Eldo menyetujui kemauan ayahnya karena permintaan sang istri. Tapi sejujurnya ia tak menginginkan hal ini.
Eldo bertemu wanita cantik yang akan dijodohkan dengan dirinya. Ternyata wanita tersebut adalah Fina mantan kekasihnya dulu. Eldo semakin meradang. Rasa sakit yang dibuat Fina masih membekas. Namun kini ia harus menikah dengan Fina. Wanita pilihan ayahnya.
"Memangnya tidak ada wanita lain, Ayah?" tanya Eldo kesal.
"Dia wanita yang cocok untukmu. Dia artis terkenal dan kaya. Lagi pula dia setuju dijodohkan denganmu. Ingat Eldo, cuma dia yang mau dijadikan istri kedua."
__ADS_1
Ya Tuhan, ujian apa lagi kali ini. Aku tahu. Aku tahu betul Fina membenci Dilah. Aku takut terjadi sesuatu pada Dilah setelah aku menikahi Fina.