
"Vino, kamu mau tidak ke rumah Pak Ali?" tanya Luna untuk mengajak Vino.
Mana mungkin aku menolak ajakanmu, Luna. Batin Vino berdebar.
"Ba, baiklah, aku mau." ucap Vino gugup.
Setelah bel pulang, Luna dan Vino langsung ke rumah Ali. Mudah sekali menemukan rumah Ali, karena banyak yang mengetahuinya.
"Assalamualaikum," ucap salam Luna dan Vino.
"Wa'alaikum salam," jawab Ali dan membukakan pintu.
"Luna, Vino. Ada apa ke sini?" tanya Ali heran karena mereka belum berganti pakaian. Mereka masih mengenakan seragam sekolah.
Dilah mendengar suaminya menyebut Luna ia langsung mendekat. Ia ingin tahu seperti apa wajah Luna yang jatuh cinta pada suaminya.
"Pak, lomba cerdas cermat sebentar lagi di mulai, aku rasa Bapak harus mengajariku lebih banyak lagi." ucap Luna mencari alasan agar bisa bertemu Ali. Guru yang menjadi pujaan hatinya.
"Oh begitu rupanya, ayo masuk dulu!" Ali mempersihlahkan Luna dan Vino masuk.
"Bapak kenapa tidak masuk sekolah?" tanya Vino polos.
"Bapak tidak terlihat sakit," Vino mengamati wajah Ali yang baik-baik saja. Ali terlihat sehat dan bugar di mata Vino.
"Bapak tidak masuk ke sekolah karena menemani istri Bapak ke dokter," ucap Ali menjelaskan.
"Istri Bapak sakit apa?" tanya Vino penasaran.
"Istri Bapak hamil," ucap Ali tersenyum senang. Luna terkejut mendengar perkataan Ali. Kini tidak ada kesempatan lagi untuknya. Ia sadar sekarang bahwa Ali bukan miliknya.
"Wah, selamat ya Pak," ucap Vino berbinar senang. Kemudian ia menyenggol Luna yang ada disebelahnya, "ucapkan selamat!" ujar Vino berbisik pada Luna.
"Selamat ya Pak!" Luna terpaksa tersenyum.
Dilah membawa minuman untuk ke dua remaja tersebut. Ia menatap sinis kepada Luna. Luna seperti musuh baginya. Luna yang di tatap sinis, langsung merasa risih. Namun, ia tak mempedulikannya lagi. Setelah minum teh. Luna dan Vino belajar di dampingi Ali. Ali memberikan ilmu dan tips untuk menang di lomba cerdas cermat nantinya. Walaupun Vino tak ikut lomba ia semangat sekali belajarnya. Tentu saja ia semangat, itu semua karena Luna yang berada di sampingnya.
Jam 5 sore, Ali menghantar mereka berdua pulang. Karena Ali tahu mereka tak izin sama orangtua mereka. Untuk itu, Ali menghantar mereka pulang dan menjelaskan pada orangtua Luna dan Vino. Ali tahu itu, karena mereka ke rumah Ali tanpa mengganti pakaian dahulu. Setelah menghantar ke dua remaja tersebut, Ali pulang langsung pulang ke rumah.
"Sayang!" panggil Ali kepada istrinya.
"Apa!" ucap Dilah ketus, semenjak hamil ia lebih sensitif dari sebelumnya.
"Kamu cemburu ya?" tanya Ali meledek istrinya. Ali tahu sejak tadi Dilah kesal melihat Luna datang ke rumahnya.
"Tidak!" ucap Dilah cepat.
"Aku mau mandi, kamu mau ikut?" tanya Ali dengan tersenyum menggoda dan memegang pergelangan tangannya.
__ADS_1
"Tidak," ucap Dilah cepat.
"Ayo lah sekali-sekali," Padahal mereka sudah sering kali melakukannya.
***
Pagi hari yang indah, Ali bangun lebih dulu dari istrinya. Ia mengecup kening istrinya. Istrinya hanya menggeliat. Ali menjadi gemas dan mencium bagian yang lainnya.
Setelah Dilah bangun mereka menunaikan ibadah salat subuh seperti biasanya.
"Sayang!" panggil Dilah pada suaminya.
"Iya," Ali mendekat.
"Aku mau cium," rengek Dilah manja.
Bukannya tadi sudah aku berikan. Batin Ali
"Coba saja," ucap Ali menatap datar.
"Anakmu yang minta," Dilah mencari-cari alasan agar tak terlalu memalukan.
"Lakukanlah jika kamu bisa!" Ali tersenyum misterius.
Dilah berjinjit untuk meraih bibirnya Ali, akan tetapi Ali ikutan berjinjit jadi ia tak sampai meraihnya.
"Hahaha, Sayang kau tak bisa menciumku," gelak tawa Ali, ia merasa sudah menang.
"Kau meragukan kepintaranku," ucap Dilah kesal, Ali hanya mengernyitkan dahinya bingung.
Dilah menendang lutut Ali, karena kesakitan Ali mengaduh dan memegang lututnya. Dan dari situ ia mendapatkan kesempatan untuk mencium suaminya.
***
"Sial, mengapa rencanamu gagal, Amel!" teriak Reno kesal. Ia memukul meja untuk menghilangkan kekesalannya.
"Mengapa kau terus menyalahkanku, Reno. Aku hanya mendapatkan ide bagus tapi aku salah menilai ayahnya Dilah." suara Amel memelas.
"Ini semua karena Mita, anak kandung ayahnya Ryan. Kalau bukan karena dia membuat klarifikasi mungkin perusahaan Danial berkembang pesat mengalahkan mereka," teriak Reno ganas.
"Sudahlah Reno, semua rencana belum selesai. Kita masih punya banyak rencana. Aku akan bikin Ali jatuh cinta padaku dan Dilah akan hancur,"" ucap Amel angkuh.
"Sebaiknya kau lebih pintar, Amel. Ali bukanlah pria biasa, dia mata-mata," Reno memperingatkan agar Amel berhati-hati.
Dewi_istri Reno datang untuk menghampiri Amel.
"Amel, bukankah kamu sahabat Dilah?" tanya Dewi.
__ADS_1
"Iya tapi itu dulu, sekarang tidak," ucap Amel ketus.
"Oh, begitu," ucap Dewi.
"Kau ini siapa? Mengapa bertanya masalah seperti itu?" tanya dengan kesal, ketika Amel diingatkan tentang persahabatan dengan Dilah membuat ia mengenang budi baik Dilah yang banyak menolongnya. Hal itu membuatnya jijik karena sekarang rasa iri pada Dilah telah tertanam dihatinya.
"Dia istriku," ucap Reno menjawab.
"Maaf Reno, aku kesal sekali jika ada yang mempertanyakan tentang persahabatan kami," ucap Amel.
"Tidak apa, Amel buatlah Ali jatuh cinta padamu, kemudian lancarkan rencana selanjutnya." ucap Reno menyeringai.
***
"Ryan! Aku ingin membahas kejadian 2 hari yang lalu," ucap Denia kesal.
Baru sekarang dia ingin membahasnya.
Ryan tak mengubris perkataan Denia, ia sibuk dengan komputernya.
"Ryan!" teriak Denia membuat Ryan sakit kepala.
"Apa yang kau inginkan Nona Denia?" tanya Ryan kesal.
"Mengapa kau tak menahan diri waktu itu?" tanya Denia kesal bercampur marah terlihat dari raut wajahnya.
"Aku bisa menahan diri tapi kau yang meminta. Aku tak mungkin menolaknya," Ryan tersenyum menyeringai. Ia berkilah atas ucapannya barusan.
"Jika aku hamil, kau yang akan bertanggung jawab," ucap Denia asal karena ia sedang marah.
"Baik, aku akan jadi suami yang baik dan ayah yang baik juga," ucap Ryan tersenyum tipis.
"Bukan itu maksudku, Aah...sudahlah." Denia ingin beranjak keluar dari ruangan Ryan.
"Apa tidak ada sedikit saja rasa cintamu untukku?" ucap Ryan yang penuh makna.
Denia membeku, ia terlalu egois selama ini. Ia selalu berharap cinta dari orang yang sudah tiada. Ia tak pernah melihat cinta suaminya yang begitu besar.
"Aku tahu diriku tidak sebanding dengan kekasihmu itu, tapi aku punya cinta yang lebih besar darinya untukmu sekarang dan selamanya,"
Denia masih membeku, ia bingung harus berkata apa. Jantungnya berpacu dengan ada sedikit getaran aneh yang menyentuhnya.
"Apakah kau tak pernah melihat cintaku untukmu dimataku?" tanya Ryan yang membuat bulu kuduk Denia merinding, bukan karena seram tapi karena menyentuh kalbu.
"Aku tahu siapalah diriku ini, tak mungkin aku berada dihatimu," ucap Ryan
"Cukup Ryan!"
__ADS_1