
Malam hari tepatnya setelah salat isya, Ali dan Dilah bersiap-siap untuk ke rumah Riki_ayahnya Dilah. Setelah sampai rumah, Ali dan Dilah disambut hangat oleh Riki dan Dini. Kemudian mereka dipersilahkan masuk. Tak beberapa lama datanglah Ryan dan Denia dan disambut hangat juga.
Jamuan makan malam dibuat sangat mewah dan lezat. Riki dan Dini mempersilahkan duduk kepada anak dan menantunya. Ada tujuan khusus mengapa Riki dan Dini mengundang mereka makan malam secara mendadak.
"Bagaimana perusahaanmu, Dilah?" tanya Riki disela-sela makan.
"Sudah lumayan membaik, Pa,"
"Oh baguslah." Riki mengangguk paham.
Riki sedikit melirik kearah Ryan dan Denia, tampaknya mereka seperti pasangan yang dingin yang hanya bersuara ketika seperlunya saja.
"Ryan, bagaimana dengan bisnismu?" tanya Riki.
"Lumayan baik Pa," Ryan terseyum tipis dan lanjut makan.
Denia terlihat canggung, ia seperti asing terhadap keluarga Ryan. Apakah ia juga dianggap menantu sama seperti Ali? Itulah yang selalu dipikirkan Denia. Mengingat ia dan Ryan menikah karena kebetulan bukan karena paksaan atau karena perjodohan.
"Denia, kalau ingin tambah tidak apa," senyum Dini melihat makanan Denia yang hampir tandas.
"Iya Ma, ini sudah cukup." Denia tersenyum canggung.
"Ali, kalau ingin tambah juga tidak apa," Dini juga melihat makanan Ali yang hampir tandas.
"Tidak usah Ma, ini saja sudah cukup," Ali menolak dengan halus.
Aku curiga dengan Mama dan Papa pasti ada sesuatu.
Dilah melirik kearah Ayah dan ibunya kemudian ia memberanikan diri untuk bertanya.
"Pa, Ma. Ada apa sebenarnya?" tanya Dilah penasaran.
"Mama sebenarnya. Papa katakanlah!" gugup Dini tak ingin mengatakan.
"Mama lah yang mengatakan," gugup Riki meminta istrinya yang mengatakan.
"Papa lah!" Dini melempar pada suaminya.
"Mama lah," Riki melempar balik maksud dan tujuan.
"Cukup! Pa, Ma, katakanlah secara bersamaan." ucap Dilah sebagai solusi. Kalau tidak, mungkin sampai subuh mereka akan terus begitu.
__ADS_1
"Kami sebenarnya ingin cucu." suara Dini dan Riki serentak.
"uhuk, uhuk." Ali, Dilah, Ryan, dan Denia mendadak tersedak mendengar kata-kata Dini dan Riki. Mereka memandang pasangan mereka masing-masing.
"Ma, Pa. Ini masih terlalu awal. Aku dan Ali baru 4 bulan menikah dan kak Denia dan kak Ryan juga baru 1 bulan menikah." ucap Dilah menjelaskan.
"Kan bagus Nak kalau kalian cepat-cepat punya anak. Mama dan Papa ingin bermain bersama cucu kami di hari tua." ucap Dini tersenyum agar permintaannya dikabulkan.
Bagaimana ini aku dan Ryan tak saling mencintai. Mana mungkin bisa cepat menghasilkan anak. Lagi pula aku masih cinta sama Kasdin aku tak boleh berkhianat walaupun sama suamiku sendiri. Batin Denia
"Memangnya Mama dan Papa ingin cucu berapa?" pertanyaan Ali ini membuat Dilah, Ryan, dan Denia tersedak lagi. Kemudian Dilah menginjak kaki Ali karena kesal sudah bertanya hal itu.
"10 mungkin atau 20, ya kan Ma? " ucap Riki dan bertanya pada istrinya.
"Iya 15 kayanya cukup," tawa Dini melihat kedua pasangan yang hampir menjerit mendengar pernyataan Dini.
"Sayang 15 anak, sudah siap?" tanya Ali tersenyum manis melirik Dilah yang masih sangat kesal. Sedangkan Ryan geleng-geleng kepala. Ia merasa adiknya dan Ali sudah sangat akrab mungkin mereka sudah saling mencintai. Itulah pikiran Ryan kira-kira.
Dilah melirik Ali kesal sedangkan Ali menunduk untuk menyembunyikan tawa gelinya.
"Ma, janganlah cepat-cepat kami masih belum saling mencintai." ucap Dilah sembarangan bicara, ini merupakan strategi agar ayah dan ibunya lebih bersabar.
"Oh jadi belum saling mencintai. Maaf ya Ali, Dilah kamu mau papa carikan pria yang seperti apa? Daripada kalian seperti ini, tujuan menikah salah satunya untuk melanjutkan keturunan. Lebih baik kalian pisah saja lah," ucap Ayahnya mengancam.
"Mau mencarikan pria lain? Jangan Pa! jangan!" ucap Dilah yang gelagapan.
"Kenapa?" saatnya mengerjai batin Riki sambil tersenyum kecut.
Ryan dan Denia terkejut mendengar ungkapan Dilah. Bukannya sebelumnya Ali dan Dilah tak saling mencintai. Ini adalah kesempatan bagus untuk berpisah. Pikir Denia dan Ryan.
"Ali sudah sayang sama Dilah. Ya kan Ali?" Dilah menggigit bibir dan menginjak kaki Ali.
"Aduh," pekik Ali kesakitan.
"Iya Pa, Ali sayang sama anak Papa." tersenyum menahan sakit kemudian memegangi kakinya.
"Itu kan Pa, menantu Papa nanti kasihan dia sudah terlanjur sayang sama Dilah. Kalau Dilah sih biasa saja." Dilah mana mau mengaku kalau dirinya sudah jatuh cinta apalagi di depan papanya yang menjadi musuh dirinya.
"Oh begitu.." tertawa sejenak.
"Dilah putriku tersayang, papa sudah membesarkanmu selama 23 tahun mana mungkin papa tidak tahu kalau kamu sedang berbohong," sambung ayahnya tertawa kecil.
__ADS_1
degh! jantung Dilah berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Kata-kata ayahnya memang benar.
"Iya Pa, Iya, Dilah mengaku kalau Dilah sudah jatuh cinta sama pilihan Papa. Udah puas sekarang kan Pa," Dilah mengerutkan bibirnya dan menghasilkan raut wajah cemberut.
Dini menatap wajah putrinya sambil menyembunyikan rasa ingin tertawa. Memang kalau Dilah dan Riki bertemu ada saja hal-hal lucu yang terjadi.
Jadi kak Dilah, eh maksudku Dilah (mengingat bahwa Dilah adalah adik iparnya) sudah jatuh cinta dengan suaminya? Ini tidak mungkin, bukannya dia orang yang paling sulit jatuh cinta?
"Jadi inti dari tujuan kami mengundang kalian makan malam hari adalah berikan kami cucu secepatnya!" ucap Riki menegasi anak dan menantunya.
"Baik Pa, semua aman terkendali ya kan Sayang? Secepatnya kita akan mencoba membuatnya," ucap Ali tanpa rasa canggung.
"Bagus Ali, menantu idaman. Siapkan tenaga ekstra." ucap Riki tersenyum.
"Hei, kalian ini sedang bicara apa?" tanya Dilah kesal.
"Tidak ada, buat pasangan yang dingin ini Denia dan Ryan ada protes atau bantahan?" tanya Riki mengernyitkan dahi.
"Tidak Pa, Ryan akan coba perlahan?"
coba perlahan, apa maksudnya? Batin Denia bingung.
"Denia bagaimana, Nak?" tanya Riki menatap Denia serius.
"Iya nanti Denia akan coba dengan kak Ryan," senyum malu Denia.
Aduh, bagaimana ini?
"Pa, janganlah dulu dipaksa-paksa kak Denia dan kak Ryan." ucap Dilah menengahi.
"Ya sudah, Papa akan minta cucu dari kamu duluan." ucap Riki sambil tersenyum misterius.
"Hah!" Dilah menepuk dahinya dan memelas lesu.
"Iya, akan lebih baik dari kami dulu." ujar Ali sambil mengambil minuman.
"Iya secepatnya Ali, kamu memang pilihan terbaik Papa. Tidak sia-sia Papa memilihmu."
"Terima kasih Pa," ucap Ali tersenyum akrab.
Dari dulu sampai sekarang mereka selalu terlihat akrab seperti itu. Batin Dilah kesal.
__ADS_1
Kemudia Dilah mengambil segelas air yang ada di depannya dan meminumnya kesal.