
"Hem," Dilah menganggukkan kepalanya.
"Sebenarnya, aku-aku..." Ali tak berani melanjutkan kata-katanya. Ia terlalu pengecut untuk mengakui perasaannya pada sahabatnya itu.
"Kenapa?" Dilah mengerutkan dahinya. Ia benar-benar bingung dan tidak mengerti apa yang ingin dikatakan sahabatnya itu.
Ting!
Bunyi ponsel Ali, Ali tersenyum kearah Dilah kemudian membuka ponselnya.
'Pak, ada klien yang ingin bertemu, Bapak.' Bunyi pesan singkat di ponsel Ali.
"Dilah, aku tak bisa lama-lama berada disini. Aku pamit ya." ucapnya tersenyum sambil mengulurkan tangan untuk menjabat tangan dengan Dilah.
"Hati-hati," saran Dilah sambil menghantar Ali sampai ke depan rumah.
***
"Mas," panggil Laura pada sang suami yang sedang membaca koran.
"Iya," menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari koran.
Laura kesal panggilan darinya seperti tak dihargai. Ia datang menghentak kakinya. Menunjukkan kekesalannya.
__ADS_1
"Kapan kita punya anak?" tanya Laura kesal. Mereka sudah lama menikah namun sampai sekarang belum dikaruniai anak.
"Kamu sabar dong," kesal Franz. Ia jadi terusik ketika membaca koran.
"Sabar? Mau sampai kapan? Tuh.. Lihat adik ipar kamu, dia selalu dapat perhatian lebih karena punya anak. Sedangkan aku, aku seperti orang lain di sini." Kesal Laura. Ia benar-benar cemburu dengan posisi Dilah.
"Iya itu karena dia melahirkan keturunan keluarga Wijaya tentu hal itu yang membuat dia lebih unggul darimu."
"Itu lah yang aku maksud, Mas. Aku takut suatu saat nanti harta kekayaan keluarga Wijaya jatuh ke tangannya karena dia satu-satunya orang yang melahirkan keturunan keluar Wijaya."
Pernyataan Laura membuat Franz terkejut. Franz tak rela harta kekayaan keluarga Wijaya jatuh ke tangan adik iparnya dan Vino keponakannya.
"Ini tidak bisa dibiarkan," ucap Franz geram.
Sepasang suami istri ini langsung menuju rumah sakit dengan tujuan untuk memeriksakan kesuburan mereka. Apa penyebab mereka belum dikaruniai keturunan.
"Begini Bapak dan Ibu, berdasarkan hasil pemeriksaan. Bapak dan ibu dinyatakan sulit untuk memiliki keturunan." ucap Dokter berkaca mata tersebut.
Dokter tersebut memberikan hasil tes pemeriksaan pada Franz dan Laura. Franz dan Laura benar-benar kesal. Pantas saja mereka tak kunjung memiliki keturunan. Ternyata ada masalah dalam kesuburan mereka.
Kecemburuan makin menjadi-jadi di hati Laura ketika Yulia selalu saja lebih perhatian pada Dilah dibandingkan dengan dirinya.
Dilah melihat ibu mertuanya yang sedang duduk di depan televisi. Sedangkan Laura sibuk mendengar pembicaraan mereka dengan mengendap-endap
__ADS_1
"Bu," ucap Dilah dan ikut duduk di samping mertuanya.
"Iya, kamu lapar? Ingin makan apa?" Pertanyaan tentang makanan dilontarkan oleh Yulia. Pasalnya ketika ditinggal Eldo pergi. Dilah menjadi orang yang sangat sulit untuk makan.
"Bukan," Dilah menggelengkan kepalanya.
"Jadi?" Yulia jadi semakin penasaran.
"Ibu, begini... Dilah ingin tinggal bersama orang tua Dilah saja. Dilah tidak enak teru tinggal disini." ucap Dilah dengan suara lembut.
"Jadi kamu mau bawa Vino juga?"
"Iya, Bu" Dilah mengangguk.
"Kamu boleh tinggal bersama orang tuamu tapi tidak usah bawa Vino," tutur Yulia kesal. Ia tak ingin berpisah dari cucunya.
"Tapi Bu, Vino anak Dilah tidak mungkin Dilah tidak membawa Vino,"
"Jadi kamu tega pindahin Ibu dari cucu ibu? Kamu tega?" Dilah seketika membeku mendengar ujaran sang ibu mertua.
"Apa sih kurangnya ibu, ibu sudah baik padamu. Kamu tega mau pisahin ibu dari cucu ibu."
"Bu-bukan begitu, Bu. Ta-tapi aku merasa tidak enak tinggal disini. Apalagi tidak ada Eldo jadi.."
__ADS_1
"Jadi kamu merasa kamu bukan menantu keluarga ini lagi, begitu?"