
Setelah sarapan, Alya mengajak Rasya untuk jalan jalan dan menikmati kota ini. Mereka semakin dekat satu sama lain. Namun rasa lapar kembali menyerang mereka. Hari pun sudah sian terlihat terik matahari yang bersinar terang.
"Lapar?" Tanya Rasya ketika mendengar bunyi perut Alya.
"Hem..." Alya mengangguk membenarkan perkataan Rasya.
Rasya tak habis pikir bagaimana ia akan mencari uang sedangkan uang 10.000 telah habis terpakai oleh Alya. Tidak tahu apa yang Alya beli tadi hingga menghabiskan uang tersebut.
Alya menunjukkan cincin tunangannya. Rasya pun memiliki ide untuk menjualnya.
"Bagaimana kalau dijual?" Saran Rasya namun Alya menggelengkan kepalanya.
"Tidak boleh!" Alya menjauhkan tangannya dari Rasya.
"Kenapa tidak?" tanya Rasya setengah marah.
"Aku menyukai cincin ini," Alya mengusap cincin pertunangannya dengan Dion.
"Kalau kamu tidak mau menjualnya ya sudah.. Kenapa kau tidak menikah saja dengan dia?" ucap Rasya kesal.
"Hei! Aku menyukai cincin ini. Lagi pula aku telah membayar mu untuk membantuku lolos dari pernikahan." Alya membelakangi Rasya dan melipat tangannya kesal.
__ADS_1
"Ya sudah jika kau tidak menjualnya. Aku akan katakan yang sebenarnya kepada ayahmu bahwa kita tidak ada hubungan apa-apa. Nantinya aku akan mengucapkan selamat untuk pernikahanmu." Ancam Rasya. Ia berjalan dengan cepat.
"Stop!" ucap Alya memberhentikan langkah Rasya.
"Berikan aku waktu untuk menjelaskannya,"
"Baik," Rasya mengangguk setuju.
"Ini bukan cincin tunangan ku dengan Dion. Ini cincin pemberian ibuku. Cincin Dion sudah lama aku buang. Untuk mengelabui ayahku dengan cincin ini agar ayahku percaya bahwa aku menerima Dion. Tidak pantas tanganku ini mengikat cincin pemberian orang seperti Dion. Ku mohon jangan katakan kepada ayahku kita tidak ada hubungan. Aku akan bunuh diri jika kau mengatakan itu."
"Astaga," Rasya menghela nafas keras. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Rasya telah salah paham tentang cincin itu.
Alya melihat seorang pria berkepala botak dan memakai jas. Sepertinya seorang pria hidung belang. Alya membisikkan sesuatu kepada Rasya tentang rencana mereka.
"Kamu yakin bisa?" Tanya Rasya sambil menelan saliva.
"Iya," Alya mengedipkan sebelah matanya.
Alya mendekati pria botak tersebut dengan perasaan sedih sambil mencari-cari cincin.
"Ada apa denganmu, mengapa sedih?" Tanya pria tua tersebut.
__ADS_1
"Aku mencari cincin pemberian ibuku, hiks, hiks, hiks." tangis Alya berpura-pura.
"Tenang cantik, om akan menemukannya," ucap pria botak tersebut. Sepertinya pria botak tua tersebut sudah tertarik dengan Alya.
"Oh ya siapa namamu?" Tanya pria botak tersebut.
"Alya," sambil mengulurkan tangannya.
"Wow... Nama yang bagus. Kalau nama om adalah Sumiryo," ucap pria tersebut sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. Bahkan pria botak tua tersebut memegang tangan Alya cukup lama sekali hingga Alya melepaskannya dengan segera. Pria botak tersebut mencium tangannya bekas salaman dengan Alya.
"Om kalau menemukan cincinku bilang ya. Aku cari di sebelah sana." ucap Alya pura-pura kabur.
Alya membersihkan tangannya sehabis salaman dengan pria tua tersebut. Ia sangat jijik dengan laki-laki seperti itu.
Sumiryo membantu mencari cincin namun Rasya menemukannya lebih dulu.
"Wow cincin berkilau," ucap Rasya sambil mengusap cincin tersebut.
"Hei! Itu cincin gadis tersebut." ucap Sumiryo galak.
"Aku tidak percaya. Kalau dijual kira-kira bisa dapat uang 1 sampai 2 juta." ujar Rasya dan segera beranjak pergi namun tangan pria tua tersebut menghalangi nya.
__ADS_1