
Malam Hari yang gelap Heru mondar-mandir di kamar hotel. Ali yang sedang duduk menikmati secangkir teh menjadi bingung dibuatnya.
"Pak, duduklah!" ucap Ali sambil meminum teh.
"Aku tidak bisa tenang kalau misi belum kita selidiki," ujar Heru sambil mondar-mandir.
"Oh ya satu hal, kau jangan macam-macam ketika kita tidur berdua," ucap Heru selanjutnya membuat Ali mengernyitkan dahi.
"Maksudnya?" Ali meletakkan cangkir tersebut.
"Kau kan sudah menikah, mana tahu kau sudah lama tidak menyentuh wanita dan melampiaskannya kepadaku,"
Ali tertawa lepas mendengar penjelasan dari Heru, "Aku pria normal Pak, kau bukan seleraku," Ali tergelak tawa.
"Oh ya ini serius, dimana tempat kita menyelidiki pembunuh bayaran itu?" Heru sudah bisa duduk sekarang.
"Kau tahu Pak, hem... penjahat suka dengan kesenangan," ujar Ali tersenyum misterius.
"Lalu?" Heru menjadi bingung.
"Tempat hiburan malam adalah tempat penjahat bersenang-senang," ujar Ali dan disambut anggukan dari Heru.
Mereka bersiap dengan segala perlengkapan mata-mata mereka. Ali dan Heru mengganti penampilan mereka. Ali memakai kumis dan sedikit jambang di wajahnya sedangkan Heru memakai rambut palsu yang panjang. Setelah semuanya beres mereka menuju tempat hiburan malam.
Ali memesan minuman beralkhol membuat Heru bingung sendiri. Bukankah Ali orang yang religus bahkan sebelum kesini dia menyepatkan diri untuk salat terlebih dahulu tapi mengapa dia memesan minuman beralkhol?
"Untuk berjaga Pak," ucap Ali sebelum Heru bertanya.
Seorang gadis meronta-ronta ingin dilepaskan membuat Heru dan Ali melihat kearah gadis tersebut.
"Hai diam, aku membayarmu cukup mahal," ucap tuannya.
__ADS_1
Ali tidak tinggal diam, ia membisikkan sesuatu pada Heru. Heru mengangguk paham.
Ali membasahi tubuhnya dengan minuman beralkhol, ia berakting seolah-olah ia sedang mabuk berat.
"Hei Tuan kaya," ujar Ali seperti orang mabuk.
"Siapa kau?" pria buncit dengan kepala botak melepaskan gadis tersebut. Pria tersebut mencium alkhol pada tubuh Ali.
"Aku kekasih gadis itu," ucap Ali mengelilingi pria paruh baya yang belum Ali ketahui namanya.
"Dia imigran gelap, tidak mungkin dia punya kekasih sepertimu," ujar pria paruh baya itu.
"Dasar pemabuk," ucapnya pria tua tersebut selanjutnya.
"Tuan beri aku waktu pada kekasihku ini," ucap Ali yang membuat para pengawal pria tua tersebut geram. Pria tua itu mengangkat tangan membuat para pengawal pria tua itu bergeming.
"Baiklah, mungkin si pemabuk ini kekasihnya. Dia terlihat seperti orang Asia yang sama dengan gadis yang kubeli," ujar pria tua tersebut.
Gadis itu terdiam, ia bingung harus menjawab apa. Ia sama sekali tidak mengenali pria yang mabuk itu.
"Tunggu apa lagi Nona, ayo kita pergi," Ali menarik tangan gadis cantik tersebut hingga ke luar tempat hiburan malam.
Para pengawal pria tua itu geram, mereka berusaha untuk mendapatkan Ali dan gadis yang bersamanya.
Ali dan gadis tersebut dikejar. Ali mampu menghalaunya. Bak aktor pemain Film hollywood, ia berkelahi dengan para pengawal hingga tempat hiburan itu rusak. Ali membawa gadis cantik itu keluar dari dalam tempat hiburan malam sedangkan Heru menyelidiki tempat hiburan malam tersebut.
"Kejar pemabuk itu!" teriak pria tua botak tersebut.
Ali membawa lari gadis tersebut, gadis tersebut tersenyum manis. Ia bahagia diselamatkan dari para penjahat itu. Mereka bersembunyi di rumah tua.
"Kau mengapa bisa berada disini?" Ali bertanya dengan nafas tersengal.
__ADS_1
"Aku imigran gelap, aku tak punya uang untuk mengurus paspor dan lainnya. Negaraku sedang dilanda konflik dan aku tinggal di desa yang miskin. Dari pada aku menderita disana. Lebih baik aku kesini mencari kehidupan yang layak. Namun..."
Gadis tersebut menangis, membuat Ali semakin panik.
"Kumohon jangan menangis, nanti orang berpikir aku telah melakukan kejahatan terhadapmu."
Gadis cantik tersebut menyeka air matanya. Ia melanjutkan kata-katanya. "Aku.. Aku dijual oleh penjahat disini dengan pria tua itu," ujarnya sambil menangis pelan.
"Sekarang kau sudah aman, aku adalah mata-mata dari Indonesia. Apakah kau mau ikut bersama kami, daripada kau sendiri disini," ujar Ali menolong.
"Hah!" ia terkejut mendengar ucapan Ali.
Sudah tampan, baik, pekerjaannya mulia pula. Semoga saja dia masih single, batin gadis tersebut.
Gadis itu benar-benar cantik, hidungnya mancung khas negara asia timur tengah, rambutnya hitam bergelombang, bibirnya tipis dan terdapat lesung pipi.
"Oh ya perkenalkan namaku Ali Mursalim," ucap Ali tersenyum.
"Namamu terdengar seperti nama orang arab," ucapnya tersenyum malu.
"Iya itu karena orang tuaku suka dengan nama orang-orang arab dan artinya sangat bagus,"
"Iya jika diartikan sangat bagus nama Anda,"
"Jangan membahas namaku, ayo perkenalkan dirimu," ucap Ali tersenyum membuat gadis tersebut berdebar.
"Namaku Saidah Zubair," ucapnya gugup.
"Nama yang bagus, kau mau ke hotel bersamaku?" tanya Ali membuat Saidah merinding. Apakah pria ini ingin melakukan kejahatan padanya. Ini sama saja lepas dari mulut harimua dan di sambut oleh mulut singa.
"Tak usah gugup kita tidak tidur di kamar hotel yang sama. Lagi pula aku sudah menikah," ujar Ali membuat Saidah patah hati. Baru pertama kali ia mencintai seorang pria dan pertama kali pula ia patah hati dibuat pria tersebut tanpa sengaja.
__ADS_1
NB: Sudah di terjemahkan dalam bahasa indonesia agar pembaca paham. Mereka menggunakan bahasa Inggris sebenarnya karena posisinya mereka berada di negara Amerika Serikat yang menggunakan bahasa Inggris.