Jatuh Cinta Padamu

Jatuh Cinta Padamu
Tabrakan


__ADS_3

"Semuanya sudah beres," ucap Dilah ketika ia sudah selesai memasukkan semua peralatan yang akan ia bawa.


"Kau ingin pergi?"


"Iya, aku ingin bekerja seperti biasanya," Dilah mengambil sepatu.


Entah mengapa perasan Eldo tidak enak kali ini. Ada sesuatu yang janggal dihatinya.


"Sayang sebaiknya kau jangan pergi," Eldo melarang istrinya. Entah mengapa perasaannya tidak enak kali ini.


"Terus aku harus di rumah begiitu? di rumah sangat membosankan!" Dilah tak menghiraukan larangan sang suami.


Tetiba di kantor Dilah seperti biasanya menjalankan rutinitasnya untuk bekerja. Dilah mendadak mual dan dengan cepat ia masuk ke toilet. Laura melihat hal itu. Laura yakin bahwa Dilah sedang hamil.


"Ini tidak boleh terjadi, kalau Dilah hamil berarti dia akan memberikan penerus untuk keluarga Wijaya. Tapi dia telah sepakat padaku akan meninggalkan Eldo." Laura berpikir.


"Oh dia sedang membodohi ku. Aku tahu Dilah masih sama seperti dulu sangat mencintai Eldo."


Laura menelepon orang suruhannya. Ia punya niat jahat pada Dilah.


"Halo Dodi, kau rusak rem mobil Dilah dengan merek mobil xxx dan plat nomor xxx." ucapnya sambil menyeringai.


"Siap Bos,"


"Jika sudah selesai aku akan transfer bayarannya,"

__ADS_1


"Siap, semuanya akan sesuai keinginan bos," pria tersebut tertawa keras membuat Laura mematikan sambungan telepon.


Jam pulang bekerja, hari yang ditunggu-tunggu Laura. Ia akan melihat kesengsaraan Dilah.


"Beraninya dia bermain-main denganku," Laura tertawa kejam.


Dilah melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ketika mobil yang di depan ngerem mendadak membuat Dilah terkejut dengan reflek ia menginjak rem namun naas remnya belong membuat Dilah bertabrakan dengan mobil yang ada di depannya.


Dilah langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat. Eldo yang Mendapatkan kabar mengejutkan langsung menuju rumah sakit tersebut.


"Dengan keluarga Dilah?" tanya dokter tersebut.


"Iya saya suaminya. Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Eldo tergesa-gesa.


"Begini Pak, kaca mobil yang dikendarai istri bapak pecah dan serpihan tersebut mengenai matanya."


"Mohon maaf Pak, istri Bapak mengalami kebutaan."


Ucapan dokter tersebut seperti sambaran petir di siang bolong. Membuat Eldo pucat pasi. Ia benar-benar dalam titik terendah.


"Tapi kabar baiknya janin yang berada dikandungannya selamat. Istri Anda tidak mengalami keguguran."


Ucapan dokter selanjutnya membuat Eldo sedikit bernafas. Eldo berdiri sambil mengusap kepala istrinya yang masih belum siuman. Air matanya jatuh seketika.


Beberapa menit kemudian, Dilah memegang kepalanya pusing. Ia membuka matanya namun tak ada yang dapat ia lihat, hanya kegelapan yang dapat ia lihat.

__ADS_1


"Aku dimana?" tanya Dilah heran. Suasana benar-benar gelap tak ada satu titik cahaya pun.


"Sayang tenang," Eldo memegang tangan istrinya.


"Katakan dimana aku? Kenapa gelap? Eldo hidupkan lampunya!" Mendengar ucapan Dilah bulir-bulir air mata Eldo jatuh membasahi pipinya.


"Katakan aku dimana?" tanya Dilah geram.


Eldo memeluk Dilah dengan erat ia tak kuat untuk mengatakan yang sebenarnya mengenai kondisi istrinya.


"Eldo lepaskan aku! Katakan aku dimana!" Dilah terus mendesak membuat Eldo pasrah.


"Sayang, kau tidak bisa melihat," ucapannya tercekat. Eldo bahkan sakit mendengar ucapannya sendiri.


"Apa?" Dilah meremas kepalanya.


"Aku tidak mungkin buta. Aku tidak mungkin buta. Eldo, kau membohongiku kan cepat hidupkan lampunya."


Eldo memeluk istrinya kembali memberikan seluruh kasih sayangnya agar sang istri tenang dan menerima semua yang telah menimpanya.


"Aku buta? Aku tidak mungkin buta." Dilah meronta-ronta dalam pelukan.


"Jika aku buta pasti kau akan meninggalkanku kan. Kau pasti akan menginggalkanku. Aku tahu itu." Dilah memukul dada Eldo sebagai sasaran kemarahannya.


"Tidak, aku tidak akan meninggalkanmu,"

__ADS_1


"Kau bohong padaku, pasti kau akan pergi kan. Kau pasti meninggalkanku kan. Aku sudah tidak sempurna lagi di matamu."


__ADS_2