Jatuh Cinta Padamu

Jatuh Cinta Padamu
Pusing


__ADS_3

Cukup lama mereka berada di cafe pada akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Sebelum sampai rumah Dilah selalu memberikan nasi bungkus pada orang-orang yang kurang mampu. Ini yang tidak pernah diketahui Eldo. Mungkin inilah sebabnya Dilah semakin kaya. Ia selalu bersedekah pada orang-orang yang tidak mampu.


"Terima kasih, Nona. Kalau bukan karena Anda mungkin kami kelaparan malam ini." ucap ibu tersebut sambil menyeka air mata. Kemudian ia memberikan nasi bungkus pada anak-anaknya.


"Sama-sama, Bu." Dilah tersenyum.


Dilah lanjut memberikan nasi bungkus pada yang lainnya.


"Semoga rezekimu bertambah Nona," ucap ibu tersebut sambil memeluk Dilah. Dilah bahkan tidak merasa jijik dipeluk ibu yang berpakaian lusuh dan kotor. Ia malah bahagia.


"Aamiin, terima kasih Bu."


Semua nasi bungkus sudah diberikan pada orang-orang yang membutuhkan. Kini saatnya Dilah pulang. Ia pulang lebih cepat 2 jam dari semalam.


Dilah mengetuk pintu namun tidak ada yang membukanya. Ia pun mengayun handle pintu. Ternyata pintu tak terkunci.


"Kemana Eldo?" gumam Dilah sambil menyusuri rumah.


Dilah masuk ke kamar Eldo. Ia melihat Eldo yang tertidur.

__ADS_1


Tidak biasanya dia tidur lebih dulu? Biasanya dia selalu menungguku.


Dilah menyelimuti Eldo. Dilah berdiri dan melangkah tapi tangannya dipegang Eldo.


"Kamu bertemu Ali kan?" tanya Eldo dengan lirih.


Dilah berbalik dan duduk di pinggir tempat tidur. Eldo bangkit dari tidurnya.


"Kau tahu darimana?" tanya Dilah heran.


"Aku mengikutimu tadi. Kamu suka ya sama Ali? Kalau kamu suka dan sayang sama dia aku tidak apa-apa. Asalkan kamu bahagia."


Sekarang aku merelakannya. Mungkin selama ini hidup bersamaku menyiksanya. Untuk apa dia menjadi milikku tapi hatinya milik orang lain, batin Eldo.


"Aku tahu. Aku tahu kamu mau berpisah kan denganku setelah usia pernikahan kita genap 1 tahun? Aku tak segaja mendengar pembicaraanmu dengan Laura waktu itu. Sekarang aku pasrah, biarlah aku yang merasakan cinta ini sendiri."


Eldo kau tak sendiri. Aku juga merasakannya. Tapi aku masih ragu dengan ucapanmu. Aku ragu karena kau pernah membohongiku.


"Katamu kamu cinta samaku, katamu kamu sayang sama aku. Tapi mana perjuanganmu. Kau nyerah gitu aja. Aku semakin tidak yakin kau benar-benar cinta padaku." Dilah mengomel geram.

__ADS_1


"Aku, aku cinta sama kamu. Sungguh! Aku sangat mencintaimu. Iya kau benar aku akan berjuang untukmu. Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku. Semoga kita cepat punya anak ya biar kamu jadi cinta samaku."


1 Bulan Kemudian


Dilah begitu mual. Ia muntah-muntah terus. Ia juga merasa pusing yang amat sangat. Perutnya seperti diaduk-aduk. Karena muntah tubuhnya menjadi lemas dan wajahnya pucat.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Eldo sambil memijat tengkuk istrinya.


"Kamu tidak usah pergi bekerja. Kamu terlihat sakit." Eldo membantu Dilah untuk duduk.


"Rasanya pusing dan huekk!" Dilah muntah di baju Eldo tapi Eldo hanya tersenyum ia tak marah.


"Maaf bajumu jadi kotor," Dilah mengambil tisu untuk membersihkan baju Eldo.


Eldo mengangguk dan tersenyum cerah.


"Ada apa? Kau mengapa tersenyum?" Dilah menyipitkan matanya.


"Aku akan jadi ayah," ucapnya penuh binar sedangkan Dilah mengernyitkan dahinya.

__ADS_1


Dilah bahkan tak yakin kalau dirinya hamil. Ia pikir ia muntah karena masuk angin biasa. Setelah pemeriksaan kedokter, hasilnya sungguh mengejutkan. Ia benar-benar bingung sekarang. Niatnya yang dulu ingin meninggalkan Eldo menjadi kacau. Ia malah hamil sekarang.


"Sayang boleh tidak aku pegang perut kamu. Aku ingin menyapa anak kita."


__ADS_2