Jatuh Cinta Padamu

Jatuh Cinta Padamu
Bunga


__ADS_3

Pagi hari yang cerah, Danial dan Piyan berlomba-lomba untuk mendapatkan wanita yang sudah memiliki satu orang anak dan masih berstatus istri orang. Mungkin konyol kalau dipikir-pikir karena masih banyak wanita muda dan cantik. Tapi, karena harta Dilah pun menjadi bahan untuk diperebutkan.


"Aku datang lebih dulu, Danial," kesal Piyan pada Danial.


"Tidak peduli, aku ingin menyatakan cinta sebelum ditikung olehmu," ujar Danial tidak mau kalah.


"Hei kalian ini sedang apa membawa bunga? Memangnya ada yang mati di rumahku," ucap Riki dengan galak sambil membersihkan keringat dari tubuhnya dengan handuk kecil yang ia letakkan dilehernya.


"Hem.. Dilahnya ada Om?" tanya Danial dan Piyan bersamaan.


Riki menggaruk kepalanya, apa maksud kedua pria lajang tersebut mencari putrinya.


Dilah keluar dengan mendorong kereta bayi. Ia ingin menikmati pancaran sinar matahari pagi bersama Franz.


Kalau ada Ali pasti lengkap, bantinnya.


"Hei Dilah!" Piyan melambaikan tangan dan matanya tidak berkedip. Dilah benar-benar cantik pagi ini.


Danial kesal, ia menyenggol Piyan agar sadar dari lamunannya.


"Apa yang kalian lakukan disini, terus kalian bawa bunga untuk apa?" Dilah mengernyitkan dahinya.


Danial dan Piyan gugup. Sebenarnya mereka ingin menyatakan cinta pada Dilah. Ya, walaupun itu tidak tulus.


"Pa, urus mereka, aku ingin berdua menghabiskan waktu bersama Franz!"

__ADS_1


Riki berkacak pinggang, memperlihatkan lengannya yang berotot membuat Piyan dan Danial menelan ludah.


"Tunggu apa lagi ayo pergi!" seru Riki.


Piyan dan Danial mengambil langkah untuk mengikuti Dilah dari belakang.


"Kalian berdua bisa tidak, tidak mengangguku! Aku ingin menghabiskan waktu berdua bersama Franz," Dilah melihat sebal kearah Piyan dan Danial.


"Tapi.." ucap Danial dan Piyan bersamaan.


"Kumohon! Aku hanya ingin berdua saja,"


Akhirnya Piyan dan Danial pasrah. Mereka mengambil jalan masing-masing untuk pergi.


Dilah menatap nanar pada ponselnya. Ia ingin menghubungi Ali. Tapi, apa mungkin Ali mengangkat teleponnya. Dilah tidak kehilangan akal. Ia membuat instastory di akun media sosialnya dengan poto Franz yang tersenyum dan keterangan dari poto tersebut. "Papa Franz kangen,"


"Assalamualaikum, mana Franz?" tanya Ali dengan wajah datarnya. Ia berpura-pura acuh pada istrinya.


" Wa'alaikum salam, ini dia," Dilah menujukkan wajah Franz yang berada di kereta bayi.


"Papa juga merindukanmu, kamu sehat-sehat ya di sana ," ujar Ali tersenyum.


Franz tersenyum munggil sambil memakan biskuit ditangannya. Dilah seakan terabaikan, Ali hanya mengajak Franz bicara. Setelah Ali merasa puas melihat dan berkomunikasi dengan putranya. Saatnya Dilah mengambil kesempatan.


"Sayang, aku... Aku.. ingin minta maaf," sorot mata Dilah tulus ingin meminta maaf.

__ADS_1


"Aku sudah memaafkanmu," ucap Ali singkat.


"Kau tidak ingin pulang, aku juga merindukanmu," ucap Dilah menjawab pernyataan Ali waktu itu.


Jantung Ali berdetak begitu kencang. Rasanya seperti mendapatkan cinta kembali.


"Aku tidak bisa pulang, aku... tidak tahu berapa lama aku tinggal disini,"


"Kau tega meninggalkan kami berdua? Kau tega dengan Franz," Dilah berkaca-kaca.


"Kamu yang menyuruhku untuk pergi. Aku sangat mencintaimu, aku menuruti semua yang kau inginkan. Aku tidak tahu pasti kapan aku pulang. Aku sudah berjanji tidak akan menganggu kalian lagi,"


bulir-bulir air mata Dilah lolos di pelupuk mata dan membanjiri pipi Dilah.


"Hiks, hiks, hiks, katakan saja kalau kau sudah tidak mencintaiku lagi," Dilah mengeluarkan air mata kesedihan.


"Jangan katakan seperti itu! Aku sangat mencintaimu,"


"Kau berbohong! Kau hanya ingin menghiburku kan?" Dilah masih berurai air mata.


"Aku tidak berbohong,"


"Jika kau mencintaiku pulang lah dari sana,"


"Aku belum bisa pulang..."

__ADS_1


"Aku selalu menunjukkan cintaku kepadamu tapi dirimu belum pernah menunjukkannya. Aku ingin kau datang menemuiku disini dan menunjukkan rasa cintamu itu dan penyesalanmu," Ali memutuskan sambungan.


Dilah termenung memikirkan itu. Apa yang dikatakan Ali benar adanya. Selama ini dia selalu mendapatkan cinta yang berlimpah. Tapi Dilah belum bisa menunjukkan rasa cintanya pada Ali. Wanita gengsi seperti dia sulit sekali untuk menunjukkan rasa cintanya


__ADS_2