Jatuh Cinta Padamu

Jatuh Cinta Padamu
Vino Wijaya


__ADS_3

"Eldo, kau tak pantas mendapatkan cintanya. Seharusnya dia milikku. Ah! Entah sampai kapan penyakit ini berakhir."


"Ali! Ali! Tenanglah."


Eldo melihat Ali yang hendak mencabut.


"Jauhkan dirimu dariku," Ali mendorong Eldo menjauh darinya.


Eldo menghubungi keluarga Ali bahwasanya Ali masih dirawat di rumah sakit. Eldo pamit pulang kepada Ali dan keluarganya. Ali melihat benci pada Eldo sedangkan keluarga Ali terlihat ramah dan bersahabat pada Eldo.


Eldo mengendarai mobil miliknya untuk sampai ke rumah. Ketika ia membuka pintu, Dilah langsung menghamburkan pelukannya.


"Eldo, kau kemana saja? Aku takut di rumah sendirian," peluk Dilah dengan erat seakan tak mengijinkan Eldo menjauh darinya.


"Aku dari rumah sakit," Eldo berjalan perlahan menuju sofa dengan Dilah yang masih berada di pelukannya.


"Bagaimana keadaan Ali?" tanya Dilah antusias.


Mendengar pertanyaan itu, Eldo meneteskan air matanya. Ia mengingat kembali ucapan Ali di rumah sakit. Betapa Ali sangat mencintai istrinya.


"Dia sudah membaik," Eldo menguatkan diri. Ia merasa bersalah. Ia merasa dirinya sebagai duri di dalam hubungan Ali dan Dilah.

__ADS_1


"Syukurlah," Dilah ingin bangkit tapi tak sengaja ia menyentuh pipi Eldo yang masih basah akibat air mata yang bergulir.


"Kamu menangis?" Dilah menghapus air mata Eldo.


"Tidak, aku hanya terkena debu. Iya karena itu mataku memerah dan mengeluarkan air mata," Eldo berkilah.


Dilah langsung percaya dengan perkataan Eldo tanpa curiga. Ia berjalan perlahan ke kamar dengan tongkat yang selalu membantunya kemanapun ia pergi. Eldo mengikuti dari belakang.


"Sayang, apakah kamu pernah mencintai Ali?" tanya Eldo ingin tahu. Ia memeringkan tubuhnya dan bertopang pada tangan kanannya.


"Ali itu sahabatku, aku sangat sayang padanya. Tapi aku belum pernah mencintainya. Dia aku anggap sebagai kakak sendiri." Dilah menjelaskan. "Mengapa bertanya tentang itu?" tanya Dilah.


"Ketika aku di dekatmu, aku jarang sekali muntah tapi sejak kau tinggalkan aku sebentar saja. Aku langsung mual dan muntah," ujar Dilah keheranan.


"Benarkah? Mungkin dia merindukanku," Eldo mengusap perut istrinya.


"Kumohon jaga dia. Jadilah kuat karena anak kita," Eldo mencium puncak kepala Dilah. "Sebaiknya kita tidur sudah malam. Selamat malam, Sayang," Eldo mencium pipi lalu bibirnya.


***


Beberapa bulan kemudian, Dilah akan melahirkan anaknya dengan di dampingi oleh Eldo serta keluarganya. Sedangkan keluarga Eldo tak ikut melihatnya.

__ADS_1


"Sayang kamu pasti bisa," Eldo memegang erat tangan istrinya. Sesekali ia menghapus keringat di dahi sang istri.


"Selamat ya, Pak. Buk. Bayi kalian laki-laki," Eldo menerima bayinya dari sang dokter. Eldo menciumnya dengan penuh kasih sayang dan mengumandangkan azan ditelinga anaknya dengan lembut.


"Sayang, seandainya aku bisa melihat anak kita," ucap Dilah lirih.


"Aku yakin kamu pasti bisa melihat kembali. Berdoalah," Eldo mendekatkan putranya pada ibu dari anaknya itu.


Dilah menyentuh pipi putranya dengan lembut. Air mata bergulir jatuh dipipinya. Ia sangat ingin sekali melihat anaknya saat pertama kali lahir ke dunia. Namun keterbatasan membuatnya harus tetap tabah dan sabar dengan ujian ini.


"Kau sudah menyiapkan nama untuknya?"


Dilah menggelengkan kepalanya. "Bagaimana kalau namanya Vino Wijaya?" Eldo memberikan usulan.


"Aku suka nama itu, nama yang bagus." Dilah menganguk setuju.


Ali masuk ke ruangan Dilah. Ia melihat sahabatnya itu yang baru saja melahirkan. Melahirkan anak dari pria lain. Air mata Ali jatuh perlahan. Ia bingung harus apa, sedih atau senang. Sedih karena yang ia harapkan untuk menjadi ayah dari anaknya Dilah musnah. Senang karena melihat Dilah bahagia ketika bersama anaknya.


"Selamat ya Dilah. Anakmu imut sekali dia sangat mirip dengan dirimu."


Sebenarnya Vino tak mirip sama sekali dengan ibunya. Karena Ali membenci Eldo ia berbohong atas ucapannya tersebut.

__ADS_1


__ADS_2