Jatuh Cinta Padamu

Jatuh Cinta Padamu
Pergi


__ADS_3

"Ali, pergi! Aku tidak mau melihat wajahmu lagi," Dilah masih sakit hati melihat Ali.


"Sayang! Dengarkan aku, aku tidak bersalah," Ali mencoba menjelaskan kebenaran.


"Aku membencimu, pergi! Ayo pergi!" Dilah masih kukuh untuk mengusir suaminya.


"Bolehkah aku melihat anakku untuk terakhir kalinya,"


Dilah memalingkan wajahnya, ia tidak mau melihat wajah Ali. Ali menggendong anaknya.


"Hei jagoan, selamat datang ke dunia,"


Putranya tersenyum melihat Ali. Ali mengumandangkan azan di telinga anaknya dengan suara lembut. Kemudian, Ali mengembalikan putra kecilnya itu pada istrinya.


"Siapa nama yang kau berikan pada putramu itu?" tanya Riki pada Ali.


"Namanya Franz Wiranata Mursalim,"


"Aku tidak setuju," Dilah menatap tajam pada Ali.


"Papa setuju, itu nama yang bagus," Riki tersenyum melihat Ali. Riki sudah tahu bahwa Ali tidak bersalah. Tapi, tidak dengan Dilah anaknya. Dilah belum mau mendengarkan penjelasan suaminya.


"Permisi!" suara seorang laki-laki terdengar dan memecahkan keributan yang terjadi.


"Piyan," Dilah tersenyum melihat kedatangan mantan pacarnya.


"Hei Dilah," sapa Piyan dengan senyumnya.


"Bukankah kau ditahan di penjara?" tanya Dilah.


"Iya, sekarang aku bebas dan sudah bertaubat. Aku tidak akan menggunakan obat-obatan terlarang lagi," ujar Piyan, Piyan mengambil kursi dan duduk di samping Dilah yang sedah berbaring.


Ali masih diam, ia tidak mau menganggu Dilah dan Piyan yang sedang berbicara.


"Siapa nama putramu?" tanya Piyan.


"Aku belum memberinya nama,"


"Bagaimana kalau namanya Nico," Piyan memberi saran dan Dilah mengangguk setuju.

__ADS_1


"Dia adalah putraku, kau tidak berhak memberi nama pada putraku," Ali menarik Piyan untuk berdiri. Ia memegang kerah Piyan.


"Cukup Ali! Dia bukan putramu, dia hanya putraku, sudah kukatakan padamu untuk pergi dari sini," Dilah kembali mengusir. Piyan tersenyum puas.


Ali melepaskan Piyan, "Baik, jika itu maumu aku pergi, aku akan pergi, semoga kau bahagia,"


"Tunggu Ali! Kau mau kemana?" tanya Riki


"Pa, aku harus pergi dari sini. Dia sudah tidak percaya padaku," Ali keluar dari ruangan.


"Dilah, kau seharusnya mendengarkan kata-kata suamimu. Dia tidak bersalah," Riki memjelaskan kebenarannya.


"Pa, cukup! Papa tidak tahu betapa sakitnya hatiku akibat perbuatannya," Dilah melihat kesal pada ayahnya.


"Papa merasa gagal mendidikmu," Riki pergi meninggalkan putrinya.


Piyan bingung dengan pertengkaran mereka. Piyan kembali duduk di samping Dilah.


"Apa yang terjadi?" tanya Piyan penasaran.


"Maaf Piyan, aku tidak bisa menjelaskannya padamu,"


"Baik, jika kau tidak ingin mengatakannya."


Setelah beberapa hari di rumah sakit. Dilah diperbolehkan pulang. Ia memilih tinggal di rumahnya sendiri, tapi Dini_ibunya melarang Dilah tinggal disana. Akhirnya, Dilah tinggal bersama orang tuanya walaupun Dilah dan Riki masih bersitegang.


Piyan datang untuk menemui Dilah. Ia membawa hadiah untuk putra mantan pacarnya itu.


"Permisi!" ucap Piyan.


"Eh Piyan, ayo masuk!" Dilah mempersilahkan Piyan masuk.


Piyan mencuci tangannya dan berjalan menuju box bayi.


"Hei Nico, Om bawa hadiah untukmu," sapa Piyan sambil menunjukkan hadiah yang dia bawa.


Bayi imut dan mungil itu menangis. Entah mengapa setiap kali dipanggil Nico. Ia menangis.


"Dia, mengapa menagis, Dilah?" tanya Piyan heran.

__ADS_1


"Aku tidak tahu, setiap kali dia dipanggil Nico pasti dia menangis,"


Tiba-tiba Riki datang dan menjawab semua kebingungan Piyan dan Dilah.


"Itu karena namanya bukan Nico tapi Franz,"


"Aku tidak suka nama yang diberikan Ali itu," Dilah masih saja membenci Ali.


"Franz, sini sama kakek," Riki mengambil Franz dari box bayi. Dan benar ucapan Riki, Franz tidak menangis. Ia malah tersenyum munggil melihat kakeknya. Riki mencium Franz.


"Jadi ingat jangan mengganti namanya!" Riki memperingati dan meletakkan Franz di box bayi.


Piyan ingin mencoba, ia ingin membuktikan apakah yang dikatakan Riki itu benar atau salah.


"Hei Franz, perkanalkan nama om Piyan," Franz tersenyum melihat Piyan membuat Dilah dan Piyan terkejut.


"Mengapa kau tersenyum sebahagia itu Sayang? Apakah benar kau ingin dipanggil Franz?" Dilah bertanya pada putranya yang belum bisa bicara. Franz tersenyum imut melihat ibunya. Itu pertanda bahwa bayi tersebut menerima nama yang diberikan ayahnya.


Piyan masih belum yakin apa yang dikatakan Riki. Dia berpikir bahwa Franz hanya bayi kecil. Itu pasti sebuah kebetulan, pikirnya.


"Namamu Nico bukan Franz," ujar Piyan memegang tangan mungil bayi tersebut.


Franz menangis kuat, membuat Piyan panik.


"Bagaimana ini, dia menangis mengerikan sekali," Piyan makin panik, Piyan berusaha membuat wajah lucu agar Franz tidak menangis.


"Sayang! Sayang! Om ini hanya bercanda, jangan menangis ya Franz Sayang," Dilah mencoba menenangkan putra kecilnya, Franz berhenti menangis. Ia tersenyum kembali, membuat hati Dilah terasa sejuk.


"Kuperingatkan kepadamu Piyan, jangan panggil dia dengan nama Nico,"


"Baik, baik. Aku tidak akan memanggilnya Nico lagi," Piyan menunduk, ia merasa bersalah atas perkataannya tadi.


"Oh ya, mengapa Ali memberi nama anaknya Franz?"


Dilah memgangkat bahunya, "Aku tidak tahu," ujar Dilah ketus.


"Apakah Ali pernah ke Perancis?" tanya Piyan, Dilah mengangguk.


"Ah! Itu jawabannya, Franz dalam bahasa Jerman artinya Perancis. Tapi jika diartikan dalam bahasa Perancis Franz itu berarti berani,"

__ADS_1


"Wow, nama yang bagus," ucap Piyan selanjutnya.


"Kumohon jangan bahas dia di sini,"


__ADS_2