
Malam hari Dilah dan Ali bersiap-siap untuk pergi ke rumah Riki.
"Bolehkah aku menelepon Amel untuk membatalkan rencana kedatangan kita?" tanya Ali sambil mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
"Silahkan saja," ucap Dilah ketus.
Ali duduk dan mulai menelepon.
"Halo Amel." ucap Ali dengan suara datar.
"Iya Ali," Amel sangat girang ditelepon Ali.
"Maaf, kami tak bisa hadir ke restauranmu. Ada hal penting yang akan kami lakukan," Ali sebenarnya merasa tak enak.
"Jadi kalian tak datang?" ucap Amel berpura-pura sedih.
"Iya, maaf ya," ucap Ali tak tega.
"Tidak apa," Amel langsung mematikan telepon.
Tunggu dulu, kata Ali ada hal penting yang akan dia lakukan. Sebaiknya aku mengikutinya. Batin Amel
Dilah dan Ali langsung menuju kediaman Riki dan Dini, kemudian diikuti oleh Amel dari belakang. Setelah sampai, Ali dan Dilah disambut hangat oleh Riki dan Dini. Tak selang beberapa lama Ryan datang sedirian. Hal ini menjadi sebuah pertanyaan.
"Istri kamu kemana?" tanya Riki curiga.
"Pa, tolong jangan tanya tentang Denia!" ujar Ryan dengan mata sayu, seperti ada kesedihan yang ia bendung selama ini. Sedangkan Ali dan Dilah hanya saling menatap.
"Nak, jika ada sesuatu jangan sembunyikan dari kami." ujar Dini sambil mengusap punggung Ryan dengan penuh kasih sayang. Ryan hanya mengangguk dan tak berbicara sepatah kata pun.
"Baiklah silahkan duduk!" ucap Riki dengan senyumannya.
"Ryan, tolong telepon wanita tersebut dan suruh dia datang kemari!" ucap Riki dengan nada tegas.
"Baik Pa,"
"Ada apa sebenarnya?" tanya Ali berbisik.
"Aku tidak tahu," ucap Dilah pelan yang hanya terdengar di telinga Ali.
Setengah jam, akhirnya Mita datang. Kakinya gemetaran untuk masuk ke rumah Riki. Ini baru pertama kalinya Mita datang kesini. Riki adalah orang yang paling berpengaruh dan tersohor. Ini seperti mimpi ketika di undang datang ke rumah ini.
__ADS_1
"Assalamualaikum," suara Mita pelan karena ia benar-benar gugup.
"Wa'alaikum salam," pintu di buka oleh Dini. Dini mengarahkan Mita untuk duduk bersama.
"Hei kamu, Katakan semua yang kamu ketahui tentang anakku, Rya!" ujar Riki dengan suara lantang. Mita menelan ludah gugup. Tapi hatinya mulai mengusir rasa gugup demi ayahnya yang sakit.
"Perkenalkan semuanya, nama saya adalah Mita Adisya Mulya. Saya anak dari Adrian Mulya dan Disya Safani. Yang aku ketahui tentang kak Ryan adalah..." Mita benar-benar gugup untuk mengucapkan kata-kata selanjutnya.
"Cepat, katakan!" ucap Riki dengan tegas.
"Kak Ryan adalah anak ayah saya dan kekasih ayahnya Laura." ujar Mita takut-takut.
"Katakan siapa yang memberitahu!" ucap Riki masih tegas. Dilah, Dini, Ryan, dan Ali hanya diam menyaksikan.
"Ayah," ujar Mita gugup.
"Apa tujuanmu mencari Ryan?" tanya Riki melotot tajam.
"Ampuni aku Tuan, aku hanya menuruti perintah ayah, dia sedang sakit keras. Aku mencari kak Ryan karena ayahku ingin meminta maaf pada kak Ryan dan juga Tuan," ujar Mita, ia tak kuat membendung air matanya. Air matanya lolos dari pelupuk matanya.
"Ini tidak benar, aku bukan anak ayahmu. Bagaimana mungkin aku bisa jadi anak ayahmu sedangkan aku punya orang tua lengkap." ucap Ryan tak percaya. Wajahnya merah seketika mendengar penjelasan Mita.
"Sayang, tenangkan dirimu. Mungkin yang dikatakan wanita itu benar." ucap Ali sambil mengelus punggung istrinya yang sedang marah.
Dini menyenggol bahu suaminya dan mengatakan, "Apakah ini saatnya kita mengungkapkan kebenaran. Rahasia ini cepat atau lambat akan diketahui oleh mereka." ujar Dini dengan suara berbisik.
"Yang dikatakan wanita itu memang benar. Aku tak punya anak kandung laki-laki."
"Ryan, kau adalah anak dari Adrian Mulya. Kau selalu bertanya pada papa tentang nama belakangmu yang berbeda dengan nama belakang papa dan adikmu. Dan sekarang itulah kebenarannya." ujar Riki dengan tatapan serius.
"Jadi papa dan mama memisahkan aku dari keluargaku? Kalian semua keterlaluan!" kesal Ryan yang ingin keluar rumah.
"Bukan Kak, ayah kita yang salah. Justru Tuan Riki yang menyelamatkan kakak." mendengar hal itu Ryan duduk kembali. Ia meremas rambutnya kesal.
"Kak, walaupun kakak bukan kakak kandungku tapi aku masih menyayangi kakak tanpa berkurang sedikit pun walaupun aku mengetahui kebenaran ini." Dilah mendekati Ryan dan memeluknya erat.
"Kakak juga selalu menyayangimu," ujar Ryan memeluk Dilah dengan erat.
"Baiklah Mita, kapan baiknya kami menjenguk ayahmu?" tanya Riki dengan suara lembut.
"Secepatnya Tuan Riki, kalau Tuan ingin berkenan di hari minggu juga bisa kita ke kampungku. Hari minggu kan libur, jadi tidak ada pekerjaan yang tertunda," ujar Mita sambil menyeka air matanya.
__ADS_1
Ternyata dibalik ketegasan Riki terdapat kasih sayang dan kelembutan pada Riki.
"Sekarang Mita, kau adalah bagian dari keluarga kami. Oh ya bagaimana kabar ibumu?" tanya Dini tersenyum.
Seketika Mita bertambah sedih, "Ibuku sudah meninggal 5 tahun yang lalu." ujar Mita, air matanya kembali menghujani pipinya yang mungil.
Dengan sigap Dini mendekati Mita dan memeluknya. "Anggap saja aku sebagai ibumu." ucap Dini memeluk dengan penuh kasih sayang.
Jadi seperti ini rasanya di peluk Ibu. Sudah lama sekali rasanya aku tak di peluk ibu. Batin Mita tersentuh.
"Apakah ayahmu berbuat jahat pada almarhumah ibumu?" tanya Riki, ia tahu betul Adrian Mulya adalah pria jahat dan brengsek dimasa lalu.
"Tidak, ayah sudah berubah ketika menikah dengan ibuku. Aku saja tak percaya Tuan, bahwa ayahku sejahat itu dulunya." ujar Mita gugup.
Amel yang mengintai langsung tersenyum misterius. Pikirannya mendapatkan ide bagus yang akan menghancurkan keluarga Wiranata. Amel buru-buru pergi dan menelepon Reno.
"Halo Reno," ujar Amel sambil tersenyum tipis.
"Apa Amel?" tanya Reno yang tampak malas tapi tetap menyaut.
"Aku ada berita dan bukti video bagus. Kau akan bayar mahal untukku karena video ini." ujar Amel dengan senyum jahatnya.
"Baiklah, segera ke markas dan buktikan seberapa mahal video itu." ucap Reno menyeringai.
"Aku akan kesana dan kau akan tercengang."
Amel buru-buru ke markas Reno untuk menunjukkan video yang ia rekam mengenai percakapan Mita, Ryan, Riki, dan lainnya.
"Wah..Bagus sekali, kerja bagus. Kita tinggal potong video itu dan kita gemparkan penduduk negeri ini." gelak tawa Reno memenuhi ruangan.
"Apakah aku akan mendapatkan uang tambahan?" tanya Amel tersenyum dan menggosok kedua tangannya.
"Tentu saja, bahkan kau dapat bonus." ujar Reno tersenyum tipis.
"Tidak sia-sia aku bekerja sama denganmu." ujar Reno membanggakan Amel.
"Kapan mulai beraksi?" tanya Amel yang akan mendapatkan keuntungan.
"Sekarang, lebih cepat akan lebih baik bukan?" tanya Reno menyeringai.
"Terserah kau saja, cepat berikan aku uang atas pekerjaanku ini!"
__ADS_1