Jatuh Cinta Padamu

Jatuh Cinta Padamu
Pesan Terakhir Adrian


__ADS_3

Kabar tak enak terjadi. Jagat raya di gemparkan dengan video tentang Ryan yang ternyata bukan anak kandung pengusaha Riki Wiranata. Video itu memuncaki terending topik hari ini. Di video tersebut memberikan informasi dan keterangan bahwa Ryan diambil paksa oleh Riki. Berita ini membuat perusahaan Wiranata Stars anjlok. Banyak kolega yang membatalkan kerja samanya.


"Bagaimana ini Pa?" tanya Dini yang mulai khawatir.


"Tidak masalah Ma, mereka belum tahu sedang menghadapi pemilik perusahaan seperti apa." ujar Riki tersenyum misterius.


"Ya sudah, mama percaya pada Papa." ucap Dini dan memeluk suaminya.


***


Ryan datang ke rumah ayah dan ibunya. Ia tak mengajak Denia, percuma saja mengajak wanita itu. Ia pasti selalu menolak.


"Assalamualaikum," ucap salam Ryan di depan pintu.


"Wa'alaikum salam," Dini membuka pintu. "Masuk Nak!" senyum Dini kemudian ia memeluk anaknya.


"Hem, adik Ryan mana Ma?" tanya Ryan yang tak melihat adiknya.


"Yang mana Mita atau Dilah?" tanya Dini.


"Dua-duanya." ucap Ryan cepat.


"Hem coba kirim pesan singkat pada mereka berdua, selagi menunggu, kamu makan kue ini ya," senyum Dini mengambilkan kue.


"Ini buatan Mama?" tanya Ryan sambil memakan.


"Iya Nak dari pada Mama tak punya pekerjaan."


***


"Masih muntah lagi?" tanya Ali yang melihat istrinya keluar dari kamar mandi.


"Iya," jawab Dilah cepat.


"Kan sudah kularang jangan makan bakso,"


"Apa pengaruhnya?" tanya Dilah bingung.


"Entah, belakangan ini kamu agak aneh," ucap Ali tersenyum tipis.


"Aneh apanya?" Dilah mengerutkan bibirnya.


"Aku yakin menurut logikaku setelah kamu terbentur tembok waktu itu kamu berubah jadi aneh, seperti minta yang aneh-aneh. Berperilaku aneh."


"Benarkah?" Dilah tercengang karena terkejut mendengar penjelasan suaminya.


"Iya, aku akan membawamu ke psikater." Ali menarik tangan istrinya.


Apa aku sudah gila ya? Kalau tergila-gila padanya mungkin iya, Dilah membatin.


"Tunggu dulu, kita kan mau pergi menjenguk ayahnya kak Ryan." Dilah berusaha melepaskan tangan Ali yang memegang erat pergelangan tangannya.


"Benar juga, aku akan membawamu ke psikiater lain kali."

__ADS_1


Apakah aku benar-benar sudah gila ya? Belakangan ini aku sering mual, muntah, minta yang aneh-aneh. Apakah benar ada hubungannya karena terbentur tembok?


Ali dan Dilah langsung menuju rumah Riki dan Dini. Di sana sudah ada Ryan dan Mita. Setelah semua berkumpul mereka langsung pergi ke kampung Mita untuk menjenguk Adrian yang sakit.


"Terima kasih Salim telah menjaga ayahku," ucap Mita tersenyum dan menepuk punggung Salim lembut.


"Sama-sama," tunduknya malu,


Setelah melihat Ryan dan Riki datang. Mata Adrian berkaca-kaca. Akhirnya air mata Adrian jatuh ke pipinya.


"Peluk ayahmu Nak!" pinta Dini, Ryan agak ragu melakukannya. Tapi karena Dini tersenyum kemudian mengangguk akhirnya Ryan mau melakukannya.


Ryan memeluk Adrian yang merupakan ayah kandungnya. Air mata Adrian membanjiri pipinya. Ia tak kuasa merasakan haru dan hangat dari pertemuan mereka.


"Maafkan ayah, Nak. Jangan benci pada ayah," ujar Adrian menangis dan terdengar batuk-batuk akibat penyakitnya.


"Aku memaafkan Ayah, Mama selalu mengajariku untuk selalu memaafkan orang lain." ucap Ryan yang membuat semua orang tersenyum.


"Dini, terima kasih telah menjaga putraku. Kau memang sahabatku, maaf dulu aku telah membuatmu ikut dalam dunia gelap." ujar Adrian lirih.


"Tidak apa Adrian, aku menjaganya seperti anak kandungku sendiri. Aku sudah memaafkanmu." Dini meneteskan air matanya. Jika ia menerawang masa lalu. Adrian memang laki-laki jahat yang suka mengancam. Ia bagian dari anggota Adrian yang jahat waktu itu. Oleh sebab itu, Dini bisa bela diri karena ia adalah pengawal Adrian dulunya.


"Riki maafkan aku yang telah membuat kakak sepupumu hancur." ucap Adrian lirih.


"Sebaiknya yang dulu dilupakan saja,"


Adrian menyeka air matanya terdengar suara batuk-batuk.


"Kau sakit apa?"


"Aku akan membawamu ke rumah sakit luar negeri." ujar Riki yang mulai khawatir.


"Tidak usah!" Adrian melarang Riki.


"Aku hanya meminta satu hal, Ryan tolong jaga adikmu Mita, ia cuma punya Ayah dan dirimu. Dia tak punya siapa-siapa selain kita." ujar Adrian yang masih terdengar batuknya.


"Iya Ayah, aku akan menjaganya." Ryan memegang tangan ayahnya dan tangan Mita.


"Sekarang aku sudah tenang dapat maaf dari kalian. Mungkin sudah saatnya aku pergi." seketika Adrian sesak nafas, ia seperti tercekik. Mungkin ia sedang menghadapi maut.


Adrian memejamkan matanya. Jantungnya berhenti berdetak, nafasnya sudah tidak ada. Tubuhnya menjadi dingin.


"Ayah! Jangan tinggalkan aku." Mita memeluk ayahnya. Tangis semua orang yang menyaksikan tumpah seketika


Ryan mendekati adiknya Mita, kemudian Mita bersandar di dada Ryan sambil menangis. Sedangkan Dini memeluk Riki, air mata Dini menganak sungai. Ali dan Dilah melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Dini dan Riki.


Adrian telah dikuburkan, air mata haru Mita masih tidak mau berhenti. Ayah kesayangannya kini telah tiada. Kini ia merasa tinggal seorang diri. Ia masih ragu apakah kakaknya Ryan akan tulus menyayanginya menggantikan sosok ayah yang telah hilang dalam hidupnya.


Hari sudah malam Dini, Riki, Ryan, Mita, Dilah dan Ali memutuskan pulang ke kota.


"Mita, kamu jangan terua bersedih, ada kakak disini." ucap Ryan menenangkan adiknya.


"hemm," Mita menyeka air matanya.

__ADS_1


"Mita, kamu yang kuat ya," ucap Dilah yang masih merasakan duka.


"Iya kak,"


"Mita, semua yang hidup pasti akan kembali." ujar Ali.


"Iya kak, Mita akan kuat." ujar Mita tersenyum.


Setelah sampai rumah, Dilah mulai merasa aneh. Entah mengapa ia sangat ingin sate.


"Sayang, bisa tolong belikan sate ayam yang pedas ya!" pinta Dilah berbinar.


"Sate?"


"Iya, kenapa?"


"Tidak biasanya kamu ingin sate? Bukannya kamu tidak suka sate ya?"


"Tidak tahu, pokoknya aku mau sate!" rengek Dilah.


Ya sudah, untung saja sate makanan kesukaanku.


"Tidak mau pizza?" tanya Ali memberi penawaran.


Dilah menggelengkan kepalanya.


"Burger?" Ali menggoda makanan kesukaan istrinya.


Dilah menggelengkan kepalanya.


"Stick daging?" Ali menaik turunkan alisnya.


"Aku mau sate! Jika kamu tak membawa sate ketika pulang kamu tak boleh tidur bersamaku." ujar Dilah mengancam.


"Kejam sekali!"


"Biarkan saja, cepat beli sayang sebelum seleraku berubah." ucap Dilah cemberut.


"Baiklah," Ali keluar untuk mencari sate pesanan istrinya.


Ali berkelana mencari warung yang masih buka. "Ah.. itu warung sate," ucap Ali senang.


"Pesan dua bungkus ya Mas," ucap Ali kemudian ia duduk di kursi yang disediakan.


"Baik," setelah selesai menyiapkan pesanan. Ia memberikan bukus pesanan Ali dengan cepat Ali mengeluarkan uang dari dompetnya.


Ali menuju perjalanan pulang, tapi hatinya masih janggal. Mengapa istrinya begitu aneh belakangan ini?


"Sayang ini satenya." ucap Ali tersenyum sambil mengangkat sate keatas.


"Ayo cepat letakkan di piring." ucap Dilah girang.


Setelah Ali meletakkan sate tersebut di piring, Dilah hanya memakan hanya satu tusuk saja padahal masih ada 9 tusuk sate lagi.

__ADS_1


"Sayang kenyang!" ujarnya tersenyum kemudian pergi ke kamar.


"Jadi aku yang harus menghabiskan semuanya?"


__ADS_2