Jatuh Cinta Padamu

Jatuh Cinta Padamu
Pemakaman


__ADS_3

"Iya Ma," Dilah masuk mengikuti Yulia. Yulia mempersilahkan duduk dengan isyarat tangannya.


"Ma begini, aku sangat ingin bertemu dengan Eldo. Dimana dia sekarang dan kapan dia pulang, Ma?"


Yulia mengigit bibirnya air mata hampir saja jatuh di pipinya yang sudah sedikit keriput.


"Hem Eldo, hem... Bagaimana kalau kita makan dulu. Mama sudah masak banyak hari ini." Yulia berdalih agar menantunya tak mempertanyakan tentang Eldo.


"Ma, aku sudah makan sebelum berangkat kesini. Tujuanku datang ke sini hanya ingin bertemu dengan Eldo."


Yulia membeku. Ia tak tahu harus berkata apa. Ia tak cukup berani untuk mengatakan yang sebenarnya.


Cepat atau lambat dia pasti akan tahu tentang Eldo. Sebaiknya aku memberitahunya. Akan lebih menyakitkan apabila dia tahu kepergian Eldo dari orang lain. Yulia membatin.


Yulia menghela nafas keras, "Baiklah kita akan ke tempat Eldo," Yulia berdiri dan mengambil kunci mobilnya.

__ADS_1


Perjalanan cukup panjang mereka lalui. Aneh. Mengapa tak mengarah ke rumah Fina? Apakah mereka punya rumah lain?


Selama ini Dilah hanya tahu bahwa Eldo telah menikah lagi dengan Fina.


Vino menangis di dalam gendongan. Dilah menimangnya. "Sayang jangan menangis ya sebentar lagi kita akan bertemu Papa," ucapnya untuk meredakan tangisan Vino. Yulia yang mendengar hal itu meneteskan air matanya. Ia menyeka ujung matanya dan mencoba tegar.


Setelah memarkirkan mobil, mereka turun dari mobil. Dilah merasa aneh ketika mengikuti jalan yang dibawa mertuanya yang mengarah ke tempat pemakaman. Dilah melihat kanan dan kiri. Benar ini kuburan. Apakah sebelum bertemu Eldo, Mama mau berziarah terlebih dahulu? Hati Dilah gelisah namun ia tak pernah berpikir suamimya telah tiada.


Tibalah pada satu kuburan yang batu nisannya tertulis Eldo Wijaya bin Menir Wijaya. Sontak Dilah syok. Ia mengucek matanya untuk memastikan apakah penglihatannya benar.


"Ini Eldo, benar-benar Eldo," Yulia mengambil tisu dan menghapus air matanya. "Kamu yang tegar ya," ucap Yulia selanjutnya.


Lutut Dilah tak cukup bisa menopang tubuhnya akibat tahu kenyataannya bahwa Eldo telah tiada. Ia peluk batu nisan tersebut sambil menangis.


"Kenapa kau meninggalkanku?" tanyanya marah bercampur sedih.

__ADS_1


"Lihat Sayang anak kita, aku tidak bisa membesarkannya tanpa dirimu."


"Mengapa kau meninggalkanku? Kau pernah berjanji kan padaku tidak akan meninggalkanku," ujar Dilah kesal dan sedih.


"Sudah, Nak. Sudah. Ikhlaskan kepergian Eldo," Yulia merangkul Dilah dan membatu Dilah untuk berdiri.


"Mengapa tidak ada yang memberitahuku?" Dilah menangis kembali dengan cepat Yulia memeluknya.


"Itu karena kami ingin kamu bahagia setelah kamu bisa melihat kembali. Maaf telah merahasiakan ini padamu. Kami menunggu kapan kamu siap untuk menerima kenyataan ini."


"Apa jangan-jangan mata ini pemberian dari Eldo?" Dilah sudah menduganya.


Yulia mengangguk dan sedikit terdengar isakan. "Mengapa dia terlalu baik padaku?Hiks, hiks," Dilah terisak tangis. "Padahal aku sempat tak percaya padanya," ujar Dilah kesal atas tindakannya dulu.


"Kita pulang, yuk! Hari sudah mulai petang," ajak Yulia untuk pulang. Dilah menganguk. Ia menurut untuk pulang walau rasanya tak ingin meninggalkan kuburan Eldo.

__ADS_1


Di sela-sela perjalanan Yulia memulai pembicaraan. "Dilah, kamu mau ya tinggal bersama kami. Kita besarkan anak kalian bersama-sama." Yulia memberi usul. Dilah mengangguk tanpa berpikir. Ia tak bisa memikirkan hal lain selain Eldo. Betapa hancur hatinya ketika orang yang paling ia sayangi ternyata telah pergi untuk selama-lamanya.


__ADS_2