Jatuh Cinta Padamu

Jatuh Cinta Padamu
Kemenangan Untuk Rasya


__ADS_3

Setelah lima menit, Rasya diijinkan masuk. Ternyata Randy sudah ada di dalam bersama ayahnya. Mereka memandang rendah Rasya yang hanya bekerja sebagai penghantar pizza. Mereka mengetahui itu dari pakaian Rasya.


"Siapa kau dan ada perlu apa kau datang kemari?" Tanya Wiranto dengan nada sombong.


Rasya hanya diam, seketika mentalnya ciut berhadapan dengan seorang anggota DPR.


"Ayo katakan, jangan buang waktu mahal saya," Kata Wiranto dengan nada sombong sambil menyeringai bengis.


"Pak saya Rasya. Saya ingin bertanya mengapa Bapak Wiranto dan Randy ingin mengeluarkan Alya dari kampus. Bukankah itu tindakan terlarang Pak? Lagi pula dia tidak salah." Rasya menjelaskan dengan nada tenang namun diselimuti rasa takut.


"Itu karena dia menolak cinta putraku. Ingat aku akan melakukan apapun demi putraku. Tidak ada yang boleh menentang ku!" Ucap Wiranto angkuh.


"Bapak tidak boleh seperti itu, Pak. Masalah pribadi tidak boleh dikaitkan dengan pendidikan. Bapak merusak masa depan seorang gadis yang punya cita-cita tinggi, Pak."


Raut wajah Randy memerah. Ia menggebrak meja sekuat tenaga.


"Memangnya kamu siapa berani menentang keputusan ayah saya?" Ucap Randy dengan mata melotot tajam.


"Memangnya kamu siapa, hah?" Tanya Wiranto dengan congkaknya.


"Seorang penghantar pizza." ucap Rasya dengan nada rendah.


"Penghantar pizza, cuih!" ucap Wiranto sambil meludah ke lantai menyepelekan profesi Rasya.


"Kau tahu siapa saya?" Tanya Wiranto dengan nada sombong.

__ADS_1


"Saya anggota DPR dan kamu hanya seorang penghantar pizza. Cuih!"


"Tolong pak berikan kesempatan untuk Alya melanjutkan studinya. Jangan ancam kampus Bima Sakti untuk mengeluarkan Alya!"


"Kamu berani mengatur keputusan saya?!"


"Kamu berani menentang saya?!"


"Pergi!!!"


"Kau membuat kantorku berbau pizza,"


Ucap Wiranto menghina orang kalangan bawah. Rasya perlahan berdiri dari tempat duduknya.


"Pergi!"


Rasya tersenyum misterius. Ternyata ketika Wiranto bertanya "Siapa kau dan ada perlu apa kau datang kemari?" Rasya memilih tidak menjawab bukan tanpa alasan. Ia sedang mengeluarkan ponselnya dan merekam perbincangan tersebut. Rasya memutar video rekaman tersebut. Tidak sampai habis tetapi cukup membuat Wiranto dan Randy ketakutan.


"Bagaimana jika rekaman ini di dengar media?" Ucap Rasya sambil tersenyum.


"Bagaimana ya respon masyarakat punya anggota DPR seperti Anda?"


"Semua yang Anda agung-agungkan, kehormatan yang Anda miliki dan pendukung setia hilang hanya dengan rekaman ini." Rasya tertawa.


Wiranto dan Randy mencoba mengambil ponsel Rasya namun gagal. Sangat sulit untuk mengambil barang milik Rasya karena dia sangat pandai ilmu bela diri.

__ADS_1


"Baiklah, aku cabut keputusan tersebut. Aku inginkan Alya melanjutkan studinya. Tapi hapus dulu rekamannya."


"Aku tidak bodoh, Pak. Aku akan menghapusnya jika Bapak benar-benar mencabut keputusan Bapak dan tidak ikut campur urusan studi Alya."


"Baiklah, besok Alya boleh ke kampus."


"Ayah! Kenapa ayah setuju?" Bentak Randy


"Diam, Randy!"


"Ingat Pak. Saya masih menyimpan rekaman dan tidak akan pernah menghapusnya kecuali Alya tamat kuliah. Tapi saya berjanji tidak akan menyebarkannya. Rekaman ini untuk antisipasi kemungkinan Bapak yang akan melakukan tindakan konyol mengeluarkan Alya dari kampus."


"Baiklah, saya tidak akan menjegal studi Alya dan memperbolehkan Alya melanjutkan kuliah. Tapi kau berjanji untuk tidak menyebarkan rekaman itu." Sekarang bergantian tadi Rasya yang menciut kini Wiranto.


"Oke, saya pegang perkataan Bapak. Saya berjanji rekaman ini tidak akan saya sebarkan. Tapi ingat! jika Bapak ikut campur Bapak akan tahu konsekuensinya."


"Permisi!" Rasya berpamitan.


"Ayah! Mengapa tidak melawan?" Tanya Randy kesal. Ayahnya kehilangan wibawa dan kesombongan di hadapan Rasya.


"Kau sudah gila? Ayah tidak mau mengambil resiko. Lagi pula Alya itu siapa? Dia bukan anak orang kaya kan? Kau bisa mencari gadis lain yang selevel dengan kita bukan gadis seperti Alya." ucap Wiranto tegas.


Randy kesal mendengar ayahnya yang tidak mendukungnya sama sekali. Randy menjadi dendam pada Rasya. Ia akan membalas Rasya suatu hari nanti. Randy mengepal tangannya.


"Randy, dengarkan baik-baik. Ayah tidak mau kehilangan jabatan ayah, kehormatan ayah dan pendukung setia ayah. Kemewahan yang kau dapatkan itu semua dari jabatan, kehormatan dan pendukung setia ayah. Lebih baik kau cari wanita lain masih banyak wanita yang jauh lebih cantik dari Alya."

__ADS_1


"Aku tidak akan mengampuni, Rasya." gumam Randy pelan sambil mengepal tangannya.


__ADS_2