
"Sayang, ada beberapa hal yang tidak bisa aku jelaskan kepadamu,"
"Iya, aku tahu kau membenciku kan?" Dilah menahan air matanya yang ingin jatuh.
"Bukan itu, Sayang." jawab Ali.
"Bohong, kau jahat!" ucap Dilah kesal dan mematikan sambungannya.
"Agrh! Mengapa jadi seperti ini?" Ali meremas rambutnya. Ia juga sama rindunya dengan Dilah. Namun, ia sudah terlanjur menerima misi ini.
Besok paginya, Ali berniat untuk memperkenalkan Saidah pada Heru. Kebetulan Heru single mungkin sesuai dengan Saidah yang juga single. Ali mengajak Heru menuju kamar hotel Saidah.
"Assalamualaikum, Saidah," Ali dan Heru mengucapkan salam seraya mengetuk pintu.
"Wa'alaikum salam," Saidah berbinar melihat kedatangan Ali dan Heru. Ali bagai pahlawan untuknya.
"Ali," ucapnya terperangah.
"Iya, ini perkenalkan Heru atasan saya," Ali memperkenalkan Heru namun Heru mengernyitkan dahinya.
"Kau sudah mengatakan padanya tentang profesi kita?" tanya Heru heran.
__ADS_1
"Iya, lagi pula aku sudah percaya padanya, dia wanita yang polos pasti dia dapat menyimpan rahasia," ucap Ali terus terang.
"Iya kau benar, aku juga berpikir begitu," Heru setuju dengan penjelasan Ali.
"Oh ya, Saidah kau mau tidak menikah dengan Pak Heru?" tanya Ali yang membuat Heru dan Saidah tercengang.
"Me.. Menikah?" tanyanya gugup.
"Iya menikah, setelah kami selesai dengan misi kami, kau ikutlah dengan Pak Heru," jelas Ali.
Heru menyenggol tangan Ali dan berbisik, "Kau mau menjodohkan kami?" tanya Heru sedikit kesal.
Memangnya aku tidak bisa mencari istri sendiri, batin Heru.
"Hem.. Iya, iya. Saidah mau tidak menikah denganku? Aku memang belum cinta denganmu tapi aku berjanji akan membuatmu bahagia," ucap Heru dengan sepenuh hatinya yang tulus. Heru sebenarnya sudah berusaha mencari pasangan hidup. Akan tetapi karena terlalu sibuk dengan misi membuatnya sulit menjalin hubungan.
"Kau berjanji akan membuatku bahagia? Dari kecil sampai sekarang aku belum pernah merasakan kasih sayang dari siapapun. Aku menderita dari dulu, jika kau benar-benar serius. Ya.. Aku mau.. Aku menerimamu bukan karena aku wanita gampangan tapi karena aku ingin mendapatkan kasih sayang," Saidah terisak tangis.
Heru benar-benar merasakan kesedihan Saidah. Heru memberikan bahunya untuk tempat Saidah menyandarkan kepalanya. Saidah benar-benar sedih.
"Aku akan menjagamu dan aku akan berusaha mencintaimu," Heru mengelus rambut Saidah yang bergelombang.
__ADS_1
"Ibuku pernah bilang cinta itu bisa datang kapan saja,"
"Semoga hari ini akan dimulai kisah cinta kita,"
"Ehem," Ali berdehem. Ia agak cemburu sebenarnya.
Heru merangkul Ali, "Sabar teman, tak lama lagi kau akan bertemu dengannya," ujar Heru tersenyum
***
Kembali lagi ke Danial dan Amel.
"Danial, aku jijik dengan tubuhku setelah berbaur denganmu," Amel menggerutu di kamar mandi sambil menggosok tubuhnya.
"Amel! Apa yang kau katakan? Aku tidak mendengarnya. Bolehkah aku masuk ke kamar mandi dan mendengarkan keluh kesahmu, Sayang?" Danial punya niat lain.
"Danial, kau jangan coba-coba menggodaku. Jangan membuatku tambah jijik dengan memanggilku dengan sebutan seperti itu," Amel malah bertambah kesal.
"Aku tidak menggodamu, sebagai sepasang suami dan istri kita harus berbagi suka maupun duka. Tidak ada salahnya aku memanggilmu dengan sebutan itu," ucap Danial sok bijak.
"Danial, bisakah kau tidak berisik!" teriak Amel di dalam kamar mandi.
__ADS_1
"Iya, iya, aku tidak berisik lagi. Oh ya terima kasih untuk waktunya semalam,"
"Danial! Jangan bahas yang tadi malam, aku bahkan sudah melupakan kejadian tadi malam dan aku berpikir itu tidak pernah terjadi pada diriku," gerutu Amel kesal.