Jatuh Cinta Padamu

Jatuh Cinta Padamu
Mirip


__ADS_3

"Bagaimana aku tidak membahas dia, wajah putramu mirip sekali dengan dia,"


Dilah melihat tidak senang pada Piyan. Piyan tertawa kecil melihat wajah Dilah yang begitu lucu menurutnya.


"Hahaha, apakah selama hamil kau membencinya?" Piyan tertawa tanpa memperdulikan Dilah yang geram.


"Iya, karena dia telah melakukan kesalahan besar," ujar Dilah geram.


"Apakah kesalahan dia?" tanya Piyan penasaran. Piyan belum tahu kasus yang menimpa Ali. Karena ia baru saja keluar dari penjara.


"Jangan bahas ini kumohon. Dan jangan katakan bahwa Franz mirip dengan Ali. Dia hanya putraku,"


Piyan geleng-geleng kepala. Ia bingung ujian apa yang menimpa mantan pacarnya. Sehingga mantannya itu membenci suaminya sendiri.


"Huh! Aku tidak mau berbohong Dilah Wiranata. Aku mengatakan apa adanya. Aku tidak mau berbohong di depan putra kecilmu itu," ujar Piyan membela diri, ia melirik Franz yang tidur di dalam box bayi.


"Terserah.." Dilah memutarkan bola matanya.


Piyan pamit pulang karena ada hal penting yang akan Piyan lakukan. Piyan menyetir mobil menuju sebuah perusahaan. Tanpa sengaja, ia hampir menabrak pria yang menghadangnya di jalan.


"Kau sudah gila?" tanya Piyan marah-marah. Piyan terkejut melihat siapa yang menghadang jalannya.

__ADS_1


"Danial," ucap Piyan terkejut.


"Iya ini aku, mantan Dilah Wiranata. Apa yang kau lakukan di rumah Dilah?"


Danial ternyata telah mengetahui kedatangan Piyan ke rumah mantan pacarnya atau mantan pacar mereka berdua? Ah! itu sama saja.


"Hanya mantan," tawa Piyan mengejek.


"Apa maksud tawamu itu?" tanya Danial geram. Ia menyingsingkan lengan bajunya.


"Kau hanya mantan, sedangkan aku, aku adalah calon suaminya," ucap Piyan berkilah.


"Kau! Aku bersusah payah membuat fitnah agar Dilah dan Ali berpisah. Bisa-bisanya kau yang menjadi calon suaminya," Danial memukul Piyan kembali.


"Oh.. Jadi itu ulahmu mengapa setelah Dilah melahirkan, dia dan suaminya bertengkar hebat," akhirnya Piyan menemukan jawaban dibalik rasa penasarannya.


"Iya, kenapa?" Danial melotot tajam dan memukul wajah Piyan lagi. Piyan mengeluarkan darah dari pipi dan bibirnya.


"Terima kasih telah membuatku beruntung. Aku tidak perlu bersusah payah lagi untuk memisahkan Dilah dan Ali. Kau yang berjuang aku yang menikmati," Piyan tertawa memprovokasi Danial. Danial geram, ia memukul Piyan. Piyan mampu menangkis pukulan tersebut. Piyan masuk ke mobil dan pergi menghilang dari Danial.


"Kau! Beraninya kau berurusan denganku, Piyan," Danial mengeraskan rahangnya menahan marah.

__ADS_1


****


Dilah memperhatikan putranya dari kepala sampai kaki. Memang benar apa yang dikatakan Piyan. Franz sangat mirip dengan ayahnya.


"Benar, apa yang dikatakan Piyan. Kau mirip sekali dengan papamu," ujar Dilah sambil menyentuh pipi putranya.


"Sebenarnya mama sangat merindukan papamu, Mungkin wajahmu itu yang akan mengobati rindu mama," bulir-bulir air mata jatuh dipipinya.


"Tidak! Tidak! Aku tidak boleh menangis di depan Franz. Aku sudah banyak menangis belakangan ini,"


Dilah naik ke tempat tidur. Ia menyelimuti tubuhnya. Kemudian, ia tidur dengan pulas. Jam telah menunjukkan pukul 12 malam. Franz menangis sangat keras membuat Dilah terbangun. Dilah berjalan menuju box bayi.


"Sayang! Sayang! Jangan menangis!" Dilah menggendong putra kecilnya.


"Sayang, ini sudah jam 12 lewat. Mama mengantuk. Tidur ya Sayang ya!" pinta Dilah kepada Franz yang masih menangis. Akan tetapi Franz masih saja menangis.


"Kamu haus ya?" Dilah memberikan asi pada anaknya.


Jadi seperti ini rasanya punya anak, Dilah membatin.


Dilah menahan kantuk menunggu anaknya yang masih menyusui.

__ADS_1


__ADS_2