Jatuh Cinta Padamu

Jatuh Cinta Padamu
Kecelakaan


__ADS_3

Fina menunggu pengantin prianya. Siapa lagi kalau bukan Eldo bekas pacarnya dulu. Entah apa yang dipikiran Menir hingga menyuruh anaknya menikah dengan wanita yang jelas-jelas telah menyakiti putrannya.


"Ah! Mengapa aku merasakan sakit padahal aku akan menikah." Eldo meremas kepalanya di depan cermin. Perlahan ia memakai dasinya untuk memperlambat waktu.


"Eldo," Dilah memeluk Eldo dari belakang.


Eldo membalikkan tubuhnya. Eldo menatap Dilah penuh mesra.


"Berjanjilah jika kau menikahinya kau tidak akan mencintainya. Cintamu hanya untukku," ujarnya kemudian memeluk Eldo. Dilah meneteskan air matanya dibalik punggung sang suami.


"Iya, aku tidak akan mencintainya. Percaya padaku."


Tangisan bayi terdengar nyaring di kamar. Eldo dengan cepat berjalan ke box bayi yang tak jauh dari cermin. Ia ambil putranya dari box bayi tersebut dan menimangnya.


"Sayang, ini Papa." Eldo menimang putranya dan berusaha untuk meredakan tangisan putranya itu.


Tangisan Vino mereda. Eldo mengembalikan Vino ke tempatnya semula namun Vino menangis kembali. Vino tak rela ayahnya pergi.


Eldo mengulangi hal yang sama untuk meredakan tangisan putra semata wayangnya itu. Akhirnya Vino tak menangis lagi. Eldo mengatur nafas dan duduk di pinggir tempat tidur.


Dring! Dring!


Ponsel Eldo berdering berulang kali. Eldo malas mengangkat telepon tersebut. Namun karena ponselnya terus berdering dan tak ingin anaknya bangun karena kebisingan ponselnya dengan terpaksa ia mengangkat telepon tersebut.

__ADS_1


"Eldo kau sudah dimana?" tanya Menir membentak. "Lama sekali, sudah saatnya kau menikah!" perintah Menir dengan suara meninggi.


"Iya Pa, sebentar lagi akan sampai,"


"Cepat sedikit!"


Glep!


Menir memutuskan sambungan teleponnya. Sedangkan Eldo memasukkan ponsel tersebut ke dalam saku celananya. Ia pamit pada sang istri yang paling ia cintai. Ia sekarang ujung mata akibat air mata yang hendak jatuh.


Eldo menghembuskan nafasnya keras. Ia melihat istrinya tersenyum. Eldo tahu benar itu senyuman terpaksa. Ia tahu istrinya jauh lebih sesak dibandingkan dirinya. Eldo masuk ke mobil kemudian menghidupkan mobil.


Dring! Dring!


"Eldo! Kau sudah berada dimana?" tanya Menir membentak.


"Tuhan, mengapa rasanya menyakitkan?" Eldo memukul setir mobilnya.


"Haa....!" teriak Eldo ketika mobilnya bertabrakan dengan pengendara motor.


***


"Pak Menir, mengapa lama sekali?" tanya Fina cemas. Fina mondar-mandir sambil terus menghubungi Eldo.

__ADS_1


"Tidak aktif," Fina semakin cemas. Ia menggigit jari kelingkingnya lalu ia mengusapkan air keringat di dahinya.


Dreet! Dreet! Dreet!


Ponsel Menir bergetar. Menir berdiri menuju tempat yang lebih sepi lalu ia mengangkat teleponnya.


"Dengan orang tua, Eldo?" tanya suster.


"Iya, saya ayahnya, Ada apa ya?" tanya Menir semakin cemas. Ada pada, pikirnya. Mengapa ponsel Eldo ada pada suster rumah sakit?


"Eldo kritis di rumah sakit, Pak."


"Apa?" Mata Menir melotot. Tubuhnya menegang ia terduduk di kursi. Lemas.


"Iya Pak, Eldo mengalami kecelakaan,"


Menir langsung syok. Sambungan telepon antara suster dan Menir terputus. Menir menginformasikan tentang kecelakaan tersebut. Semua langsung syok terutama ibu dari Eldo. Acara pernikahan tak lagi diindahkan. Pikiran mereka tertuju pada Eldo. Bagaimana keadaan Eldo sekarang?


Dengan ngebut mereka menuju rumah sakit dimana Eldo di rawat.


"Bagaimana keadaan Eldo?" tanya Menir ketika dokter keluar dari ruangan dimana Eldo di rawat.


"Eldo sudah sadar," jawab dokter tersebut singkat.

__ADS_1


"Bolehkah kami menjenguknya," ucap Menir tidak sabaran.


"Silahkan!" Dokter tersebut mengijinkan mereka masuk.


__ADS_2