
Semenjak kepergian Eldo, Dilah beberapa hari ini tak nafsu makan. Ia sering merenung sendiri di kamar.
"Maafkan aku, dulu aku telah memperlakukanmu dengan buruk," Dilah terisak tangis. "Aku sangat mencintaimu, Eldo. Dari dulu hingga sekarang," ujarnya. Dilah mencium putranya yang tidur di gendongannya. Ia letakkan Vino di box bayi kemudian ia naik ke tempat tidur. Mimpi yang mempertemukan Dilah dengan sang suami.
Dilah melihat Eldo berpakaian putih dengan wajah bersih. Eldo duduk di sampingnya.
"Sayang," panggilnya pada Dilah.
"Kamu masih hidup? Kan benar aku menduga kau masih hidup," ujar Dilah girang.
Eldo menggelengkan kepalanya kemudian ia tersenyum. "Aku baik-baik saja di sini. Jangan menghawatirkanku," Eldo tersenyum cerah.
"Aku... Aku sangat mencintaimu. Aku merindukanmu. Aku, aku ingin selalu di dekatmu. Aku ikut kamu ya!" pinta Dilah.
"Jangan! Kamu tetap berada di sini. Tolong jaga Vino untukku." Eldo berdiri dan berjalan pelan entah pergi kemana. Dilah mencoba mengejarnya namun ia tak dapat mengejarnya. Hingga Dilah tersadar bahwa ia sedang bermimpi.
"Dilah makan dulu, Nak. Kalau kamu tidak makan kan kasihan Vino. Dia tak mendapatkan nutrisi banyak."
__ADS_1
Dilah mengangguk dan berjalan untuk menuju meja makan. Ia mengambil makanannya sedikit dan menyuapnya perlahan.
Dulu Eldo sering menyuapiku makan. Dilah membatin.
"Makannya jangan malas-malasan dong," Laura sewot.
Dilah tersentak kaget. Tatapannya mengarah Laura. "Dulu Eldo sering menyuapiku," ucap Dilah lirih. Laura melirik tidak suka pada Dilah. Mereka melanjutkan makan malam dengan hening.
Seusai makan Dilah menemui ibu mertuanya. Ia ingin tahu mengapa Eldo tiada. Dilah duduk berhadapan dengan Yulia. Yulia mengusap ujung matanya dan menghembuskan nafas perlahan.
Menir, Dasar pembunuh. Dilah membatin. Kerena cerita itu Dilah menjadi benci pada Menir_mertuanya.
"Mama harap kau dapat tegar dan ikhlas menerima kepergiannya," ujar Yulia. Yulia berdiri dan masuk ke kamarnya.
Dilah berjalan lemah ke kamarnya. Dilah melihat Vino yang tersenyum kearahnya. Dilah mengambil Vino dari box bayi meletakkannya di tempat tidur. Dilah berbaring miring kearah Vino.
"Sangat mirip dengan Papanya," ucap Dilah sambil menitikkan air mata.
__ADS_1
"Vino, cuma kamu kekuatan buat Mama bertahan hidup." Dilah mencium pipi putranya. Putranya terdengar berceloteh tak jelas seperti bayi pada umunya.
"Matanya, hidungnya, lesung pipinya. Semua mirip denganmu Eldo." Bulir-bulir bening jatuh membasahi pipinya. "Dia pengobat rinduku saat aku tak bisa melihatmu lagi untuk selama-lamanya."
"Eh, eh, eh," ucap Vino sambil menarik baju ibunya.
"Kamu haus?" tanya Dilah sambil tersenyum.
Dilah memberikan ASI pada Vino sambil menidurkannya. "Andai saja Eldo masih hidup pasti hidupku jauh lebih baik."
***
Yulia duduk di pinggir tempat tidurnya. Ia tak berbicara sedikitpun pada Menir. Ia masih sangat kesal pada Menir. Keegoisan Menir membawa petaka.
"Mau sampai kapan kau mendiamkan ku?" tanya Menir kesal. Sudah agak lama ia tak diajak bicara.
"Dasar pembunuh," celetuk Yulia yang membuat hati Menir hancur.
__ADS_1