
Robert dan Irene serta George anak mereka datang ke Indonesia untuk liburan. Mereka menginap di salah satu hotel terbaik. Mereka berniat ingin mengundang Dilah, Fina, Yoga, Joa dan lainnya untuk datang ke hotel dimana mereka menginap. Robert dan Irene ingin membuat acara pesta minum teh di hotel tersebut.
Dilah, Fina, Yoga, Joa, dan lainnya menghadiri pesta minum teh tersebut.
"Wah.. Sudah lama tak berjumpa, ternyata kamu sudah hamil," ujar Robert.
"Iya, kau sudah lama tak datang kesini," Dilah tersenyum ramah pada Robert.
"Hem.. Itu karena putra kami Goerge sudah masuk sekolah, jadi sangat sulit untuk mengajaknya jalan-jalan, jadi ini waktu yang tepat karena libur musim panas di Inggris," Robert tersenyum simpul.
"Iya, terakhir kali kita berjumpa kalau tidak salah di Francis ya?"
Robert mengingat kembali, "Mungkin saja," jawabnya asal. Ia ternyata sudah lupa.
"Hei!" Fina datang menggandeng Yanto yang sudah menjadi suaminya. Ia tersenyum manis dan melambaikan tangan.
Amel yang ikut hadir menjadi iri, cuma dia yang tidak membawa pasangan. Bahkan Heni yang telah putus dengan Erick kini telah menikah dengan Ronald. Yang lebih membuatnya iri ketika ia melihat Dilah dan Ali saling bermesraan. Entah mengapa Amel begitu mencintai Ali belakangan ini. Rasa bencinya dulu kini berubah menjadi rasa cinta yang tak kunjung bisa hilang. Malah kadar cinta itu bertambah saja.
"Ini saatnya aku mendapatkanmu, Ali," gumam Amel yang hanya dia sendiri yang mendengarnya.
Amel bersembunyi di kamar hotelnya. Amel ternyata telah menyewa kamar hotel tersebut. Ia membayar laki-laki untuk mengobrol dengan Ali. Ali diajak pria tersebut untuk berbincang di kamar miliknya mengenai bisnis. Ali yang sudah menjadi pengusaha menggantikan Dilah langsung tertarik.
"Maaf Tuan Ali, saya keluar sebentar. Saya ingin memanggil teman saya. Ini tidak lama," ucap pria tersebut tersenyum misterius.
Ali menunggu pria tersebut dengan minum teh. Secara mengejutkan Amel ada di kamar tersebut. Ia memakai baju yang sangat seksi.
Amel merobek bajunya membuat Ali semakin bingung. Pria yang dibayar Amel tadi memanggil Dilah, Fina, Yoga, dan lainnya termasuk Robert.
"Aku melihat Ali berduaan di kamar dengan seorang wanita," ucap pria tersebut memfitnah.
"Aku tidak percaya, bukankah dia bersamamu tadi?" tanya Dilah tak percaya, tapi kata-kata pria tadi menyakitkan kalau itu memang benar adanya.
"Iya, tapi ternyata dia mengusir saya dan menyuruh saya untuk pergi," ucap pria tersebut memfitnah.
"Aku masih tidak percaya," Dilah yakin suaminya tidak seperti itu.
"Baik kita buktikan," pria tersebut tersenyum puas.
Pria tersebut membawa Dilah beserta teman-teman Dilah. Ketika pria tersebut membuka pintu. Dilah benar-benar terkejut. Ucapan pria yang tidak mereka kenali itu berkata benar menurut kaca mata mereka. Ali memang sedang bersama Amel di kamar hotel. Yang membuat fitnah itu semakin nyata adalah baju Amel yang koyak dan Amel menangis disana.
"Kau harus tanggung jawab Ali," ucap Amel terisak tangis.
"Aku tidak melakukan apapun padamu,"
__ADS_1
Dilah benar-benar termakan fitnah. Ia lari dari tempat tersebut sembari menangis. Ia berniat pulang ke rumah orang tuanya. Ali langsung mengejar Dilah dan berniat untuk menjelaskannya, tapi langkahnya di tahan oleh teman-teman Dilah.
"Aku tidak menyangka kau sekeji ini, Ali." ujar Yanto marah.
Mereka menarik Ali untuk bertanggung jawab atas perbuatan yang tidak ia lakukan.
"Kau harus bertanggung jawab atau kau dipenjara," ucap Yoga geram.
"Aku lebih baik dipenjara dari pada menikah dengan wanita yang licik seperti dia,"
Ali pasrah digiring ke kantor polisi. Ia di introgasi di kantor polisi. Ali ditahan untuk sementara waktu sebelum ia mendapatkan bukti bahwa ia tidak bersalah.
***
"Tega kamu, tega sekalo kamu samaku," Dilah menangis histeris. Ia merasa dihianati.
"Kau bukan Ayah anakku!"
Akibat fitnah tersebut, Dilah membenci Ali. Ia merasa sangat sesak di dada.
Riki dan Dini mendapat berita tersebut tak menyangka atas perbuatan Ali. Yang paling terpukul adalah Riki, ia menyalahkan dirinya atas kejadian ini.
"Seharusnya aku tidak menjodohkanmu dengan putriku," ujar Riki kesal.
"Pa, sabarlah dulu. Entah mengapa Mama yakin Ali tidak bersalah," perasaan Dini merasa bahwa Ali tak bersalah. Biasanya perasaan seorang ibu benar.
"Iya, aku tidak boleh gegabah menyalahkan orang,"
Mata-mata seperti dia tak mungkin seperti itu. Lagi pula, Ali adalah pria religius, Riki membatin.
***
Heru datang mengunjungi Ali,
"Ali, aku tahu semuanya," ujar Heru serius.
"Apa Pak?" Ali menunduk.
"Aku menjalankan misi semalam dan hari ini di hotel tersebut. Aku ingin mengungkap bisnis gelap yang menjual wanita-wanita." ujar Heru.
"Lalu Pak?" Ali mengernyitkan dahinya.
"Misiku masih dalam penyelidikan polisi. Tapi Ali, semua yang terjadi padamu telah diatur," Heru mengingat kembali.
__ADS_1
"Semua telah diatur sedemikian rupa agar kau
bersamanya wanita licik itu di kamar," lanjut Heru.
"Aku tidak menyadari akan terjebak seperti ini," sesal Ali pada dirinya sendiri.
"Ini sebuah ujian,"
"Pak, waktu Bapak sudah habis," ucap polisi yang berjaga.
"Iya Pak," ujar Heru.
"Aku akan mengeluarkanmu dari kantor polisi, entah itu jalur legal maupun ilegal," ucap Heru, kemudian ia meninggalkan Ali.
"Hei! Kau pria yang tega menodai wanita?" tanya pimpinan penjara. Ia paling berkuasa di dalam penjara.
"Tidak, aku di fitnah," ujar Ali jujur.
"Aku tidak percaya, kalian semua hajar pria kotor ini," ujar pimpinan di dalam penjara.
Para penghuni penjara siap sedia untuk menghajar Ali. Tapi mereka tidak mengetahui siapa Ali sebenarnya. Ali menerima tantangan mereka untuk berkelahi. Ali mengalahkan semua pengguni satu sel dengannya.
"Ampun! Ampun!" ucap pimpinan di dalam sel penjara.
"Dengar ya! Aku tidak melakukan hal keji itu," ujar Ali serius melihat mereka secara bergantian.
***
Amel dan Danial bertemu di markas, Danial puas atas kerja Amel.
"Haha... Kau sangat pintar, Amel. Sebentar lagi aku akan menikahi Dilah dan menguasai hartanya." ujar Danial menang.
"Aku jadi benci tindakanku tadi. Mengapa Ali lebih memilih membusuk di penjara dari pada menikah denganku," ujar Amel kesal. Niatnya untuk menikah dengan Ali gagal.
"Sudahlah Amel, Ali bisa kau dapatkan lagi. Yang terpenting adalah uang. Uang yang banyak sebentar lagi akan jadi milik kita," ujar Danial licik.
Amel tidak begitu mendengar ucapan Danial. Ia masih memikirkan Ali. Ia takut sekali terjadi sesuatu pada Ali.
"Amel! Aku sedang berbicara denganmu," Danial menjadi kesal.
"Iya, iya. Yang terpenting adalah uang," ujar Amel tersenyum terpaksa.
"Amel! Amel! Terima kasih telah menghancurkan Dilah dan Ali. Aku sangat dendam pada mereka. Terima kasih telah membals dendamku," Reno datang ditengah-tengah Amel dan Danial.
__ADS_1
"Kan sudah aku katakan kalau aku pintar. Aku bisa memisahkan mereka dengan mudah," ucap Amel angkuh.
"Aku apresiasi kau, aku memberimu 100 juta atas kerja kerasmu," Reno memberikan koper pada Amel yang berisi uang 100 juta rupiah.