
Ali dan Amel menuju ke restauran terkenal. Mereka duduk berhadapan satu sama lain. Amel terus tersenyum mengoda kepada Ali.
Aku akan mendapatkanmu dengan waktu singkat untuk menunjukkan pada Reno bahwa aku mampu. Amel
Pelayan datang untuk memesan makanan dengan sigap Amel memesan makanan untuknya dan Ali.
"Ali, bagaimana pekerjaanmu, mengapa kau bisa jadi guru?" tanya Amel masih dengan senyum menggoda.
"Itu karena rekomendasi dari pemilik sekolah." senyum Ali ramah.
Ketika itu, Dilah dan koleganya akan bertemu di sebuah restauran yang sama dengan Ali dan Amel makan. Dilah duduk berjarak 5 meter dari tempat Amel dan Ali. Dilah memberikan laporan keuangan pada koleganya agar semakin yakin untuk investasi ke perusahaannya. Pada saat itu, Ali tak melihat Dilah berada disana karena Ali duduk membelakangi Dilah.
"Cukup mengesankan," ucap kolega Dilah tertarik.
"Iya Pak, bahkan pengusaha muda minyak Abizar investasi ke perusahaan kami," ujar Dilah meyakinkan.
Dilah melirik kedepan, ia melihat punggung suaminya yang telah berhadapan dengan seorang wanita.
"Itu kan Amel!" gumam Dilah pelan.
"Ada apa Nona?" tanya koleganya bingung.
"Tidak ada, ayo Pak dilanjut!" Dilah tersenyum ramah.
Amel mencuri kesempatan ketika Ali meletakkan tangan kirinya di meja. Ia menyentuh tangan Ali.
"Maaf, maaf. Aku tak sengaja menyentuh tanganmu. Sebenarnya aku ingin mengambil minuman ini." menunduk merasa bersalah. Kebetulan minuman itu di dekat tangan Ali.
"Tidak apa-apa," Ali tak mempermasalahan Amel yang menyentuh tangannya.
Dilah yang berdua bersama koleganya makin kesal. Ia tahu betul itu Ali suaminya. Ia ingat dengan jelas baju yang suaminya kenakan.
"Aku sebenarnya ingin curhat," Amel menitikan air mata buaya yang membuat Ali iba. Dengan segera Ali mengeluarkan sapu tangan dari kantong bajunya.
"Ini, pakailah untuk membersihkan air matamu." ujar Ali memberikan sapu tangan.
"Terima kasih," Amel terisak tangis.
Dilah tak menghiraukannya lagi karena sibuk dengan koleganya. Setelah koleganya sudah tanda tangan, Dilah curi-curi pandang kearah Ali dan Amel namun tetap berbicara santai dengan koleganya.
Itu kan Dilah Wiranata, baru sadar aku dia ada disini, hahaha. Baiklah jika dia ada di sini mengapa tak membuat dirinya semakin panas dan menceraikan Ali. Amel
"Ali, aku baru putus dengan pacarku," suara Amel tersedu-sedu, seperti orang yang tersakiti.
__ADS_1
"Tenanglah Amel, mungkin dia bukan jodohmu." senyum Ali dengan ramah.
Mengapa dia curhatnya masalah cinta padaku. Masalah seperti ini cocoknya wanita dengan wanita yang curhat.
"Rasanya sesak Ali, dia memutuskanku tanpa alasan," ujar Amel sambil menahan senyum jahatnya dan mengegam tangan Ali yang berada di meja.
Kurang ajar Amel, dia memegang tangan suamiku. Dulu dia selalu menghina suamiku. Sekarang dia mencoba untuk menggodanya. Benar, apa yang dikatakan Heni tentang Amel.
Dilah ingin sekali bangkit mendekati Ali dan Amel untuk meluapkan emosinya. Tapi tak mungkin ia melakukannya. Banyak tamu disini belum lagi ada kolega terhormat.
"Amel, kamu kan cantik. Masih banyak laki-laki yang menyukaimu dan serius padamu." senyum Ali menangkan Amel.
"Kau benar Ali, untuk apa aku bersedih karena laki-laki penghianat itu." Amel berpura-pura kesal.
Dilah telah selesai dengan urusan bersama koleganya. Ia masuk ke mobil taksi online yang ia pesan. Rasanya ia ingin sekali meremas Ali sangkin kesalnya.
Enak ya kamu di pegang-pegang Amel tanpa memperdulikan perasaanku. Batin Dilah
Setelah sampai kantor, jam sudah menunjukkan pukul 17:20 Dilah menyusun barang-barang di ruangannya. Sedangkan Ali masih di restauran bersama Amel.
"Amel, sudah jam segini aku belum salat ashar dan sebentar lagi aku akan menjemput istriku." ujar Ali sambil berdiri, mereka sudah selesai makan dan lama di restauran tersebut karena mengobrol.
"Baiklah, aku juga ingin pulang," Amel tersenyum manja.
"Sudah jam 17:35," ujar Ali panik.
Ali langsung menjemput Dilah di kantor. Ia melihat depan kantor dan tak ada istrinya. Biasanya istrinya selalu menunggu walaupun ia telat. Tapi kali ini, Dilah tak ada di sana. Ali masuk ke kantor dan bertanya pada karyawan di sana yang belum pulang.
"Nona Dilah, masih ada di kantor?" tanya Ali dengan nada khawatir.
"Tidak Tuan, Nona sudah pulang sejak tadi," ujar karyawan tersebut.
Astaga, Maafkan aku Tuan Riki. Aku sudah berjanji untuk menghantar dan menjemput putrimu. Tapi kali ini dia pulang sendiri.
Ali langsung keluar dari kantor dan berlari kecil kearah mobil. Ia langsung tancap gas menuju rumah. Sesampainya dirumah, keadaan rumah hening. Dilah duduk di sofa sambil mengunyah makanan ringan dan melihat sinis pada Ali.
"Sayang, kamu kenapa tak menungguku untuk menjemputmu?" tanya Ali yang ikut duduk di sampingnya.
"Entah!" ujar Dilah sambil menggeser tubuhnya dari sofa untuk menjauhi Ali.
"Lain kali jangan seperti itu," senyum Ali kearah Dilah tapi Dilah menanggapinya dengan wajah sinis.
Ada apa ya dengan dia?
__ADS_1
Dilah tak menjawab perkataan Ali. Ia bangkit dari sofa dan menuju kamar mandi.
Aku besok bawa mobil sendiri tak perlu diantar dan dijemput olehmu. Gerutu Dilah dalam hati.
Setelah selesai salat isya, Ali dan Dilah duduk di meja makan dengan keheningan malam. Walaupun dalam keadaan cemburu ia masih bisa diandalkan untuk masak.
"Mengapa makannya sedikit?" tanya Dilah dengan suara ketus.
"Hehehe sudah kenyang Sayang, tadi sore sudah makan." ujar Ali nyengir sambil menggaruk kepala.
Sebahagia itu ya makan dengan Amel.
"Oh.." Dilah lanjut makan sedangkan Ali menunggu Dilah makan. Ia masih dengan wajah tersenyum manis.
"Ada apa, mengapa melihatku seperti itu?" tanya Dilah ketus.
"Tidak ada,"
Di sela sela makan Dilah merasa sangat mual. Ia berlari ke wastafel dan memuntahkan isi perutnya. Ali menjadi panik dan menyusul istrinya dari belakang.
"Kamu kenapa?" tanya Ali dengan raut muka khawatir.
"Tidak usah memperdulikan aku, aku hanya masuk angin," katanya ketus, kemudian ia mual dan muntah kembali. Karena cemburu Dilah tak terlalu peduli dengan keadaannya.
"Kita harus ke dokter," ujar Ali yang semakin khawatir.
"Tidak perlu, aku hanya masuk angin biasa." ucap Dilah, ia terlihat pucat.
"Tolong antar aku ke kamar!" pinta Dilah.
Ali memepah Dilah ke kamar dan membaringkannya ke tempat tidur.
"Aku akan membuatkanmu bubur, mungkin karena kamu masih sakit." ujar Ali, Ali langsung ke dapur.
Setelah selesai masak bubur, ia menuju kamar.
Aku malas memakan bubur. Batin Dilah
"Sayang makan ini ya," Ali tersenyum, kemudian ia mengambil sendok dan hendak memasukkan bubur tersebut ke mulut istrinya.
Dilah menggeleng, tak tahu karena apa yang jelas ia tak menginginkan bubur.
"Tidak mau ya?" tanya Ali sambil mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
Dilah mengangguk pelan, "Sayang makan ini ya, agar kamu bertenaga setelah muntah tadi. Aku khawatir kamu tambah sakit."