
"Pertanyaan lomba cerdas cermat tinggal 5 lagi. Diharap kepada Luna dan Lucia untuk lebih berhati-hati lagi. Jangan terkecoh dan tidak teliti."
Luna menghela nafas, mulutnya komat kamit membacakan doa. Sedangkan Lucia menganggap ringan. Ia terlihat angkuh dan menatap sinis pada Luna.
"Kalian siap?" tanya pembawa acara dengan suara lantang.
"Siap," jawab Luna dan Lucia bersamaan.
Luna melihat kearah gurunya yang menjadi idola sekaligus guru yang paling ia sukai. Ali mengacungkan jempulnya. Ali mengucapkan kata fokus tanpa terdengar suara. Luna mengangguk paham dan tersenyum manis pada Ali.
"Pertanyaan keenam, sebuah komik dengan harga Rp200,00 untuk 3 hari pertama dan Rp 100,00 per hari untuk hari selanjutnya serta ditambah denda apabila peminjaman melewati 10 hari. Jika Ulil menyewa komik tersebut selama 13 hari dan total uang yang dibayar adalah Rp2000,00 maka denda yang dibayar oleh Ulil adalah..."
Teeet!
Lucia memencet bel, Luna kalah cepat dari Lucia.
Ya tuhan jika Lucia menjawab benar, semakin sulit aku mengejarnya. Luna
"Rp100,00," jawab Lucia gak sombong.
"Salah,"
"Hah?" Lucia kembali menghitung di kertas buram miliknya.
"Luna tidak mau menjawab?" tanya pembawa acar tersebut.
Luna membeku, ia juga tidak yakin dengan jawabannya.
"800,00," jawab Luna agak ragu.
"Benar," ucap pembawa acara dan disambut sorak dan tepuk tangan.
"Ini tidak mungkin!" ucap Kharisma selaku mentor Lucia. Kharisma menghela nafas geram.
Aku tak mau dipermalukan oleh guru itu. Guru baru yang tidak jelas asal usulnya. Geram Kharisma dalam hati.
"Ini tidak dipercaya, murid yang bodoh itu, seimbang dengan Lucia," ucap guru BK yang duduk disamping Kharisma. Kharisma tak menjawab ucapan guru tersebut. Ia hanya menggeram kesal di dalam hati.
"Para penonton sekalian, ini sangat luar biasa Lucia dan Luna seimbang dalam perolehan poinnya." ucap pembawa acara dengan lantang. Para penonton bertepuk tangan seraya memeriahkan acara tersebut.
"Baiklah pertanyaan ketujuh, pada sebuah liga basket, sebuah tim harus bertanding sebanyak 90 kali dalam satu musim. Saat ini tim tersebut sudah menang dalam 20 pertandingan dan kalah 18 pertandingan. Berapa pertandingan lagi yang harus dimenangkan oleh tim tersebut agar secara keseluruhan tim tersebut menang 60% dari seluruh pertandingan?"
"Wih.. Pertanyaannya semakin menggila," ucap Bimo pada Dendi teman satu timnya yang mendukung Lucia.
"Segila dirimu," tawa Dendi meledek.
Teeet!
Kali ini aku tidak boleh salah. Lucia membatin.
"40," jawab Lucia yakin.
__ADS_1
Pembawa acara menggelengkan kepala. Membuat Lucia agak kesal. Ia menghentakkan kakinya.
"Salah," jawab pembawa acara.
Teeet!
Luna memencet bel, bahwa ia sudah siap menjawab.
"34," jawab Luna yakin.
"Benar," ucap pembawa acara.
"Horee..." Vino mengucapkan kata tersebut ditengah keheningan para penonton. Ali tertawa pelan mendengar Vino mengucapkan kata-kata tersebut.
"Lihat Sayang, betapa Vino mencintai Luna," ucap Ali sambil melirik istrinya dengan tersenyum usil.
"Jadi maksud kamu akan ada cinta segitiga antara Kamu, Luna, dan Vino itu maksudnya?" ucap Dilah dengan nada agak sedikit galak.
"Sayang, kau juga ikut serta jadi bukan cinta segitiga cinta segiempat," ujar Ali tertawa usil.
"Sekalian saja cinta jajar genjang," ucap Dilah ketus.
"Bukan, bukan tapi cinta trapesium,"
"Apakah kalian sedang belajar matematika?"
tanya Fina yang kebetulan duduk disamping kiri Dilah.
"Poin Luna 40 dan Lucia 30 poin," Lucia menjadi mendidih mendengar ucapan pembawa acara tersebut.
"Baiklah pertanyaan kedelapan, sebuah pekerjaan dapat diselesaikan oleh A dalam waktu 15 hari. Jika diselesaikan oleh B akan terselesaikan dalam waktu 10 hari. Jika dua hari pertama mereka melakukan pekerjaan diselesaikan oleh A, maka seluruh pekerjaan akan selesai dalam waktu..."
Teeet! Lucia memencet bel.
"8 hari," jawab Lucia tegas.
Pembawa acara kembali geleng geleng kepala. "Salah," ucapnya.
Luna tak kunjung memencet bel.
"Kita hitung sampai tiga, jika Luna tak memencet bel soal dianggap hangus."
"Satu, dua, ti..."
Luna memencet bel, "12," Luna menjawab asal.
"Benar," teriak pembawa acara.
"Poin Luna 50 poin dan Lucia masih 30 poin. Jika satu pertanyaan ini Luna menjawab benar bisa di pastikan Luna pemenangnya." ucap pembawa acara.
"Ini tidak boleh terjadi, betapa malunya aku pernah menghina Luna waktu itu," ucap ibu Kharisma khawatir Luna akan menang.
__ADS_1
Nafas Naomi memburu, ia tak menyangka Luna unggul 10 poin dari Lucia.
"Tuntaskan! Tuntaskan! Tuntaskan!" teriak Vino melambaikan tangan dan diikuti para supportet Luna lainnya.
"Diharap penonton tetap tenang!" ucapan pembawa acara tersebut membuat Vino dan lainnya hening.
"Pertanyaan kesembilan, sebuah jam tiap hari terlambat 15 menit, berap hari yang diperlukan oleh jam tersebut untuk sampai atau kembali pada titik jam tersebut menunjukkan waktu yang benar?
Teee!
Luna memencer bel membuat kepala sekolah SMA San Teresyia Bakti School menelan ludah.
"144 hari," ucap Luna setelah menghela nafas. Mendadak Lucia melotot tajam. Waktu seakan berhenti.
Pembawa acara tersebut memperlambat jawabannya agar penonton semakin penasara.
"Sa.." ucap pembawa acara. Vino agak pucat mendengar kata pembawa acara tersebut.
"Ralat," ucap pembawa acara tersenyum.
Luna membeku, apakah aku pemenangnya? Apa aku sedang bermimpi.
Vino sudah seperti cacing kepanasan. Tak henti-henti ia bersorak dan girang.
"Benar, selamat untuk Luna. Kau pemenangnya,"
Luna berkaca-kaca. Ia langsung sujud syukur untuk mengungkapkan rasa syukurnya kepada Tuhan.
"Selamat untuk juara baru kita Luna Isyani Darmansyah," ucap pembawa acara dengan lantang.
Lucia menitikan air mata. Rasa malu, kesal, marah bersatu di dalam hatinya.
Luna bangkit dari sujudnya. Ia menangis bahagia karena memenangkan lomba tersebut. Tapi ada satu hal yang membuatnya sedih, orangtua Luna tidak hadir untuk menyaksikan perjuangannya.
"Selamat kepada sang juara, Anda mendapatkan uang tunai sebesar 100 juta rupiah dan beasiswa kuliah di Inggris,"
"Kepada Panitia lomba dipersilahkan untuk memberikan hadiah pada pemenang lomba."
Rustam berjalan kearah podium. Ia mengakungkan medali pada Luna dan memberikan hadiah yang lainnya. Kemudian ia menjabat tangan Luna.
"Selamat ya," ucapnya tersenyum manis.
"Terima kasih Pak!" ucap Luna sambil menitikan air matanya.
Ibu Noumi menatap malu pada Luna. Pasalnya kali ini murid yang tidak ia sukai ternyata murid yang cukup pintar dan berprestasi.
Luna memecingkan matanya kearah Ali. Ia melambaikan tangan pada Ali. Ali mengangguk dan memberikan dua jempol untuk Luna. Dilah agak sebal melihat Ali tersenyum manis di depan Luna. Tapi, ia mengesampingkan rasa cemburunya. Ia bertepuk tangan untuk Luna.
"Akhirnya kedua orang yang mencintaiku akur juga," ucap Ali usil pada istrinya.
"Apakah kau sudah siap untuk tidur sendiri?" tanya Dilah dengan sebal
__ADS_1