Jatuh Cinta Padamu

Jatuh Cinta Padamu
Bertemu Ali


__ADS_3

Eldo semakin meradang melihat Dilah pulang tidak tepat waktu. Eldo mengintai Dilah dari kejahuan. Ia memakai jaket Hoodie hitam dan kaca mata hitam. Ia layaknya detektif.


"Hei Ali," sapa Dilah dengan melambaikan tangannya.


"Hei sudah lama tidak bertemu," Dilah memeluk Ali sahabatnya membuat Eldo kesal tapi ia tahan semuanya.


Jadi selama ini kau bertemu dengannya? Pantas saja kau sering pulang larut malam. Eldo membatin. Ia membuka kaca mata hitamnya dan mengusap ujung matanya dari air mata.


Eldo tak mendengar ucapan Dilah dan Ali. Ia mengira Dilah dan Ali sering melakukan pertemuan. Tapi nyatanya tidak seperti itu.


"Kau kemana saja Ali? Kau sibuk ya?" Dilah tersenyum manis bersama Ali.


Bahkan ketika bersama Ali kau tersenyum tapi berbeda denganku. Kau selalu marah padaku padahal aku selalu menunjukkan cintaku. Eldo membantin.


"Aku.. Aku sangat sibuk mengurus bisnisku." Ali menggaruk kepalanya pelan.

__ADS_1


Sebenarnya aku sering berobat ke rumah sakit untuk menyembuhkan penyakitku. Andai saja umurku masih panjang aku pasti akan akan menikahimu lebih dulu sebelum Eldo. Aku pasti akan menjadi kekasihmu sebelum Eldo, batin Ali.


"Wah... Berarti kamu semakin sukses nih... Kapan kamu menikah?" tanya Dilah dengan menampilkan senyum manisnya.


Ali masih termenung, ia diam dan tak mendengar pertanyaan dari Dilah.


"Ali," panggil Dilah tapi Ali masih diam.


"Ali," panggil Dilah sekali lagi.


"Ya Tuhan mengapa hatiku sakit sekali? Aku melihat dengan nyata istriku mesra seperti itu dengan orang lain." Eldo memukul dadanya akibat rasa sakit di rongga hatinya. "Sakit!" pekiknya.


"Eh, maaf aku begong karena kau begitu cantik malam ini." Ali tertawa kecil.


"Hah, tidak mungkin Ali. Seorang Dilah tak secantik itu." Dilah tertawa lepas.

__ADS_1


"Aku nyaman bersamamu Ali. Kalau bersamamu aku menjadi diriku sendiri. Aku jadi ceria dan menyenangkan. Tapi ketika aku bersama orang lain aku jadi pribadi yang berbeda." Dilah menjelaskan pribadinya yang sebenarnya.


"Jadi seperti apa dirimu jika bersama orang lain?" Ali menaikkan alisnya.


"Aku jadi wanita yang sombong, angkuh, sok berkuasa. Aku mencoba menjadi wanita tangguh padahal aku sering menangis belakangan ini melihat kelakuanku sendiri. Aku tak suka zona ini, zona dimana aku merasa diriku orang lain. Kau tahu kan Ali, karena balas dendam aku begini. Bukan hanya pada Eldo tapi pada orang-orang yang telah menghinaku."


"Iya aku paham itu. Betapa sulitnya kita dulu sekolah ditempat orang kaya dengan jalur beasiswa. Kita sering direndahkan karena tidak punya kekayaan seperti mereka. Kita dipandang sebelah mata." Ali mengingatkan cerita masa sulit mereka.


"Iya kita saling menguatkan pada saat itu. Tapi kita tidak bisa bersatu." Dilah memancarkan mata penuh arti.


Aku sangat ingin bersamamu. Tapi aku berharap kau jangan sampai jatuh cinta padaku. Aku takut kau merasakan sakit karena aku akan meninggalkanmu. Meninggalkanmu untuk selamanya, batin Ali.


"Oh ya, bagaimana hubunganmu dengan Eldo?" tanya Ali antusias untuk mengalihkan pembicaraan.


"Jangan bahas dia, aku benci! Benci padanya!" raut wajah Dilah tiba-tiba berubah.

__ADS_1


Eldo yang mengintai mereka merasa sudah cukup. Ia tak mau melihat istrinya berduaan dengan laki-laki lain. Eldo bisa melakukan hal-hal yang diluar dugaan nantinya.


__ADS_2