Jatuh Cinta Padamu

Jatuh Cinta Padamu
Bertemu Ali


__ADS_3

Ali mencari-cari keberadaan sahabatnya di masa SMA yaitu Dilah. Ali sudah mendatangi kediaman Dilah namun Dilah sudah tidak tinggal disana. Sampai pada akhirnya Ali mendapatkan informasi tentang dimana keberadaan Dilah sekarang.


"Permisi," Ali mengetuk pintu.


"Sebentar," tergopoh-gopoh untuk membukakan pintu rumah.


"Mau cari siapa, Pak?" tanya Rumi pelayan rumah. Ia tak mengenali Ali karena untuk pertama kalinya Ali datang ke rumah ini.


"Dilah, Bi. Dilahnya ada?" tanya Ali sambil melihat sekitar rumah mewah tersebut.


"Ada, tunggu sebentar!" Bibi Rumi berjalan menuju kamar Dilah yang berada di lantai dua. Sedangkan Ali duduk di depan sambil menunggu kedatangan Dilah sahabatnya.


"Nona," Bibi Rumi mengetuk pintu. Tapi Dilah tak menjawab panggilannya. Rumi pun mengulang kembali.


"Nona," mengetuk pintu dengan sedikit keras dari sebelumnya.


"Iya, Bi sebentar!" ucapnya. Terdengar hentakan kaki yang menuju pintu.


Ceklek!


"Iya Bi, ada apa?" Tanya Dilah lembut. Matanya terlihat bekak akibat sering menangis.

__ADS_1


"Ada seorang pria yang mencari Nona," jawab Bibi tersebut.


"Pria? Siapa?" Dilah heran selama ini ia tak dekat dengan laki-laki manapun. Apalagi ia sering mengurung diri. Sulit rasanya ada laki-laki yang mencarinya.


"Kurang tau sih, coba dilihat dulu!" Pinta Bibi Rumi. Dilah mengangguk dan mengikuti Bibi Rumi dari belakang.


"Ali," Dilah terkejut sekaligus senang. Ali datang dihadapannya.


"Dilah," Ali mendekati sahabatnya itu. Melihat dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"Kau sudah bisa melihat?"


"Kenapa?"


Dilah tersenyum dan menggeleng kepalanya. Aku harus ikhlas, pikirnya.


"Iya," Dilah memaksakan senyumnya.


Dilah dan Ali berbicara cukup panjang. Mulai dari bisnis, gaya hidup, dan lain sebagainya. Ali juga sering membuat lawakan jenaka yang membuat Dilah sedikit terhibur.


"Oh ya, belakangan ini aku tak pernah melihat Eldo?" Tanya pria berjas hitam tersebut.

__ADS_1


"Dia sudah pergi," air mata kembali menetes untuk kesekian kalinya. Membuat Ali geram, ia tak tahu kejadian sebenarnya.


"Dasar laki-laki pengecut!" Ali menghardik Eldo. Selama ini Ali sangat membenci Eldo. Membenci Eldo karena Eldo telah merebut Dilah darinya. Merebut cinta pertamanya.


"Dia tidak seperti itu,"


"Kau masih sama ya seperti dulu. Mau saja dibohongin Eldo. Mau saja menerima Eldo. Kau terlalu mencintai Eldo. Kapan kau bisa melupakannya?"


"Bagaimana aku tidak cinta padanya, Ali? Dia yang telah memberikan cinta padaku walaupun awalnya itu palsu. Tapi ternyata setelah menikah denganku dia berubah. Dia perhatian padaku. Dia menunjukkan cintanya padaku. Andai saja dia bisa kembali, hidup kembali maka aku akan membalasnya. Aku akan berbakti padanya." Dilah terisak.


"Dulu aku tidak berbakti padanya dan menganggap bahwa dia seperti yang dulu. Tapi ternyata aku salah. Dan asal kamu tahu dia yang telah memberikan kedua matanya untukku." Dilah mengusap air matanya.


"Tuhan, mengapa cinta tidak adil untukku?"


Ali terdiam, sungguh ia tak mengetahui sama sekali perubahan Eldo. Yang ia tahu bahwa Eldo seperti dulu pada masa SMA, orang yang suka memanfaatkan.


"Jadi apa rencanamu selanjutnya?"


"Aku tidak tahu, aku ingin sekali mati. Aku ingin sekali ikut bersamanya. Tapi ketika ingin bunuh diri aku melihat wajah Vino. Tak sanggup rasanya meninggalkan Vino seorang diri."


"Kamu harus ikhlas, semua ini sudah menjadi takdir,"

__ADS_1


__ADS_2