
"Sekarang kamu percaya kan padaku?"
Dilah mengangguk pelan. Eldo menanggapinya dengan senyuman manis.
"Oh ya makanannya," Eldo mengambil piring yang tadinya ia letakkan di atas meja.
"Kamu tidak keberatan kan aku suapin?"
Dilah menggelengkan kepalanya. Eldo mengambil makanan dengan sendok dan menyuapi istrinya. Begitu seterusnya sampai makanan tersebut tandas.
Makanan di piring telah tandas. Eldo berjalan ke dapur untuk mencuci piring. Sekarang pekerjaan Eldo bertambah banyak selain mengurus istrinya dia juga harus mengurus rumah dan pekerjaan di bengkel.
Eldo meletakkan piring pada tempatnya kemudian ia menghampiri istrinya yang masih duduk. Ia duduk kembali disebelah istrinya.
"Eldo," ucap Dilah sambil meraba-raba untuk memegang tangan Eldo.
"Iya, aku disini," ucap Eldo sambil mengulurkan tangannya. Dilah memegang tangan Eldo.
"Aku ada permintaan untukmu," ucapnya sambil memegang erat tangan Eldo.
__ADS_1
"Kamu mau apa?" Eldo tersenyum tulus.
"Aku ingin kamu cari wanita lain yang sempurna dariku. Aku tidak apa-apa kok kalau kamu..." ucapannya menyangkut.
"Huss!" Eldo menutup mulut Dilah dengan jari telunjuknya.
"Sayang, jangan katakan lagi! Kamu sempurna bagiku, kamu itu sempurna." Eldo memegang tangan istrinya dan menciumnya dengan lembut.
"Aku sangat-sangat sayang sama kamu." Eldo membelai rambut Dilah dan mencium puncak kepalanya.
bulir-bulir bening jatuh dipipinya. Yang selama ini Dilah anggap sebagai orang yang hanya memanfaatkannya saja ternyata tidak seperti itu. Malah justru Eldo orang yang benar-benar tulus padanya.
"Daripada bosan di rumah ayo kita jalan-jalan,"
"Ini tongkat," ucap Eldo sambil memegang tangan Dilah dan memberikan tongkatnya.
"Terima kasih, ini jauh lebih memudahkanku untuk berjalan." Dilah tersenyum cerah menggunakan tongkat pemberian sang suami.
Mereka menyusuri jalan. Tidak tahu ingin kemana yang pasti Eldo ingin membawa istrinya keluar dari rumah dan menghilangkan rasa jenuh karena seharian di rumah.
__ADS_1
"Ih.. Itu cowok ganteng kok mau ya sama cewek buta," ucap wanita berambut panjang yang bergosip dengan temannya. Suaranya terdengar oleh Dilah dan Eldo.
Raut wajah Dilah berubah seketika yang tadinya ceria kini raut wajahnya berubah menjadi sedih.
"Sayang, jangan dengarkan kata-kata mereka! Dengarkan aku, aku sayang padamu dan itu tidak akan berubah kecuali Tuhan yang membolak-balikkan hati dan perasaanku."
Dilah tersenyum terpaksa untuk menyenangkan hati Eldo. Akan tetapi ucapan wanita tersebut benar-benar menyiksa hatinya.
"Iya," ucap Dilah singkat dan cepat.
Sampai akhirnya mereka sampai di danau. Danau yang menjadi saksi bisu cinta Dilah pada Eldo. Eldo membawa Dilah kesini. Walaupun istrinya tak bisa melihat tapi Eldo percaya bahwa istrinya masih hafal benar dengan suasana danau ini.
"Ini dimana? Tapi suasananya tidak asing bagiku," ucap Dilah sambil menghirup udara sekitar danau yang benar-benar segar dan sejuk walaupun hari sudah siang menjelang sore.
"Kita di pinggir danau. Kamu ingat tidak kita pernah belajar disini. Tapi lebih tepatnya kamu yang belajar sedangkan aku hanya terima bersih jawaban kamu."
"Ini di pinggir danau? Danau itu?" tanya Dilah girang.
"Iya," Eldo mengangguk.
__ADS_1
"Andai aku bisa melihat. Aku pasti akan berlari riang disini dan menenggelamkan kakiku. Aku benar-benar rindu danau ini. Semenjak sibuk bekerja aku tak pernah kesini."
Aku akan mewujudkan harapanmu, Eldo membatin.