
Setelah salat subuh berjamaah, Dilah melihat sinis pada suaminya. Iya, dia tak ingin di bawa ke dokter hari ini.
"Kita ke dokter hari ini ya, Sayang," ucap Ali membujuk istrinya.
"Aku tidak sakit!" ucap Dilah ketus.
Ali membawa makanan ke meja makan yang baunya sangat menyengat membuat Dilah menjadi mual. Setelah mengeluarkan isi perutnya ia berjalan lemas sambil menutup hidung.
"Sudahlah Sayang, kita sekarang juga ke dokter. aku akan membuat surat izin ke sekolah San Teresyia Bakti School."
"Hem," Dilah masih saja merasa lemas.
Ali dan Dilah langsung menuju rumah sakit terdekat untuk memeriksakan keadaan Dilah.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Ali yang sudah sangat khawatir.
"Akan ada orang baru di kehidupan kalian," dokter tersebut tersenyum.
Dia dokter atau peramal? Batin Dilah
"Maksudnya Dok?" tanya Dilah yang tidak sabaran.
"Selamat Bu, Anda positif hamil," ucap dokter tersebut mengejutkan Ali dan Dilah.
"Apa Dok, hamil?" tanya Dilah bingung.
"Iya Bu," senyum dokter tersebut.
Setelah dokter memberikan penjelasan tentang kehamilan. Setelah selesai mendengarkan penjelasan dokter akhirnya mereka memutuskan untuk pulang ke rumah.
"Sayang, aku bahagia sekali mengetahui hal ini," Ali mengecup dahi istrinya.
"Iya aku juga, kamu ingin anak kita laki-laki atau perempuan?" Dilah tersenyum menatap Ali lekat.
"Aku menerima apapun yang Tuhan berikan," ucap Ali sambil mengelus perut istrinya yang masih datar. Kemudian ia menciumnya.
"Iya semoga saja wajahnya mirip denganku," ucap Dilah berharap.
"Sepertinya dia akan mirip denganku," ucap Ali untuk meledek istrinya.
"Tidak boleh!" Dilah membantah.
"Kita lihat saja nanti," Ali menantang dengan senyuman tipis.
"Baiklah, aku pastikan anakku akan mirip denganku," ucapnya angkuh.
"Hei, dia anakku juga." Ali menjadi kesal, karena istrinya mengucapkan hal demikian.
"Bagaimana kalau kita beritahu kedua orang tua kita."
"Ide yang bagus," Ali mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
"Kita menghubungi siapa terlebih dahulu, orangtuaku atau orangtuamu?"
"Terserah saja,"
__ADS_1
Ali berpikir sejenak, ia ingat bahwa mertuanya yang sudah tidak sabaran menunggu kehadiran cucu. Sehingga Ali memutuskan untuk menelepon orangtua istrinya terlebih dahulu.
"Sayang, jangan di telepon tapi video call saja," ucap Dilah memberi saran.
Ali mengangguk dan menghubungi orangtua istrinya.
"Tidak biasanya Ali video call ada apa ya?" gumam Riki heran.
"Assalamualaikum Pa," senyum Ali menyapa mertuanya.
"Wa'alaikum salam," Riki menjawab salam.
"Ada sesuatu hal yang ingin kami sampaikan," ucap Ali sedih, ia seperti berakting untuk memberi kejutan pada mertuanya.
"Apa itu?" tanya Riki yang mulai khawatir. Karena Ali dan Dilah terlihat sedih.
"Pa, sebenarnya..." ucap Dilah menggantungkan kata-katanya.
"Sebenarnya apa?" Riki mulai berdebar melihat Dilah yang tampak sedih. Apakah mereka kena musibah? Batin Riki.
"Pa, sebenarnya.." Dilah masih menggantungkan kata-katanya.
"Sebenarnya apa? Tolong jangan buat papa penasaran!" ucap Riki geram kepada anaknya sendiri.
"Aku hamil," ucap Dilah tersenyum dan di sambut senyum Ali juga.
"Kamu benar hamil, Nak?" tanya Riki memastikan, ia terlihat bahagia. Pancaran kebahagiaan muncul dari wajahnya.
"Iya," Dilah tersenyum bahagia.
Riki beranjak dari sofa dan memanggil istrinya.
"Iya Ma," ucap Dilah tersenyum
"Wah.. Sela.." kata-kata Dini terpotong karena suaminya memotong ucapannya.
"Selamat ya Ali, kerja kerasmu membuahkan hasil." ucap Riki memuji menantunya. Dilah yang mendengar itu menjadi kesal.
"Selamatnya cuma buat Ali?" tanya Dilah ketus.
Riki dan Dini tersenyum melihat Dilah yang cemberut. Selalu saja ayahnya membuat Dilah kesal. Ayahnya masih tak pernah berubah.
"Mau dapat selamat juga?" tanya Riki tersenyum tipis.
"Tidak usah,"
"Selamat ya Nak, sekarang kamu tidak boleh terlalu capek ya," Dini mengingatkan anak perempuannya.
"Terima kasih, Mamaku tersayang," Dilah tersenyum bahagia.
"Selamat ya Dilah Sayang, anak perempuan papa yang paling cantik," Riki tersenyum manis.
"Iya jelas aku yang paling cantik kan anak Papa yang perempuan cuma aku," ucap Dilah kesal dan mengerutkan bibirnya.
"Iya juga, hahaha," gelak tawa Riki yang semakin membuat Dilah panas.
__ADS_1
"Sudah-sudah, Dilah kamu ke rumah mama ya besok, segala urusan kantor serahkan saja sama suami kamu,"
Mata Ali dan Riki membulat, tak mungkin Ali kerja di kantor sedangkan ia belum menyelesaikan misinya.
"Ehem, sebaiknya papa saja yang mengambil alih, Ali kan masih jadi guru, ia punya tanggung jawab buat mengajar murid-muridnya." ucap Riki mendapatkan solusi.
"Hem ya sudah,"
Ali dan Riki menghembuskan nafas lega membuat Dilah dan Dini curiga.
"Kalian lagi menyembunyikan sesuatu ya?" Dilah mengernyitkan dahinya.
"Tidak, tidak, ya kan Pa?" tanya Ali gugup.
"Iya Nak, sudah dulu ya assalamualaikum," ucap salam Riki, mereka dalam kondisi gawat jika Dilah mengetahi profesi Ali.
"Wa'alaikum salam," ucap Ali dan Dilah bersamaan.
Aneh? Aku yakin papa menyembunyikan sesuatu dariku, tapi apa ya?
Sekarang giliran menghubungi ke dua orangtua Ali. Dilah tampak gugup, ia takut Arfan masih membencinya karena kesalahan di masa lalu.
"Jangan takut Sayang," ucap Ali sambil mengenggam jemari Dilah.
"Assalamualaikum," ucap salam Dilah dan Ali.
"Wa'alaikum salam," Aisyah menjawab dengan senyuman manis miliknya.
"Ma, kami ingin memberitahu kabar baik," ucap Ali tersenyum.
"Kabar baik apa?" tanya Dini yang tampak penasaran dari raut wajahnya.
"Panggil Papa, Ma!" pinta Ali.
Aisyah memanggil suaminya, mendengar yang video call adalah Ali dan Dilah, sebenarnya ia enggan melihat menantunya. Entah mengapa sakit hatinya masih ada. Aisyah terus memaksa sehingga Arfan pasrah saja.
"Kabar apa Nak?" tanya Aisyah sekali lagi.
"Istriku hamil Ma," ucap Ali tersenyum dan diikuti senyuman Dilah.
Aisyah dan Arfan terkejut, kabar bahagia ini mungkin akan membuat sakit hati Arfan berangsur hilang.
"Selamat ya untuk kalian berdua," Aisyah menahan air mata bahagianya tapi ia tak sanggup, akhirnya air mata tersebut jatuh membasahi pipinya.
"Sama-sama, Ma," jawab Dilah dan Ali serentak.
Arfan memeluk istrinya, kini Arfan tersenyum. Dengan hamilnya Dilah, mungkin sudah nyata bahwa Ali dan Dilah saling mencintai. Pikiran buruk tentang Dilah sudah ia buang jauh-jauh.
"Selamat ya untuk kalian berdua," ucap Arfan dengan dingin tapi hatinya tak bisa dibohongi. Ia merasa bahagia mendengar kabar bahagia ini.
Dilah dan Ali terkejut dengan ucapan Arfan. Walaupun terdengar datar tapi Arfan seperti sudah membuang rasa sakif hatinya.
"Sama-sama Pa," ucap Ali dan Dilah.
"Jaga baik-baik dia, dia anugrah yang kami nantikan," ucap Arfan membuat Dilah dan Ali kembali terkejut.
__ADS_1
"Iya Pa, aku akan menjaga cucu Papa dengan baik," ucap Dilah tersenyum.
Kini kebahagian telah datang. Kehadiran anak memang membawa sebuah keberuntungan dan Menyatukan keluarga.