
Raina dan Celine bergantian menjelaskan masalah Alya. Rasya baru paham apa yang telah terjadi dengan Alya setelah sahabat Alya menceritakannya. Raina, Celine, Keyla, dan Rara memohon pada Rasya untuk menolong sahabat mereka, sedangkan Sarah dan Vina memilih tidak peduli pada apa yang terjadi dengan Alya. Rasya sudah lama berjanji untuk menyelamatkan studi Alya. Memang sejak awal Rasya punya janji itu demi balas jasa atas kesembuhan adiknya. Rasya ijin kepada atasan untuk pulang sebentar. Dengan penuh pertimbangan atasan Rasya, Pak Rusli memberikan ijin Rasya pulang lebih cepat namun menggantinya lembur untuk besok tanpa dapat tambahan gaji. Rasya setuju dengan kesepakatan itu.
Rasya melihat Alya melamun di teras. Alya terkejut mendengar suara motor Rasya. Alya heran, mengapa Rasya cepat sekali pulang ke rumah? Alya juga takut jika Rasya marah padanya karena tidak masuk kampus hari ini. Alya memilih menunduk, tidak berani menatap wajah Rasya.
"Apa yang membuatmu tidak masuk ke kampus hari ini?" Tanya Rasya dengan nada lembut.
Tetesan air mata membasahi pipinya. Padahal Rasya tidak marah padanya. Alya menceritakan semuanya pada Rasya. Sebenarnya Rasya sudah mengetahui tentang itu dari sahabat Alya. Akan tetapi alangkah baiknya mendengar langsung dari Alya.
"Baiklah, kamu jangan khawatir. Aku pastikan besok kamu boleh ke kampus lagi." Ucap Rasya penuh percaya diri sambil mengusap rambut Alya dengan lembut.
"Itu mustahil," Alya tidak percaya Rasya dapat semudah itu membuatnya diterima di kampus.
"Kamu jangan berkata seperti itu dan jangan khawatir, Alya. Aku sudah berjanji pada diriku dan padamu agar kamu tetap melanjutkan studi. Kamu tahu kan betapa besar perjuangan kita agar kamu melanjutkan studi. Kamu tahu kan kita hampir mati demi kamu tetap melanjutkan studi? Ini hanya masalah kecil dibandingkan yang sebelumnya."
__ADS_1
"Tapi Rasya...."
Rasya menutup mulut Alya dengan jari telunjuk. Ia tak ingin mendengar suara frustasi Alya.
"Aku pergi dulu, jaga dirimu baik-baik selagi aku tidak di rumah." Ucap Rasya, kemudian ia mengendarai motor transportasi dari akomodasi restoran.Rasya menuju ke restoran. Ia bahkan tidak punya ide sama sekali untuk melawan anggota DPR beserta anaknya Randy.
"Apa rencana kalian?" Tanya Rasya dengan wajah melas lesu.
"Rasya, aku memilih mundur dan tidak ikut campur. Ayahnya Randy politikus dan seorang anggota DPR. Kau tahu kehidupanku akan terancam jika berurusan dengan dia." Ucap Abdi dengan nada ketakutan.
"Kami pergi dulu ya.." ucap teman-teman Rasya serentak. Teman-teman Rasya memilih untuk kabur ketika Rasya mencoba menghubungi anggota DPR Bapak Wiranto Bagaskara.
"Halo siapa?" Tanya Wiranto dari ujung telepon.
__ADS_1
"Saya Rasya, saya ingin bertemu secara pribadi dengan Bapak dan Randy."
"Bertemu dengan alasan apa? Maaf saya sibuk!" Ucap Wiranto dengan nada sombong.
"Mengenai Alya, Pak."
"Baiklah... Kapan kita bertemu?" Wiranto seperti tak sabar ingin bertemu padahal sebelumnya dia mengatakan sibuk.
"Sekarang, Pak. Bisa?
"Tidak masalah. Temui aku dan Randy di kantor."
Rasya bersiap keluar dari restoran dan menuju ke kantor yang telah diberikan alamatnya oleh Wiranto.
__ADS_1
Tak beberapa lama Rasya tiba di kantor. Salah seorang pegawai Wiranto bertanya pada Rasya ada keperluan apa. Rasya berkata ingin berbicara secara pribadi dengan Pak Wiranto dan sudah membuat janji sebelumnya. Seorang pegawai itu meminta Rasya menunggu lima menit lagi. Ia akan menginformasikan kedatangan Rasya.