Jatuh Cinta Padamu

Jatuh Cinta Padamu
Cemburu 2


__ADS_3

"Tidak mau!" Dilah masih menggelengkan kepalanya.


"Tidak mau ya? Baiklah," tersenyum menggoda, wajah Ali sudah 3 centi meter dari wajah istrinya.


Ya ampun jangan, aku tak mau malam ini. Kalau dalam keadaan seperti ini aku malas disentuh olehnya.


"Iya, iya. aku mau," mengangguk patuh.


Ali menyuapi istrinya dengan lembut. Dilah melahap makanan itu walaupun masih sedikit mual rasanya.


"Sudah cukup!" ujar Dilah menolak suapan selanjutnya. Ia makan hanya 5 suap saja.


"Baiklah," Ali menuju dapur untuk meletakkan sisa makanan.


Dring! Dring! Dring!


"Halo Ali," suara manja dan imut yang dibuat-buat.


"Iya,"


Dilah menguping dari kamar.


"Bisa tidak aku bertemu denganmu besok?" tanya Amel dengan suara khas menggoda.


"Kau tahu nomorku dari mana?" mengalihkan pembicaraan, sebenarnya Ali malas bertemu dengannya besok.


Mati aku, aku kan dapat nomornya dari Reno.


"Hemm, kamu yang memberi tahu," ujarnya berkilah.


Bahkan kau sudah memberi nomor ponselmu pada Amel. Menyebalkan, ingin sekali aku smackdwon dirimu.


"Kapan? sepertinya tidak," Ali mengernyitkan dahinya.


"Ah, mungkin kau lupa, Ali." dengan nada manja.


"Mungkin saja," Ali angkat bahu


"Boleh ya aku bertemu denganmu besok, boleh ya, bolehkan?" Amel dengan nada lembutnya untuk memaksa Ali menjawab iya.


"Iya, tapi aku tak janji," ujar Ali terpaksa.


Ingin bertemu dengan Amel besok, silahkan! Tapi, jangan harap masuk kamar ini besok. Geram Dilah dalam hati.


"Terima kasih, terima kasih, terima kasih, selamat malam, Ali." dengan suara manjanya.


"Sama-sama," Ali menjawab malas dan menutup telepon.


Ali masuk ke kamar untuk tidur. Ia sudah sangat lelah hari ini. Ali memeluk istrinya dari belakang dengan secepat kilat Dilah menggeser tubuhnya untuk menjauh dari Ali.


Huh, dasar tak tahu diri. Sudah dekat dengan Amel sekarang dia ingin memelukku.


Ali masih penasaran, ia menggeser tubuhnya dan memeluk istrinya lagi. Karena kesal akibat cemburu, Dilah lagi-lagi menggeser tubuhnya untuk menjauh dari Ali. Ali semakin penasaran, ia menggeser tubuhnya dan memeluk istrinya kembali.


Siaa....l! jika aku menggeser tubuhku pasti aku akan terjatuh.

__ADS_1


Dengan kesal Dilah memejamkan matanya, tak peduli Ali memeluknya, kini ia terpejam untuk tidur.


"Sayang kemari!" panggil Ali tersenyum manis.


"Iya, aku datang Sayang," Dilah tersenyum selembut sutra.


Ali memakaikan bunga di telinga Dilah, Dilah berterima kasih dan mencium bibir Ali dengan lembut. Ini adalah mimpi, tapi rupanya hal tersebut terjadi dengan nyata. Ali hanya menerima ciuman tersebut dan ingin tertawa, bisa-bisanya Dilah menciumnya dalam keadaan tidur dan tak sadar.


Dilah sadar dan terbangun kemudian ia membuka matanya.


"Aaaaa.....," teriaknya malu, ia melepaskan ciuman tersebut dan mendorong Ali untuk menjauh darinya.


Keterlaluan!


"Ada apa? Kenapa?" tanya Ali heran dan mengaruk kepalanya.


"Menjauh dariku!" ujar Dilah kesal.


"Huh! Jelas-jelas dia yang menciumku, sekarang dia mendorongku seolah-olah aku yang memulai duluan." gumam Ali pelan seperti berbisik.


"Apa katamu?" tanya Dilah kesal.


"Tidak ada," Ali berbalik arah untuk membelakangi Dilah.


Ciuman tadi lumayan juga. Batin Ali sambil tersenyum manis membelakangi Dilah.


***


Pagi hari setelah salat subuh, Dilah terlihat rapi dan ingin segera pergi dari rumah.


"Sayang mau kemana?" tanya Ali heran.


"Memangnya perusahan Wiranata buka di hari minggu?" tanya Ali sambil menahan tawa.


Dilah membuka ponselnya dan terlihat jelas bahwa hari ini adalah hari minggu, betapa malunya dia tak mengetahui hari. Ini efek dari rasa cemburunya yang berlebihan.


"Maksudku, aku mau ke mall," ujar Dilah ketus.


"Sayang, awas di depanmu!" Ali memperingatkan.


Dilah tak peduli dan tidak menghiraukan peringatan suaminya, dan benar saja Dilah tak sengaja menabrak tembok.


"Aauw," pekiknya sambil memegang kepala. Ali langsung menghampiri Dilah.


"Tidak usah perhatian padaku!" kata Dilah sambil mengibaskan tangannya agar Ali tak menyentuhnya.


Dilah keluar dan menuju garasi diikuti oleh Ali dibelakangnya.


"Aku akan menghantarmu," ujar Ali yang masih sangat khawatir dan perhatian padanya


"Tidak usah!" Dilah mengeluarkan mobil dan pergi.


Ali hanya geleng-geleng kepala dan masuk ke dalam rumah.


Dilah menuju tempat berlatih memanah. Dulu sebelum menikah, ia sangat senang datang ke sini.

__ADS_1


"Hai teman lama," ujar Pria berotot yang pastinya jago memanah.


"Hai David, sudah lama tak bertemu," tersenyum dan melakukan tos.


"Iya sudah lama sekali, semanjak kau menikah tak ada lagi tandinganku dalam memanah," ucap David memuji terlalu berlebihan.


"Jangan terlalu memujiku, ayo kita memanah!" Dilah mengambil busur dan panah.


Dilah tampak natural memanah. Ia mengambil busur dan mulai membidik sasaran dan bidikannya melesat ke sasaran yang di tuju.


"Hebat!" puji David dengan mengacungkan jempolnya.


Sekarang giliran David, David mengambil busur dan membidik kearah sasaran. Tapi, hari ini bukanlah hari keberuntungannya. Ia tak terlalu tepat sasaran.


"Benar apa yang kau katakan, aku sangat ahli mengalahkanmu," senyum Dilah sambil mengambil busur kemudian ia membidik sasaran dan berhasil.


"Sudah lama tak berlatih kau makin hebat saja," puji David lagi.


"Sudahlah, jika kau terlalu memujiku. Kau akan kalah," ujar Dilah tersenyum tipis.


"Baiklah, aku tidak memujimu lagi." ucap David, David membidik sasaran dan kali ini ia tepat sasaran.


Dilah tersenyum dan mengambil busurnya kemudian membidik sasaran dan berhasil kembali.


"Hai Dilah," Fina melambaikan tangan ketika melihat Dilah yang ingin membidik sasaran.


"Hai Fina," Dilah tak jadi membidik sasaran tersebut. Dilah meletakkan busur dan panahan pada tempatnya.


Wanita jika bertemu wanita pasti bergosip. David


Akhirnya David angkat bahu dan melanjutkan memanah.


"Tidak biasanya kau kemari?" tanya Fina heran.


"Dulu kan aku sering ke sini, Fina." Dilah mengerutkan bibirnya menandakan ia cemberut.


"Haha iya, iya. Di mana Ali?" tanya Fina yang celingak-celinguk mencari keberadaan Ali.


"Dia di rumah," jawab cepat Dilah.


"Ohh..," tersenyum.


Mereka duduk di bawah pohon besar. Di sana terdapat bangku yang nyaman.


"Kamu sedang apa di sini, Fina?" tanya Dilah penasaran.


"Aku bosan di rumah, jadi aku ke sini untuk menenangkan pikiran akibat lelah bekerja," ujar Fina tersenyum manis.


"Pacar terpaksamu tak mengajakmu jalan-jalan?" tanya Dilah yang tak melihat Yanto.


"Hehehe, dia keluar kota. Aku juga tak tahu ada urusan apa. Aku juga bingung Dilah, dia itu bekerja sebagai apa?" tanya Fina menatap Dilah serius.


"Aku juga tak tahu," ujar Dilah ketus.


"Tolonglah tanyakan pada suamimu. Suamimu kan sahabatnya. Yanto itu kerja apa? Aku sudah mulai mencintai pacar terpaksaku itu," wajah Fina terlihat malu-malu, pipinya memerah seketika.

__ADS_1


Aku tak mau bertanya apapun Fina pada Ali. Aku lagi marah padanya.


"Baiklah," terpaksa setuju.


__ADS_2