
"Eldo, terima kasih telah membawaku ke sini," ujar Dilah lirih.
"Sama-sama,"
Hari telah menjelang sore. Dilah dan Eldo memutuskan untuk pulang ke rumah.
"Kamu capek ya?" tanya Eldo yang melihat Dilah duduk di lantai dengan meluruskan kedua kakinya.
"Tidak," Dilah menggelengkan kepalanya.
"Tidak usah berbohong," Eldo memijatnya untuk mengurangi rasa lelah sang istri.
"Eldo, sangat tidak baik kau memegang kakiku," Dilah menghindari kakinya dari Eldo.
"Tidak apa-apa, aku tidak keberatan." Eldo lanjut memijatnya.
"Tapi kau suamiku," untuk pertama kalinya Dilah mengakuinya Eldo sebagai suami. Selama ini ia hanya menganggap Eldo Sebahai musuh baginya.
Eldo berbinar senang. Akhirnya sedikit demi sedikit ia telah melunasi kesalahannya. Dengan berubahnya Dilah ke jalan yang benar.
Tok! Tok! Tok!
__ADS_1
Ketukan pintu membuyarkan percakapan mereka.
"Tunggu sebentar ya, Sayang." Eldo bangkit dan membuka pintu.
"Eldo!" Menir datang dengan raut wajah kesal.
"Ada apa, Pa?" tanya Eldo heran.
"Masuk dulu, Pa!" Eldo mempersilahkan ayahnya untuk masuk.
"Tidak usah," wajah Menir terlihat tidak enak membuat Eldo heran. Ada apa ini? Pikirnya.
"Mengapa kau tak pernah bilang kalau istrimu buta sekarang?" tanya Menir meninggi.
"Biarkan saja dia mendengarnya. Aku minta kau menceraikan wanita itu. Aku tidak mau punya menantu buta. Keluarga Wijaya harus sempurna." kesal Menir.
"Mengapa Papa tidak menerima takdir dan keadaan. Ini adalah ujian untuk keluarga kita,"
"Ini bukan ujian tapi musibah. Papa malu Eldo punya menantu buta seperti dia. Reputasi Papa hancur karena istrimu itu." Menir menjelaskan alasannya itu.
"Pa, aku tidak peduli tentang penilaian orang atau reputasi. Bagiku dia sama dengan yang lainnya. Seharusnya Papa tidak usah mendengar kata orang-orang."
__ADS_1
"Eldo, kau mau jadi anak durhaka? Kau mau membuat Papamu ini malu. Papa malu, Eldo." amarah Menir menggelegar.
"Pa, aku selalu menuruti apa yang Papa mau. Dari dulu aku selalu menuruti Papa walaupun aku terpaksa. Tapi permintaan Papa yang satu ini tidak bisa aku turuti."
Menir mengepal tinju. Ia Pergi meninggalkan Eldo. Ia masuk ke mobil mewah miliknya dan menghilang dari hadapan Eldo. Eldo geleng-geleng kepala melihat kelakuan ayahnya. Lalu ia masuk ke rumah dan kembali menemui istrinya.
"Sayang aku..." ucapnya menyangkut ketika melihat istrinya menangis.
"Kamu kenapa?" tanya Eldo panik.
"Aku mendengar semuanya," ucap Dilah terisak. "Benar apa yang dikatakan Papamu bahwa kau berhak memiliki istri yang sempurna. Kau tampan dan kaya." Dilah masih terisak.
"Kamu ingin menyakitiku berkata seperti itu? Kamu sumber kebahagiaan bagiku. Jika kita berpisah dan aku menemukan wanita lain penggantimu. Apakah dia akan menjadi sumber kebahagiaanku?"
"Aku tidak tahu kalau itu,"
"Dengarkan aku. Tidak ada satu orang pun yang akan memisahkan kita. Kau milikku dan itu tidak akan kulepas kan"
Dilah bangkit dan meraba tongkatnya. Kemudian ia berdiri perlahan.
"Aku mencintaimu, Eldo." Dilah memeluk Eldo dengan erat. Bulir-bulir air mata bergulir di pipinya.
__ADS_1
"Kau mencintaiku lagi?" Eldo merasa tak percaya apa yang dikatakan istrinya barusan. Iya bertanya dan berharap pendengaran tidak bermasalah.
"Aku mencintaimu sejak dari dulu sampai sekarang. Tidak ada laki-laki lain yang aku cintai selain dirimu. Walaupun aku bertemu banyak laki-laki yang jauh lebih baik darimu. Tapi Entah mengapa hati ini tetap mencintaimu." Dilah mengutaran semua rasa cintanya yang dulu pernah ia sembunyikan.