Jatuh Cinta Padamu

Jatuh Cinta Padamu
Rasya Berhasil Menyelesaikan Masalah Alya


__ADS_3

Sekarang Rasya harus menetapkan keputusan. Ia telah menyelesaikan masalah dengan anggota DPR dan anaknya. Tapi itu semua tidak ada gunanya jika Alya tak membayar uang semester. Rasya memutuskan menerima tawaran Pak Sugianto untuk menjadi pemeran pengganti atau stuntman. Rasya tidak memikirkan bahaya yang akan ia hadapi jika menjadi pemeran pengganti dalam film laga. Bahkan ia akan mempertaruhkan nyawanya demi studi Alya.


Rasya menghubungi Pak Sugianto. Secara terhormat Rasya diundang ke rumah Pak Sugianto.


"Kamu yakin dengan tawaran saya waktu itu?" Tanya Pak Sugianto.


"Yakin Pak. Saya sangat membutuhkan uang," keluh Rasya pada Pak Sugianto.


"Berapa uang yang kau butuhkan?" Tanya Pak Sugianto. Melihat Rasya penuh intensitas.


"5 juta rupiah, Pak." Jawab Rasya penuh pengharapan.


"5 juta rupiah?"


"Iya Pak. Saya sangat membutuhkannya."


"Itu bukan angka yang sedikit. Apalagi kamu baru akan debut dalam film ini." Pak Sugianto tidak yakin memberikan uang sebanyak itu.


"Pak, tolong, Pak! Ini kebutuhan yang sangat mendesak. Saya sangat membutuhkan uang tersebut."


Bapak Sugianto menarik janggutnya sembari berpikir.


"Baiklah saya akan memberimu uang 5 juta rupiah tapi kamu harus tanda tangan di sini. Perjanjian kontrak untuk menjadi pemeran pengganti. Kamu harus menerima semua resiko yang ada. Saya menginginkan film yang bagus. Resikonya pasti ada bahkan maut. Apakah kamu yakin?"


Rasya awalnya tidak yakin. Namun ia melihat kesedihan Alya dan harapan besar untuk melanjutkan studi serta janji Rasya untuk mewujudkan mimpi Alya menjadi sarjana. Sekarang Rasya tidak peduli dengan resiko yang ada.


"Baik Pak. Saya akan menandatanganinya." Rasya akhirnya tanda tangan menyetujui kontrak kerja yang ada.


"Selamat bergabung semoga berhasil!" Ucap Pak Sugianto. Rasya dan Bapak Sugianto berjabat tangan.

__ADS_1


"Terima kasih Pak. Saya pamit pulang. Sampai jumpa!"


"Ya sampai jumpa," Ucap Pak Sugianto.


Rasya sangat senang sekali. Akhirnya ia berhasil menyelesaikan masalah Alya. Bahkan ia sudah punya uang untuk membayar uang semester Alya.


Alya mendengar suara motor Rasya. Ia bergerak cepat membukakan pintu.


"Hei, masih menangis?" Tanya Rasya sambil menyembunyikan tawanya. Ia melihat mata Alya memerah.


"Engga," Alya mengusap air matanya.


Rasya hanya tersenyum tipis. Ia tahu bahwa istrinya itu sedang berbohong.


"Bagaimana, apakah kamu berhasil, Rasya? Aku yakin itu mustahil." Alya seperti patah semangat ketika mengucapkan pertanyaan itu.


"Sungguh?"


"Iya, dan ini..."


Rasya mengeluarkan uang dari tasnya.


"Ini untuk membayar satu semester kamu."


Alya tak kuat menahan rasa bahagia. Ia langsung memeluk Rasya. Rasya seperti melayang mendapatkan pelukan dari Alya. Cinta yang ada dihatinya seperti terbang melayang di angkasa.


"Tunggu sebentar!"


Baru saja Rasya merasakan nikmatnya pelukan dari Alya. Alya dengan cepat menjauhkan diri dari Rasya.

__ADS_1


"Bagaimana kamu bisa mendapatkan uang sebanyak ini?" Tanya Alya mulai curiga.


"Kamu tidak perlu tahu darimana aku mendapatkan uang ini. Kamu seharusnya fokus pada studi kamu."


"Baiklah.. Thanks," ucap Alya. Ia membawa uang tersebut dan menyimpannya. Sedangkan Rasya hanya tersenyum dari kejauhan.


"Oh ya Rasya, kamu mau aku masakin apa?"


Jantung Rasya berdetak dengan hebat. Padahal cuma pertanyaan biasa. Namun terdengar luar biasa jika Alya yang mengatakannya.


"Apa saja, aku suka apapun yang kamu masak." jawab Rasya gugup.


"Yakin tidak mau memberi permintaan sesuatu untuk dimasakin?


" Yeah! Aku yakin. Kamu masak apapun aku akan memakannya." Jawab Rasya dengan yakin.


"Baiklah.." Alya pergi menuju dapur. Sehingga Alya membelakangi Rasya


"Yes...!" Ucap Rasya penuh rasa senang tiada tara.


"Rasya?"


"Yes.. Pak. Saya akan datang besok lebih cepat." Ucap Rasya berpura-pura menerima telepon.


"Ya, ada apa?" Tanya Rasya sambil berpura-pura menutup telepon.


"Hem.. Sekali lagi aku ingin mengatakan terima kasih."


"Sama-sama, Alya."

__ADS_1


__ADS_2