
"Ini berkas tentang misi," Heru memberikan satu persatu berkas tersebut kepada bawahannya.
"Amerika Serikat membutuhkan mata-mata dari Indonesia. Ini bentuk kerja sama birateral. Tugas yang diberikan adalah untuk menangkap pembunuh bayaran yang meresahkan penduduk Amerika Serikat. Menurut informasi, pembunuh bayaran tersebut sangat sadis membunuh, 98% orang yang menyelidikinya akan mati," ujar Heru membuat para pendengarnya bergidik ngilu.
"Siapa kadidat yang akan Bapak pilih?" tanya Yanto.
"Aku belum tahu pasti siapa yang akan menjalankan tugas ini," Heru berpikir kritis.
"Adakah dari kalian yang mengajukan diri untuk menerima misi ini?' tanya Heru sambil melihat bawahannya satu persatu.
Semua anggota intel geleng-geleng kepala kecuali Ali.
"Aku bersedia," ujar Ali berani.
"Ali jangan! Kau baru saja punya anak. Anakmu masih kecil, bagaimana jika kau mati dan anakmu tidak pernah bertemu denganmu lagi," Yanto menghalangi niat Ali.
"Kematian adalah takdir, jika waktunya mati sekarang pun saya bisa mati," ujar Ali membantah.
"Tapi Ali, aku tidak setuju," bahkan Heru yang merupakan atasan Ali tidak setuju dengan keputusan Ali.
"Pak, sebaiknya urus paspor dan keperluan saya untuk perjalanan ke Amerika serikat," ucap Ali yakin, Ali benar-benar serius dengan ucapannya.
"Baik jika itu maumu, aku juga akan ikut bersamamu," ujar Heru membuat Yanto dan lainnya melotot.
"Bapak yakin?" tanya Yanto.
"Iya saya yakin, saya juga akan ikut misi ini. Saya pastikan misi ini adalah tantangan besar untuk saya dan Ali,"
"Permisi Pak! Maaf memotong ucapan Bapak. Bolehkah saya berbicara masalah pribadi dengan Yanto?" Ali menunduk hormat pada Heru atasannya.
"Silahkan!"
Ali menarik Yanto pelan menuju pintu luar. Ali menengok ke kanan dan ke kiri apakah ada orang.
"Apa yang ingin kau bicarakan padaku?" tanya Yanto penasaran.
"Hus!" Ali menutup mulut Yanto dengan jari telunjuknya.
__ADS_1
Yanto memutar bola matanya dan melihat kesal kearah Ali.
"Aku akan ke luar negeri, ketika aku sudah berada di luar negeri beritahu pada Amel tapi jangan beritahu pada Dilah,"
Yanto menggaruk kepalanya pelan, "Kenapa aku harus memberitahunya?"
"Aku punya rencana bagus. intinya ikuti apa yang aku katakan. Oh ya! Jangan beritahu pada Amel aku tinggal di negara mana. Tapi untuk Dilah jangan pernah beritahu apapun padanya," Ali memberikan amanah kepada Yanto.
"Apa kau yakin ingin menginggalkan istrimu?" Yanto menaikkan satu alis matanya.
"Aku tidak pernah meninggalkannya, tapi dia yang menyuruhku untuk pergi. Aku mencintainya, aku akan mengabulkan apapun yang dia inginkan," mata Ali memerah, ia berusaha menahan air mata yang ingin keluar.
"Semoga kau baik-baik saja,"
***
Danial merasa geram, ia tidak mau kehilangan kesempatan. Belum lagi Piyan menjadi pesaing untuknya dalam memperebutkan Dilah. Danial memutuskan untuk mendatangi kediaman Dilah_mantan pacarnya. Ia membawa sebuah hadiah sebagai modus memberi anak mantan pacarnya itu hadiah. Padahal, tujuan utamanya ingin Dilah kembali dipulukannya.
Danial mengetuk pintu, ia harap-harap cemas, apakah pintu dibukakan untuknya.
Ceklek!
Dilah membuka pintu, ia terkejut melihat Danial. Entah menerimanya untuk jadi tamu atau mengusirnya. Dilah masih berpikir. Danial pernah melakukan kejahatan dengan menculik Ali waktu itu dan banyak kejahatan lainnya yang dilakukan Danial. Tapi Danial pernah mengisi hidupnya sebelum mengenal Ali.
Danial melambaikan tangan pada Dilah dan tersenyum lembut.
"Aku.. Aku kesini ingin melihat anakmu. Aku sudah bertaubat, aku tidak sejahat dulu," ujar Danial berkilah.
"Kau boleh masuk!" Dilah mengizinkan Danial masuk.
Dania terperangah melihat isi rumah tersebut. Rumah orangtua Dilah begitu megah dan indah. Danial makin tergiur untuk mendapatkan apa yang dulu ia inginkan dan sampai sekarang belum terwujud. Apalagi kalau bukan harta.
Aku harus mendapatkanmu, Danial membatin.
"Eh Sayang! Sudah bangun," Dilah mengambil Franz dari dalam box bayi.
Franz menagis melihat Danial. Wajahnya terlihat takut melihat Danial. Dilah melihat arah mata Franz yang sedang melihat Danial dengan ketakutan.
__ADS_1
"Itu Om Danial Sayang, dia tidak jahat kok,"
Danial mengangguk, Danial mengeluarkan hadiah, "Om bawa mobil-mobilan buat..?"
"Dilah, siapa namanya?" tanya Danial, ia belum tahu nama anak mantan pacarnya itu.
"Franz namanya," ucap Dilah sambil menenangkan Franz yang masih menangis.
"Ah iya, Franz. Ini hadiah untukmu," Danial membuat wajah seimut mungkin tapi Franz makin takut melihat Danial.
Mengapa aku benci melihat bayi kecil ini? Wajahnya sangat mirip dengan ayahnya. Apakah dia adalah penghalang rencanaku?
"Danial! Danial!" Dilah menyadarkan Danial dari lamunannya.
"Iya.. Em.. Maaf," Danial tersentak. Ia menggelengkan kepalanya pelan.
"Maaf mengatakan ini, sepertinya Franz tidak mau melihatmu. Dia.. Dia takut dengan dirimu. Aku kasihan melihat dia menangis terus," Dilah bermaksud mengusir Danial secara lembut.
"Kau mengusirku?" tanya Danial dengan suara tinggi.
"Bukan begitu, lihat Franz dia menangis,"
Sabar Danial, tahan emosimu, Franz hanya bayi kecil. Kau tidak akan kalah dari bayi itu, batin Danial.
"Baiklah, aku akan pergi," Danial pamit dengan menahan marah.
Setelah Danial menghilang dari hadapan Dilah dan Franz. Franz berhenti menangis. Ia tersenyum munggil melihat ibunya.
Dilah tak sengaja memegang celana Franz, seperti ada benda aneh di dalam celana putranya,
"Franz! ada benda aneh di celanamu," perasaan Dilah tidak enak.
"Jangan bilang kalau kau poop,"
Dilah membuka celana anaknya. Ia ingin memastikan apakah perasaannya itu benar.
"Ya Tuhan, haruskah aku membersihkan ini?"
__ADS_1