
Telepon seluler Dilah berbunyi, dengan segera ia mengangkat telepon.
"Halo, halo," ucap seseorang tergesa-gesa.
"Iya, ada apa?"
"Nona, perusahaan dalam keadaan gawat. Ikhsan dan Vio tidak bisa menghandle perusahaan," ucap Luci memberi informasi.
"Jadi?"
"Perusahaan mengalami devisit pendapatan. Kalau terus begini Nona bisa bangkrut," jelas Luci.
Mengapa bisa jadi seperti ini?
"Lalu apa lagi Luci?" tanya Dilah selanjutnya.
"Tuan Nick ingin menawarkan kerja sama. Akan tetapi ia tidak bisa ke Indonesia. Ia ingin Nona sendiri yang kesana," ujar Luci.
"Aku benar-benar tidak bisa. Nick tinggal di New York, apakah aku harus kesana? Memangnya tidak ada yang bisa menggantikan aku?"" Dilah dilanda kebingungan, jika ia kesana itu artinya dia akan meninggalkan putra kecilnya.
"Tidak ada Nona, lagi pula ia ingin bertemu langsung dengan Anda,"
"Baiklah Luci, jika aku sudah setuju untuk kesana aku akan menghibungimu. Kau persiapkan semua kebutuhanku," Dilah mematikan sambungan.
Dilah memberi tahu informasj tersebut kepada ayah dan ibunya. Dilah izin ingin ke New York, tapi anehnya Riki sang ayah tidak melarang. Biasanya Riki orang pertama yang melarang Dilah pergi jauh.
"Jadi Papa mengizinkanku pergi, tapi bagaimana dengan Franz?" Dilah mendadak lesu.
__ADS_1
"Tenang, Franz akan baik-baik saja disini. Papa dan Mama akan merawatnya jika kami kesulitan kami bisa membayar pengasuh bayi,'
"Jangan lupa untuk membawa suamimu pulang!" ucap Dini dengan suara pelan seperti berbisik.
"Apa?"
"Eh... Tidak ada," Dini berkilah.
Dilah merasa ada yang aneh dengan kedua orang tuanya. Tapi, Dilah tidak ambil pusing. Ia mengirim pesan pada Luci untuk membantunya menyelesaikan segala keperluannya.
Beberapa hari kemudian, Dilah sampai di kota New York, kota yang super sibuk. Tapi ini bukan yang pertama kalinya ia ke New York. Mungkin sudah 4 atau 5 kali dia ke sana. Ia menginap dihotel yang sama dengan Ali.
"Ali, gawat!" Heru menepuk punggung Ali.
"Ada apa?' Ali menoleh kearah Heru.
"Aduh.. Dia serius datang ke sini? Padahal setelah misi selesai aku akan pulang," Ali meremas rambutnya pelan.
Ali memiliki ide, ia menyamar agar wajahnya tidak dikenali istrinya.
"Aku harus menyamar menjadi orang asing dan menguji kesetiannya," Ali tersenyum misterius.
Besoknya Ali dan Dilah berpapasan. Ali segaja menjatuhkan dompetnya. Lalu ia berjalan lurus.
"Tuan, dompet Anda tadi jatuh," ucap Dilah lembut sambil mengembalikan dompet tersebut.
Ali menoleh sambil menahan semyumnya. Ia sebisa mungkin untuk menjadi orang asing.
__ADS_1
"Terima kasih Nona, kau sangat baik sekali," Ali mengambil dompetnya dari tangan Dilah. Pandangan mereka bertemu.
Mata itu, senyum itu, aku seperti mengenalinya, Dilah membatin.
"Sama-sama," Dilah tersenyum lembut.
Pertemuan itu membuat hati Dilah berdebar. Sosok yang hilang seperti datang kembali.
"Arg! Mengapa aku merasa dekat dengan pria itu? Siapa dia?"
***
"Amel, Sayangku. Aku ingin kamu memandikanku," ucap Danial berbaring miring menghadap Amel.
"Sudah gila ya dia?" Amel menutup tubuhnya dengan selimut. Ia menghadap berlawanan arah dari Danial.
"Ya sudah kalau tidak mau, aku akan mengatakan yang tidak-tidak pada Riki tentangmu," Danial tersenyum misterius.
Amel benar-benar kesal, ia membalikkan tubuhnya, "Kau sangat licik, Danial," maki Amel kesal.
"Kau tahu kan Amel dari awal aku orangnya seperti apa. Ayo lah Amel kau hanya memandikanku," Danial berjalan kearah kamar mandi.
"Aku akan ke kantor, semakin lama kau membuat keputusan maka akan terjadi sesuatu pada dirimu,"
Dengan kesal Amel memgikutinya dari belakang. Dari pada masuk penjara lebih baik menuruti keinginan suami gila ini, batinnya.
"Amel, kau harus membuka matamu selama kau memandikanku!"
__ADS_1