
Jam telah menunjukkan pukul 8 malam. Sudah saatnya Rasya pulang ke rumah. Ia mengetuk pintu rumah dan Alya membukakan pintu. Sorot mata Alya tidak biasa namun Rasya tidak memperdulikannya. Rasya sangat lelah dan duduk di sofa. Alya seperti biasa menyiapkan minuman serta makanan namun raut wajah Alya yang berbeda kali ini membuat Rasya heran.
"Ada apa Alya?" Tanya Rasya ketika ia selesai minum teh.
"Engga," jawab Alya ketus dan tak memandang Rasya.
"Bagus kalau tidak ada apapun," Rasya mengambil piring beserta makanan kemudian duduk dan memakan hasil masakan Alya. Ketika melakukan suapan pertama Rasya melirik kearah Alya dan ekspresi Alya masih sama membuat Rasya merasa tak nyaman.
"Katakan ada apa? Aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu." Rasya memaksa Alya untuk mengatakan apa yang Alya sembunyikan darinya.
"Tidak ada apa-apa," Alya menolak untuk mengatakan yang ia sembunyikan dari Rasya.
Rasya menghabiskan makanannya. Kemudian mencuci piring bekas makanan dan bergegas ke kamar mandi. Walaupun pulang jam 8 malam, Rasya akan tetap mandi karena ia tak tahan jika harus tidur dengan tubuh lengket. Setelah selesai mandi, Rasya mengeringkan rambutnya dan menghampiri Alya yang sedang belajar.
__ADS_1
"Aku boleh nanya tidak?" Suara Alya terdengar pelan.
"Ya, boleh." jawab Rasya cepat.
"Apakah kamu menyukai Sarah?" Tanya Alya dengan nada sedih. Ia berharap Rasya tidak menyukai Sarah.
"Suka, dia orangnya baik." Jawab Rasya sambil tersenyum. Alya pun menjadi kesal. Ia mengebrak meja belajarnya dan mengusir Rasya dari kamarnya.
"I hate you," ucap Alya kesal.
"Dia membenciku?" Tanya Rasya pada dirinya sendiri.
Rasya tak ingin memperkeruh suasana. Ia kembali ke sofanya dan tidur seperti biasa. Pagi harinya, Alya bangun dengan rambut yang masih berantakan namun kecantikannya terpancar natural. Ia menuju kamar mandi untuk ke kampus seperti biasanya. Rasya terlihat duduk di meja makan. Kini Rasya membuat sarapannya sendiri. Ia tak ingin merepotkan Alya karena sekarang Alya membencinya. Ketika Alya telah sarapan dan siap ke kampus, Rasya juga siap ke tempat kerja.
__ADS_1
"Alya, ayo naik!" ucap Rasya setelah menghidupkan motornya.
"Aku naik angkutan umum," Jawab Alya sambil berjalan menuju jalan raya. Rasya pun mengejar dengan motornya.
"Nanti kamu terlambat!" Rasya memegang tangan Alya.
"Apa sih? Kamu tahu kan aku itu benci kamu. Jangan buat seolah aku ini istri sungguhan mu. Jangan terlalu baik padaku karena aku tidak menyukainya."
Kata-kata itu membuat hati Rasya hancur. Ia tak tahu apa masalahnya mengapa Alya membenci dirinya. Rasya hanya tertunduk sedih dan melanjutkan perjalanan ke tempat kerja. Namun Rasya tetap akan menunaikan janjinya bahwa ia harus mengurus semua biaya Alya selama satu tahun ini.
Ketika sampai di kampus, Randy dan teman-temannya tidak melihat Rasya. Dugaan mereka benar jika Alya masih seperti dulu sulit untuk ditaklukkan.
"Benar kataku kan, Randy. Penghantar pizza itu hanya teman atau mungkin sahabatnya. Lihat! Sekarang dia tidak mengantar Alya lagi ke kampus.
__ADS_1
" Benar juga. Eh.. Tapi kita tetap cari tahu, bagaimana pun laki-laki itu adalah laki-laki pertama yang menghantar Alya ke kampus berarti dia cukup istimewa."