Jatuh Cinta Padamu

Jatuh Cinta Padamu
Rumah Sakit


__ADS_3

Jantung Eldo berdebar mendengar kalimat tersebut keluar dari mulut istrinya. Kalimat yang membuat hatinya bergetar.


"Tapi ini terlalu banyak," Eldo mengambil satu lembar uang berwarna merah. Ia tak berani mengambil seluruhnya.


"Mengapa kamu masih di sini?" tanya Dilah sambil duduk di pinggir tempat tidur. Ia tak mendengar langkah kaki keluar dari kamarnya. Ups, maksudnya kamar mereka berdua.


"Aku pesan makanan secara online, nanti kalau aku pergi yang jagain kamu siapa?" Eldo duduk disebelah Dilah.


"Maaf ya telah merepotkanmu," Dilah menunduk sedih. Karenanya Eldo tak bisa leluasa kemana pun.


"Sayang, kau tak pernah merepotkanku." Eldo mencium pipi istrinya lembut.


Keesokan paginya. Kediaman Eldo didatangi oleh teman masa SMA dulu. Siapa lagi kalau bukan Ali. Ali duduk sambil mengamati rumah Eldo yang sangat sederhana. Eldo melihat sekeliling sampai geleng-geleng kepala.


Mengapa Dilah begitu mencintai Eldo sampai ia mau tinggal di rumah ini. Padahal rumahnya jauh lebih bagus dari rumah Eldo ini. Kenapa kau tak pernah mencintaiku? Ali membatin.


"Mana Dilah?" tujuan kedatangan Ali untuk melihat sahabatnya.


"Dia, dia di kamar," jawab Eldo gugup.

__ADS_1


"Aku ingin bertemu dengannya," Ali menggabungkan tangannya. Ia menatap Eldo serius.


"Tunggu sebentar," Eldo berjalan menuju kamar. Ia mengetuk pintu.


"Sayang," ucapnya sambil mengetuk pintu.


"Tunggu," Dilah berjalan pelan dan meraba daun pintu. "Iya," berjalan pelan-pelan sambil meraba jalan namun tak sengaja ia menabrak tubuh Eldo. Ia jatuh ke pelukan Eldo. Tak sengaja ia mendengar jantung Eldo yang berdetak lebih cepat dari rata-rata normal.


"Ada apa?" cepat-cepat Dilah menjauh dari Eldo.


"Ali datang, dia mencarimu,"


"Ali? Sahabatku?" tanya Dilah berbinar. Mata Dilah yang berbinar membuat Eldo senang sekaligus sedih. Senang istrinya bahagia. Sedih karena Dilah begitu bahagia dengan kedatangan Ali, pria lain dan bukan dirinya.


"Kau!" Eldo mencengkeram kerah baju Eldo.


"Kau buat dia seperti ini? Suami macam apa kau?" Tanya Ali pada Eldo kemudian Ali memukul kuat Eldo. Eldo jatuh ke lantai dan membersihkan bibir akibat darah segar yang keluar dari bibirnya akibat pukulan Ali.


"Ali! Cukup!" Teriak Dilah sambil memukul telinganya.

__ADS_1


"Dia tak bersalah, aku yang bersalah. Aku buta itu karena kesalahanku." Seketika tubuh Ali bergetar. Ia begitu syok mendengar ucapan sahabatnya. Tiba-tiba Ali terjatuh dan tergeletak di lantai. Dengan cepat Eldo membantunya. Eldo langsung melarikan Ali ke rumah sakit.


"Ali sakit apa, Dok?" tanya Eldo khawatir.


"Ali kena serangan jantung. Untung saja Bapak cepat membawanya kesini. Begini Pak Ali mengalami kelainan jantung sejak dari lahir." jelas dokter tersebut.


"Apakah Ali sudah sadar?"


"Sudah, Anda boleh menjenguknya." dokter tersebut berlalu pergi.


"Ali," panggil Eldo lembut.


"Selalu saja begini," Eldo memukul-mukul tempat tidur.


"Katanya hidupku tak lama lagi. Andai saja hidupku masih panjang pasti aku akan mengatakan cintaku padanya. Pasti dia tak tersakiti olehmu." Ali meneteskan air matanya.


"Aku kenal dengan dia lebih dulu. Aku mencintainya lebih dulu. Tapi mengapa dia jadi milikmu?" ucap Ali lirih.


"Aku sangat mencintainya."

__ADS_1


Kata-kata Ali membuat hati Eldo runtuh, Eldo berpikir bahwa Eldo orang ketiga dalam kisah cinta teman SMA-nya.


"Aku tak berani mengatakannya karena hidupku sudah tidak lama lagi. Aku takut dia mencintaiku dan merasa sakit karena ku tinggalkan. Hidupku sudah tidak lama lagi."


__ADS_2