
"Haha, Sayang aku hanya bercanda. Hanya dirimulah yang paling aku cintai," Ali mengambil tangan Dilah dan mengusapnya dengan lembut.
"Awas saja kau berpaling dariku," ancam Dilah dengan nada geram.
Luna diberikan hadiah atas kemenangan dirinya. Ia diminta untuk berpidato atas segala perjuangannya dan sampai memengkan lomba tersebut.
Luna menghela nafas, ia merasa gugup untuk berpidato. Ia melihat kearah Ali, Ali tersenyum memberikan keyakinan pada Luna.
"Selamat pagi semua," ucap salam Luna pada penonton.
"Selamat siang,"
"Pertama-tama puji syukur atas kehadiran Tuhan yang maha esa karena berkat dan rahmatnya kita dapat berkempul di SMA International School."
"Hei! Mengapa anak itu bisa berpidato?" tanya Kharisma pada ibu Naomi di sebelahnya.
"Entah," Naomi mengangkat bahunya.
"Sebelumnya, saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada kedua orang tua saya dan kepada wali kelas sekaligus mentor saya Pak Ali.. dan bla... bla.. bla.."
"Demikian pidato singkat saya, lebih dan kurang saya mohon maaf, selamat siang,"
"Siang," ucap penonton sambil bertepuk tangan.
"Kepada orangtua Luna dipersilahkan untuk mendampingi Luna." ucap pembawa acara.
Luna berkaca-kaca, orangtuanya tak mungkin datang hari ini.
Luna menatap kearah yang lain, ia melihat Zahra ibunya bergandengan tangan dengan Bandi ayahnya. Luna tersenyum lebar, ia tak kuasa menahan tangis haru. Ternyata akhirnya ayahnya pulang juga. Bandi langsung memeluk Luna.
"Maafkan ayah yang sudah lama tidak pulang," ucap Bandi penuh penyesalan. Demi misi ia meninggalkan istri dan anaknya.
__ADS_1
"Aku memaafkan ayah, kumohon agar ayah tidak pergi lagi," ucap Luna menitikan air mata. Bulir-bulir air mata tersebut jatuh ke pipinya.
"Ayah tidak akan meninggalkan kamu dan ibumu lagi," ucap Bandi, ia juga telah mengundurkan diri menjadi mata-mata.
Semua orang termasuk juri dan panitia merasakan kesedihan. Mereka mendapat informasi bahwa Luna dan ayahnya sudah lama tidak bertemu.
Ali melihat pria mistrius di lokasi tersebut, ia berdiri dan ancang-ancang untuk melangkah.
"Sayang, kamu mau kemana?" tanya Dilah bingung.
Ali tidak menjawab pertanyaan Dilah, ia berlari kearah Luna dan orang tua Luna.
Dor!
Suara tembakan mencekam membuat semua orang berteriak. Ali mendorong Bandi, Zahra, dan Luna agar tidak tertembak. Ia mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan Bandi beserta keluarga. Tembakan tersebut mengenai bahu Ali. Ia terjatuh dan bersimpah darah. Dilah yang duduk di kursi penonton lari kearah Ali.
"Sial! Kita salah sasaran," penembak tersebut memiliki dendam pribadi dengan Bandi.
Ali langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat. Dilah begitu cemas, ia takut terjadi sesuatu pada ayah dari anaknya tersebut.
Dilah berkeringat dingin, ia meremas tangannya. Ia sangat takut kehilangan suaminya.
"Sabar Dek, Ali akan baik-baik saja," hibur Ryan yang berada di samping Dilah.
Dilah memeluk Ryan dengan terisak tangis.
"Bagaimana Kak, kalau aku kehilangan dia," ucap Dilah sesegukan.
"Dia laki-laki kuat, pasti dia akan sembuh," ucap Ryan menenangkan adiknya.
Denia yang berada disana hanya diam dan mematung sedangkan Amel juga ikut bersedih.
__ADS_1
"Tidak biasanya kamu menagis Amel?" tanya Fina curiga, pasalnya sudah lama Fina dan Amel bersahabat tapi baru kali ini Fina melihat Amel menagisi laki-laki.
"Aku sedih Ali terluka," ucap Amel terisak tangis.
Bukankah Amel membenci Ali, tapi mengapa dia sedih melihat Ali terluka?
Orangtua Ali dan orang tua Dilah datang. Mereka langsung menayakan keadaan Ali.
"Bagaimana keadaan Ali?" tanya Aisyah dengan raut wajah khawatir.
"Ali masih ditangani dokter," ucap Ryan menahan sedih.
Tak beberapa lama dokter keluar dari ruangan.
"Ali baik-baik saja, peluru tersebut sudah keluar dari tubuhnya. Semua berjalan lancar, kalian hanya tinggal menunggunya siuman." ucap dokter tersebut.
"Apakah, kami sudah boleh melihatnya?" tanya Dilah berdiri dari tempat duduknya.
"Silahkan!" ucap dokter tersebut dan berlalu pergi.
Dilah masuk keruangan tersebut. Ia langsung memegang jemari Ali.
"Sayang sadarlah, aku... aku... aku takut kehilanganmu," ucap Dilah sambil memegang jemari Ali.
Jari Ali bergerak perlahan, Dilah tersenyum sumringah kemudian, ia menyeka air matanya. Ali membuka matanya perlahan.
"Akhirnya kau sudah sadar Nak," ucap Aisyah lega.
Ali tersenyum melihat Aisyah kemudian ia mengalihkan pandangannya pada istrinya.
"Untung saja hanya bahuku yang tertembak bukan hatiku," ucap Ali dengan pelan seperti berbisik yang hanya didengar oleh Dilah.
__ADS_1
"Kenapa?" Dilah mengengam tangan Ali dan wajahnya berbinar.
"Jika hatiku yang tertembak, ada dirimu disana," ucap Ali menggoda, Dilah menahan senyumnya.