
Ali membawa gadis cantik bernama Saidah untuk ikut bersamanya. Ia memesan satu kamar hotel untuk gadis cantik tersebut. Ia menghantar Saidah sampai ke depan pintu. Kemudian, ia kembali ke kamarnya.
"Gawat!" Heru terlihat berbeda, ia seperti ketakutan.
"Kenapa Pak?" tanya Ali heran sambil menutup pintu kamar.
"Kau target si pembunuh itu," ujar Heru ketakutan.
Heru menceritakan semuanya, "Pria tua botak tersebut menghubungi Ronger si pembunuh itu. Ia memberitahu bahwa kau target untuknya. Pria botak itu merasa dipermalukan di club tersebut. Ia benar-benar direndahkan karena baru kali ini ia gagal mendapatkan keinginannya," jelas Heru.
"Hem.. Bagus, itu berarti kita tidak perlu lelah untuk mencarinya karena akulah targetnya,"
"Bagaimana jika kau mati dan putramu tidak pernah bertemu denganmu lagi?" Heru bertanya dengan raut wajah sedih. Ia membayangkan dia di posisi Franz.
Ali mengela nafas, "Jika aku mati nantinya, Franz akan bangga padaku karena ayahnya punya tugas mulia walau gagal. Jika aku mati, Bapaklah yang akan menjelaskan semuanya pada Franz dan istriku," ujar Ali yakin, sedangkan Heru malah merinding mendengarnya. Ini baru pertama kali mereka mendapat misi sesulit ini.
Ali menghempaskan tubuhnya di tempat tidur, ia mengambil ponsenya, ada notif pesan masuk Ali pun membukanya.
[Assalamualaikum Sayang, Jangan lupa makan ya! Jaga kesehatan, baik-baik disana, Jaga hatimu untukku, Franz dan aku sangat menghawatirkanmu.]
Ali tersenyum tipis, ia mendapatkan pesan romantis. Sebelumnya, ia belum pernah diperhatikan dari kejahuan. Karena baru pertama kali Ali pergi jauh dari sang pujaan hati.
"Ali, kau menjadi tidak waras setelah mendengar penjelasanku bahwa kau target pembunuh?" tanya Heru melihat Ali tersenyum-senyum sendiri.
__ADS_1
"Aku masih waras, tapi pesan darinya membuatku ingin segera pulang," ucap Ali menahan rindu.
"Kau sudah membuat keputusan untuk menjalankan misi ini jangan setengah-setengah!"ujar Heru kesal.
"Baiklah, ada baiknya kita tidur sekarang,"
Ali mengambil selimut dan menutupi tubuhnya.
Pagi hari, Ali dan Heru bersiap-siap untuk ke kantor mata-mata Amerika Serikat. Mereka ingin membahas tentang rencana untuk menangkap pembunuh bayaran yang membuat penduduk resah.
"Aku sangat berharap kalian dapat membantu negara kami," ujar pimpinan mata-mata Amerika Serikat.
"Iya kami akan membantu," ujar Heru yakin.
***
"Assalamualaiku," Fina mengetuk pintu.
"Wa'alaikum salam, Fina?" Dilah tersenyum lebar.
"Iya ini aku," ucap Fina tersenyum
Dilah dan Fina saling berpelukan. Dilah mengajak Fina masuk. Fina melihat Franz yang begitu mengemaskan. Ia mengambil Franz dan mengendongnya.
__ADS_1
"Wajah putramu mirip sekali dengan Ali. Kau tidak membenci putramu kan?"
"Tentu tidak, mengapa aku harus membenci Franz karena dia mirip dengan orang yang paling aku cintai? Aku malah semakin menyayanginya," ucap Dilah sambil mengelus pipi putranya.
"Kau sudah tidak membenci Ali?" tanya Fina ingin tahu.
"Tidak, aku sudah tahu kebenarannya,"
"Kau sudah tahu, padahal aku ingin memberitahu kebenarannya padamu," ujar Fina sedikit kecewa.
"Hem.. Aku menyesal Fina tidak percaya padanya," sesal Dilah.
"Oh ya, aku menyelidiki suamiku,"
"Fina, untuk apa kau menyelidiki suamimu?" tanya Dilah sebal, padahal Dilah belum selesai bicara.
"Kau jangan berwajah seperti itu, aku tahu dimana suamimu," Fina menaik turunkan alis matanya.
"Kau tahu? Dimana dia sekarang?" tanya Dilah dengan girangnya.
Fina membisikkan tentang hasil penyelidikannya mengintai Yanto dan memberitahu hasilnya kepada sahabatnya.
"Amerika Serikat?" tanya Dilah terperangah.
__ADS_1
Fina mengangguk-angguk.
"Aku akan kesana," ujar Dilah yakin.