
Rasya telah mengantarkan pizza pesanan pelanggan. Ia segera menuju restoran pizza dimana ia bekerja. Ketika melewati wilayah sepi sekelompok geng motor menghadang mobil mewah. Mereka menodongkan senjata kepada pemilik mobil itu. Rasya yang memiliki ilmu bela diri pencak silat tidak tinggal diam. Ia menolong Bapak tersebut. Kepiawaian Rasya dalam seni bela diri membuat Bapak tersebut kagum dan ingin menawarkan pekerjaan untuknya. Akhirnya para penjahat tersebut kalah dalam perkelahian. Bapak tersebut berterima kasih pada Rasya.
"Siapa nama kamu?" Tanya Bapak Sugianto.
"Rasya Pak," jawab Rasya sambil tersenyum.
"Aku adalah seorang sutradara film. Aku tertarik untuk menjadikanmu pemain film."
"Wahh.... Pemain film?"
" Apakah aku akan menjadi pemeran utama atau menjadi pahlawan?" Tanya Rasya sambil berkhayal ketika ia menjadi pemeran utama film dan Alya kagum melihat pesona Rasya di film.
"Tidak! Tidak! Tidak! Kamu akan menjadi pemeran pengganti." Jawab Bapak Sugianto.
"Pemeran pengganti?" Tanya Rasya kesal. Apa yang dijawab Bapak Sugianto tidak sesuai dengan ekspetasi.
"Iya jadi pemeran pengganti atau stuntman. Saya akan memberikan kamu uang yang banyak. Film ini akan tembus box office. Saya butuh pemeran pengganti untuk film laga. Jika kamu tertarik ini kartu nama saya." Ucap Bapak Sugianto kemudian ia masuk ke mobil.
Rasya berpikir keras mengenai tawaran ini. Harga yang ditawarkan cukup untuk membiayai studi Alya untuk semester ini. Namun resikonya juga cukup besar. Rasya bisa kehilangan nyawa. Rasya harus memutuskan tawaran ini. Tapi di satu sisi Rasya sangat membutuhkan uang itu.
__ADS_1
Rasya pulang ke rumah setelah restoran tutup. Ia mendengar suara tangisan dari dalam kamar. Ia mengetuk pintu kamar Alya. Alya menyeka air mata sambil membuka buku.
"Ada apa Alya?" Tanya Rasya dengan nada lembut. Namun Alya hanya menggelengkan kepalanya.
"Kenapa kamu menangis?"
"Engga, aku tidak menangis." Alya menyeka air mata kemudian tersenyum.
Rasya tidak percaya begitu saja dengan ucapan Alya. Namun ia tak ingin memaksa Alya untuk menceritakan masalahnya. Rasya memilih untuk tidur karena besok ia akan lanjut bekerja dan membutuhkan istirahat penuh.
Di pagi hari, Rasya melihat Alya tidak ada di rumah. Rasya berpikir bahwa Alya pergi ke kampus lebih dulu sebelum dia mengantar Alya. Ia tak curiga dengan hal itu. Namun Rasya diperintahkan mengirim pizza pesanan pelanggan di kampus dimana Alya menimba ilmu. Rasya berpikir sekalian untuk melihat Alya. Tapi ia tak melihat Alya di kampus. Rasya melihat para gadis teman Alya sekitar 6 orang. Mereka membicarakan Alya.
"Salah sendiri kenapa menolak cinta Randy. Kan jadi dikeluarkan dari kampus. Surat keputusannya besok akan dibuat, sulit untuk mendapatkan keajaiban Alya dapat melanjutkan studi kecuali memohon pada Randy dan keluarganya." ucap Sarah dengan nada terlihat bahagia.
"Kamu kenapa terlihat senang sekali, Sarah?" Tanya Celine jengkel.
"Iya, tidak tahu kenapa belakangan ini kamu suka sekali melihat Alya kesusahan." Sambung Raina.
Mendengar ucapan Raina membuat Sarah diam. Ia tak mau berdebat lagi seperti kejadian kemarin.
__ADS_1
"Hai.." Sapa Rasya.
Mata Sarah langsung melotot melihat Rasya. Wajahnya yang cemberut berubah menjadi wajah manis.
"Hai Rasya.." Sapa mereka berenam.
"Tidak biasanya datang kesini?" Tanya Sarah sambil menunjukkan sisi kecantikannya. Ia menampilkan wajah semanis mungkin.
"Tadi aku mengantar pizza di sini. Oh ya... Kalian cuma berenam, kemana Alya?"
"Alya..." ucap Sarah Ragu.
Raina dan Celine menarik tangan Rasya dan memohon pertolongan pada Rasya.
"Alya dikeluarkan dari kampus. " ucap Raina.
"Dikeluarkan?"
"Bagaimana coba ceritakan?"
__ADS_1
"Apa salah Alya?"