
"Aku tidak akan meninggalkanmu." Eldo memeluk Dilah kembali. Dilah menangis dibalik punggung Eldo.
"Aku tulus cinta padamu. Apapun kondisimu, aku tetap akan bersamamu," Eldo mencium puncak kepala sang istri.
Setelah mendapatkan perawatan intensif, Dilah sudah diperbolehkan untuk pulang. Eldo memepah sang istri agar tak terjatuh ketika berjalan keluar dari ruangan.
"Di sini Sayang," Eldo membukakan pintu mobil dan Dilah masuk perlahan sambil meraba-raba.
Sesampainya di rumah. Air mata Dilah masih terus bergulir. Ia tak menyangka cobaan hidup seberat ini untuknya. Ia juga tak menyangka akan terjadi seperti ini. Andai saja Dilah mendengarkan larangan sang suami mungkin semua ini tak terjadi. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Semua sudah terlanjur terjadi.
Eldo membawa Dilah ke kamar. Dilah merebahkan tubuhnya di tempat tidur sedangkan Eldo menyelimutinya kemudian Eldo keluar kamar.
Dilah merasa haus. Ia berdiri dan ingin mengambil air namun ia malah terjatuh.
"Aduh," pekik Dilah. Ia mengusap lututnya.
Dengan cepat Eldo masuk ke kamar sang istri. Ia membantunya dengan cepat.
"Sayang kamu berhati-hati. Kalau perlu apa-apa bilang sama aku. Aku tidak mau kamu kenapa-kenapa."
__ADS_1
Mendengar ucapan Eldo. Dilah tersentuh, jatungnya berdetak kencang.
Apakah dia benar-benar serius cinta sama aku? Berarti dia enggak seperti dulu yang memanfaatkanku. Ternyata dia benar-benar cinta dan peduli padaku.
"Aku haus," Dilah menundukkan wajahnya.
"Mau kuambil kan minum?" tanya Eldo lembut. Dilah menganggukkan kepalanya.
"Tunggu sebentar," Eldo berjalan cepat mengambil air minum untuk sang istri.
"Ini Sayang,"
Dilah meraba-raba gelas. Namun ia tak bisa mengambilnya. Eldo tersenyum melihat itu. Ia duduk di samping istrinya. Ia mendekatkan bibir gelas ke bibir istrinya. Dilah meminum air tersebut perlahan. Bahkan menelan air tersebut ia tak sanggup. Orang yang selama ini dia benci, dia sakiti, ternyata sangat sayang dan cinta padanya.
"Tunggu!" Dilah mencegah Eldo yang ingin berjalan keluar.
"Iya kamu butuh apa?" Eldo menoleh.
"Aku mau peluk!" pintanya.
__ADS_1
Peluk? Dia memintaku untuk memeluknya.
"Kau yakin?" tanya Eldo memastikan.
"Iya, peluk aku!" pintanya sekali lagi.
Eldo merebahkan tubuhnya di samping sang istri. Memeluknya dengan penuh kasih sayang. Mencium pipi, kening, dan lainnya. Tak tahu siapa yang memulainya lebih dulu tau-tau saja mereka sudah berbaur menjadi satu.
Pagi hari yang cerah. Sinarnya masuk dari celah-celah jendela. Dilah berjalan pelan menuju kamar mandi. Ia hampir terjatuh namun dengan sigap Eldo menangkapnya.
"Maaf aku merepotkanmu," ucap Dilah sambil buru-buru menjauhkan kepalanya dari dada Eldo.
Dilah meraba-raba mencari pintu kamar mandi. Karena kondisinya yang tidak dapat melihat ia tak tahu dimana kamar mandi tersebut.
"Mau kemana?" tanya Eldo penasaran melihat' istrinya yang berjalan tak tentu arah.
"Kamar mandi," katanya singkat.
"Sini," Eldo memegang tangan istrinya membantu menunjukkan arah yang benar.
__ADS_1
"Kamu kenapa ikut?" tanya Dilah heran ketika Eldo ikut masuk ke kamar mandi.
"Aku. Aku. Aku takut kamu jatuh lagi. Bahaya jika kamu jatuh. Ada anak kita di dalam," ucap Eldo sambil mengusap perut istrinya.