
Dilah dan Luna keluar dari rumah sedangkan Ali menunggu di mobil. Ketika Ali melihat Luna dan Dilah. Ia langsung keluar dari mobil tersebut.
"Silahkan masuk Tuan putri," ucap Ali sambil membukakan pintu. Luna dan Dilah tersenyum sebagai ucapan terima kasih.
Mereka langsung menuju sekolah SMA International School. Ketika Luna, Dilah, dan Ali turun dari mobil, mata orang-orang tercengang. Terutama melihat Luna. Vino yang sudah berada disana juga takjub melihat Luna. Ia mengucek matanya memastikan apakah penglihatannya tidak salah. Tapi yang ia lihat benar-benar Luna.
Lucia yang melihat Luna berjalan sejajar dengan Ali dan Dilah, membuat dirinya kesal. Ia kalah cantik dari Luna kali ini.
"Luna!" panggil Vino dengan melambaikan tangan tinggi-tinggi.
"Vino," Luna senang karena sahabatnya datang.
"Kau, kau, kau benar-benar cantik Luna," ucap Vino takjub, ia melihat dari atas sampai bawah.
"Terima kasih, ini semua berkat istrinya Pak Ali," ucap Luna, pipinya merah merona. Baru kali ini Vino memujinya cantik, jadi rasanya sungguh menyenangkan.
"Bagaimana kalau kita berfoto?" ucap Ali sambil mengeluarkan ponselnya.
"Ide bagus," Dilah mengeluarkan ponselnya.
"Pakai ponselku saja," sambung Dilah.
"Siapa yang akan memotret kita?"
Ali melihat Amel yang datang ke sini. Ali melambaikan tangan dan memanggil Amel.
"Amel!" ucap Ali sambil tersenyum dan melambaikan tangan. Amel yang melihat Ali mendadak hatinya berdebar kencang. Dengan cepat ia menghampiri Ali.
"Ada apa Ali?" Amel tersenyum semanis mungkin.
"Tolong foto kan kami Amel!" pinta Ali dengan wajah yang menggemaskan.
"Iya Tante, tolong ya Tante ambil gambar kami!" ucap Vino yang tak kalah mengemaskan.
Ia mendengus kesal, "Baiklah," ucap Amel terpaksa menurut.
"1, 2, 3 senyum."
cekrek cekrek cekrek
Mengapa Ali dan Dilah romantis sekali di foto ini? Batin Amel merana.
"Lagi dong Tante," Vino sudah sangat senang sekali bisa berfoto dengan Luna. Ya, walaupun ada pasangan romantis yang ikut.
Cekrek cekrek cekrek
Menyebalkan!
Amel cemberut kesal, tapi tidak ada dari mereka yang memperhatikan.
__ADS_1
"Tunggu! Jangan berfoto tanpa aku," Fina datang menggandeng Yanto.
"Fina?" Dilah terbelalak kaget, kemudian Fina memeluk Dilah.
"Kau bersama Yanto?" Dilah bertanya sambil tersenyum meledek. Fina jadi malu-malu kucing.
"Yanto kau sudah pulang dari luar kota?" tanya Ali sambil mendekati Yanto.
"Kau keterlaluan Ali, kau bilang profesiku sebagai manangeman ya?" kesal Yanto.
"Aku hampir menyebut mata-mata jadi aku peleset jadi manageman," ucap Ali sambil memukul pelan bahu Yanto agar Yanto tak marah.
"Tapi tidak apa-apa Ali, ayahnya mendesakku untuk menikahinya," ujar Yanto bahagia.
"Bagaimana dengan Sisil?" Ali tahu bahwa Yanto mencintai Sisil sejak lama.
"Minggu depan dia akan menikah," ucap Yanto lesu.
"Hei, jadi tidak berfotonya?" kesal Amel yang menunggu terlalu lama.
"Jadi,"
Mereka mulai memasang gaya terbaik mereka masing-masing.
Cekrek cekrek cekrek
Akhirnya mereka berfoto bersama. Amel memasang senyum terpaksa. Wajahnya terlihat tidak ceria sedangkan Dilah dan Fina, mereka ceria dengan gaya terbaik mereka. Setelah Fina, Dilah, dan Amel selesai berfoto sekarang giliran Vino yang minta di foto berdua bersama Luna.
"Pak Ali, aku ingin foto berdua dengan Luna. Tolong ambil gambarnya, Pak!" kata-kata Vino membuat Ali tersenyum. Luna sebenarnya enggan berfoto berdua dengan Vino. Tapi Vino memaksanya.
Cekrek cekrek cekrek
Mereka tak mempedulikan banyak orang yang melihat mereka. Sekolah International School sangat lah indah. Bahkan tidak kalah dengan objek wisata. Jadi hasil fotonya pun sangat memuaskan.
Lucia yang dari tadi memperhatikan mereka menjadi tambah kesal.
Luna, akan kupastikan senyum bahagiamu ini, akan menjadi senyum bahagia terakhirmu. Karena nantinya aku yang akan memenangkan lomba. Batin Lucia
Setelah usai berfoto, Ali membawa Luna ke panitia untuk mengambil nomor dan menandatangani kehadiran.
"Ini Pak nomornya," ucap panitia tersebut memberikan nomor Luna.
"Eh, Pak Ali. Sedang apa disini?" tanya ibu Kharisma. Ibu Kharisma belum tahu bahwa Luna ikut lomba cerdas cermat.
"Ini Bu, ngambil nomor Luna," Ali menggaruk kepalanya.
"Memangnya Luna ikut lomba Pak?" Kharisma menjadi terkejut.
"Iya Bu, kami ada perlu. Permisi!" Ali buru-buru membawa Luna menjauh dari Kharisma.
__ADS_1
Punya nyali juga dia ikut lomba. Halah pasti dia orang pertama yang disingkirkan. Pikiran ibu Kharisma meremehkan.
Para peserta di minta naik podium. Ada sekitar 40 peserta. 30 peserta membawa nama sekolah dan 10 peserta ikut karena berbayar atau mandiri.
"Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu serta saudara-saudari sekalian. Pagi yang cerah ini kita akan membuka lomba cerdas cermat tingkat nasional yang diikuti oleh 10 sekolah terbaik."
"Kata sambutan pertama dibuka oleh Rustam selaku panitia."
"Selamat pagi semua!" ucap salam Rustam.
"Pagi!' ucap para hadirin.
"Puji dan syukur kita panjatkan kepada Tuhan yang maha esa. Hari ini kita akan menggelar lomba cerdas cermat tahunan yang diadakan di SMA International School. Semoga dengan adanya ajang ini atau perlombaan ini menjadi sebuah dorongan para pemuda dan pemudi negeri untuk berprestasi. saya selaku ketua panitia akan menjunjung tinggi sportivitas dan kejujuran. Sampai disini dulu kata sambutan saya. Lebih dan kurang saya mohon maaf, Selamat pagi semua!"
"Pagi" ucap hadirin dan diiringi tepuk tangan.
"Terima kasih Pak Rustam selaku ketua panitia. Kata sambutan selanjutnya Ryan Mulya selaku sponsor dan alumni dari SMA International School. Ia merupakan salah satu dari murid yang berprestasi."
Semua orang bertepuk tangan, Ryan berdiri dari tempat duduknya kemudian Ryan naik ke podium untuk mengucapkan kata sambutan.
"Selamat pagi para hadirin," ucap Ryan.
"Pagi" ucap para hadirin.
"Puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan yang maha esa. Berkat rahmat dan ridhonya kita dapat berkumpul di SMA International School. Perlombaan cerdas cermat ini sebagai media untuk menambah ilmu. Dengan ini saya mendukung penuh perlombaan untuk mengasah dan melihat sejauh mana kemampuan khususnya bagi peserta. Dan bla bla bla..."
"Demikian kata sambutan saya, lebih dan kurangnya saya mohon maaf, akhir kata saya ucapkan terima kasih dan selamat pagi."
"Pagi," mereka bertepuk tangan ketika Ryan turun dari podium.
Ryan terlihat tampan dan keren di depan sana, batin Denia.
"Perlombaan akan segera di mulai."
"Sekarang adalah babak penyisihan dimana dari 10 yang bertanding hanya 1 orang yang akan terpilih untuk maju ke babak selanjutnya. Jadi semi final akan ada 4 orang yang bertanding dan di babak final ada 2 orang yang bertanding,"
"Semua mengerti," ucap pembawa acara.
"Mengerti!" ucap peserta.
"Ambil gulungan ini, di dalam gulungan tersebut hanya ada satu angka yang keluar yaitu angkat 1, 2, 3 ,4. Jika Anda mendapatkan angka 1 berarti Anda akan bertanding untuk yang pertama kali, begitu seterusnya." ucap pembawa acara.
40 peserta mengambil gulungan tersebut. Luna mengambil gulungan berwarna hijau. Ia berharap bertanding paling akhir. Namun doanya tak di kabulkan, ia bertanding dia awal
"Oke tunjukkan ke depan!" ucap pembawa acara.
Ali yang melihat Luna mendapat nomor 1 yang berarti bertanding pertama, ia menjadi pucat dan jantungnya berdebar kencang.
"Semoga kau menang Luna,"
__ADS_1