
"Aku pembunuh? Eldo meninggal itu karena kecelakaan dan takdir," Menir bersikeras. Yulia tak menanggapi ucapan Menir. Ia keluar dari kamarnya dan pindah tidur di kamar tamu.
"Yulia!"panggil Menir kesal. Tak sedikit pun terbersit dihati Menit bahwa dia yang bersalah. Pria angkuh tersebut tak mau disalahkan.
Pagi hari yang cerah. Cahaya masuk dari sela-sela jendela membuat mata silau melihatnya. Dilah bangun dari tidurnya. Ia melihat ke samping tempat tidurnya. Tidak ada Eldo. Perlahan bulir-bulir air mata jatuh di pipinya. Betapa cinta tidak adil baginya. Betapa cintanya pergi meninggalkannya.
"Sayang, kau bawa cinta kita sampai mati," ujar Dilah lirih. Ia menghirup udara. Namun terasa sesak akibat tangisannya. Lemah, lesuh, sedih mendatanginya.
Tangisan bayi memecahkan pikirannya. Mengusapkan air mata yang telah membanjiri pipinya. Tersenyum di depan putra kecilnya yang yang sangat menggemaskan. Tak ingin terlihat lemah. Tak ingin terlihat rapuh. Menimang putranya dengan senandung sholawat. Membuat sang putra tenang di dalam gendongan sambil memberikan Asi. Sungguh tak pernah terpikir harus membesarkan anak seorang diri.
Setelah tertidur pulas. Dilah meletakkan putranya di box bayi tak lupa sebelum itu ia mencium putranya terlebih dahulu. Memberikan kasih sayang pada putranya seorang diri. Tanpa ayah dari anaknya itu.
Dilah keluar kamar untuk sedikit melupakan kesedihannya. Sedikit menerima takdir yang ada. Harus rela dan ikhlas atas kepergiannya. Walaupun masih ada rasa tak rela dan masih tidak percaya atas kepergian suaminya.
__ADS_1
"Dilah," panggil Yulia lembut. Ia sedang menghidangkan sup lezat. Dilah berjalan kearah sumber suara.
"Ayo makan dulu!" Pinta sang ibu mertua. Dilah menggelengkan kepala. Belakangan ini setelah ditinggalkan Eldo, nafsu selera makan Dilah semakin berkurang dan membuat seisi rumah bertambah khawatir.
"Nanti kamu sakit, ayo coba dulu sup buatan Mama," ucap Yulia membujuk agar menantunya mau makan.
"Tidak Ma, aku tidak selera makan," Dilah masih menolak dengan lembut. Apapun bujukannya jika nafsu makannya tidak ada itu tidak dapat mengubahnya.
Laura datang dengan sorot mata sinisnya. "Sudahlah Ma, biarkan dia tidak mau makan. Mungkin dia mau menyusul Eldo." geram Laura. Ucapan yang Laura lontarkan semata-mata karena cemburu. Mertuanya jauh lebih perhatian pada Dilah ketimbang dirinya.
"Makan Ya, Nak. Sedikit saja," ujar Yulia memohon. Tak ingin melihat ibu mertuanya terus-menerus memohon akhirnya Dilah mau makan juga. Walaupun satu suapan butuh waktu yang lama.
"Makan, jangan diaduk-aduk!" kesal Laura ketika dia melihat Dilah termenung sambil mengaduk-aduk makanannya.
__ADS_1
"Laura!" Yulia melihat kesal pada Laura yang terdengar membentak.
Laura memutar bola matanya.
"Terus saja perhatian sama menantumu yang satu itu." Gerutu Laura di dalam hati.
Aku takut harta kekayaan keluarga Wijaya jatuh padanya. Mana aku belum hamil juga sampai sekarang. Satu-satunya penerus keluarga Wijaya adalah anaknya itu. Bisa-bisa dia yang dapat yang banyak. Laura membatin.
Usai makan, Dilah masuk ke kamarnya. Ia mengambil Poto Eldo yang ada di meja dekat lampu tidur. Dilah mengusap wajah Eldo pada Poto tersebut dengan jarinya. Rindu. Dilah sangat merindukan Eldo.
"Mengapa orang baik cepat sekali pergi sih?"
Bulir-bulir air mata bergulir di pipinya. Terdengar isakan pelan di bibirnya.
__ADS_1
"Tuhan, mengapa engkau memberikan penglihatan padaku jika aku harus kehilangan dia," Dilah terisak.
"Andai aku dapat memutar waktu pasti aku akan menuruti apa yang dikatakannya dan percaya padanya."