
Pagi hari Dilah dan Ali sudah berada di mobil mereka akan menuju kantor.
"Kamu yakin ingin ke kantor?" tanya Ali yang masih menghawatirkan keadaan istrinya. Mata Ali masih fokus pada kaca depan mobil.
"Tentu saja, aku bosan di rumah." Dilah tersenyum sambil melihat Ali.
Tangan kiri Ali menggegam tangan Dilah erat.
"Jika masih terasa sakit, pulanglah atau telepon aku," ucap Ali sambil menoleh ke Dilah lalu melihat ke kaca depan mobil kembali.
"Iya," tersenyum manja.
Setelah menghantar Dilah, Ali masuk ke sekolah dan mulai mengajar di kelas 11. Mata Vino tampak jengkel melihat Ali. Ia benar-benar kesal sekali saat Ali masuk ke kelasnya.
Tetiba jam istrihat, Ali berjalan untuk mengambil kotak bekal makanan di ruangannya. Ketika ia hendak berjalan, Vino berdiri di depannya dengan menatap tajam pada Ali.
"Vino, mengapa kau menghalangi jalan bapak?" tanya Ali bingung.
"Pak, aku ingin bertanya sedikit." Vino meremas tangannya dan menggepal jarinya.
"Ya sudah, tanyakan apa itu?"
"Bisakah kita di tempat yang lebih sepi, karena ini sangat penting." ujar Vino yang masih menatap tajam pada Ali.
"Baik," Ali mengelus rambut Vino, kemudian Vino mengelak dan menarik tangan Ali.
Setelah itu, mereka duduk di belakang lab bahasa yang sangat sepi, jarang sekali ada murid atau guru yang kesini.
"Pak, mengapa Bapak mendekati Luna?" tanya Vino dengan wajah sangar.
"Loh jadi kamu belum tahu."
"Apa yang belum aku ketahui?" kesal Vino dan mulai mengepal tinju.
Apakah dia dan Luna menjalin hubungan? Jika benar aku akan memukul pria ini. Batin Vino kesal.
"Tapi kau jangan beri tahu siapa-siapa ya," senyum lembut Ali, tetapi Vino melihat sinis pada Ali. Vino ingin sekali meninju Ali. Rasa kagumnya ke Ali hilang sudah semenjak Ali dekat dengan Luna pujaan hatinya.
"Iya," suara bentak Vino dengan melirik sinis.
Ali mendekati Vino dan membisikan. "Bapak, mendaftarkan Luna dalam lomba cerdas cermat. Bapak ingin menunjukkan pada semua orang bahwa Luna murid yang pintar. Bapak adalah mentornya sekarang,"
Vino langsung memeluk gurunya dengan mata yang berbinar. Ia sadar bahwa dirinya sudah salah paham.
Bodohnya aku, mengapa aku seperti ini. Pak Ali kan sudah punya istri tak mungkin dia menghianati istrinya. Batin Vino
Vino melepaskan pelukan dengan Ali dan meremas rambutnya kesal.
__ADS_1
"Apakah kau mencintai Luna?" tanya Ali sambil menaikkan alisnya.
"Hahaha, tidak Pak. Saya hanya temannya," Vino tersenyum sambil menggaruk kepala.
"Apakah seorang teman tak bisa jatuh cinta?" Ali tersenyum menggoda Vino agar Vino mengatakan hal yang jujur pada Ali.
"Hahaha, Pak, jangan bicarakan mengenai cinta aku tak tertarik itu." ujar Vino dan ingin melarikan diri.
"Vino, jika kau cinta dengannya jangan terlalu gengsi. Katakan saja padanya." ucap Ali memegang pundak Vino.
Setelah jam pulang sekolah, Ali membereskan barang-barang. Setelah semua sudah beres ia masuk ke mobil.
Ketika melewati jalan raya yang agak sepi, Ali melihat seorang wanita yang dirampok. Ali dengan segera keluar dari mobil.
"Tolong! Tolong! Tolong!" suara wanita meminta pertolongan.
"Tunggu sebentar ya Bu, saya akan penangkap pencuri itu," suara Ali menenangkan.
"Tolong saya Tuan!"ujar wanita itu dengan wajah sedih.
Ali mengejar pencuri tersebut dengan berlari. Pencuri tersebut meliuk-liuk untuk menghindari kejaran Ali. Ali terus mengejar pencuri itu dengan mengerahkan seluruh tenaganya. Pencuri tersebut menjatuhkan barang yang ia lewati untuk menghalangi jalan Ali. Akan tetapi Ali dapat menghindarinya.
"Aku akan menangkapmu." ujar Ali sambil terus berlari mengejar pencuri tersebut dan tetiba di depan rumah tua yang tak terurus. Pencuri itu berhenti dan tersenyum licik, kemudian keluarlah 10 orang bertubuh kekar dan berotot membawa Ali ke dalam dan mengikatnya di sebuah kursi.
"Lepaskan aku!" teriak Ali sambil meronta-ronta untuk melonggarkan ikatan yang kuat.
"Siapa kau pecundang?" Ali menatap punggung itu dengan kesal. Pria berbaju hitam tersebut berbalik dan mengangkat dagu Ali.
"Hahaha, apakah kau sudah lupa dengan wajahku ini?" tanya Reno sambil melotot tajam.
"Reno!" suara Ali terkejut. Bukankah Reno masih di penjara mengapa dia disini?
"Benar, hahaha," tawa jahat Reno sambil melepaskan keras dagu Ali dan bertepuk tangan kecil.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Ali sambil berteriak.
"Aku ingin kau pergi dan tinggalkan Dilah." suara Reno sangat mencekam.
"Aku tidak akan meninggalkan dia yang sudah menjadi milikku." suara Ali terdengar serius.
"Apa katamu!" Reno memegang dagu Ali kembali. Kini ia melotot tajam.
"Kau pecundang," teriak Ali
"Kau yang pecundang," Reno melepaskan kasar dagu Ali, kemudian ia mengelilingi Ali dengan tawa jahatnya.
"Apa maksudmu?" tanya Ali kesal sambil berusaha melonggarkan ikatan.
__ADS_1
"Kau pecundang yang tak berani memberi tahu istrimu. Siapa sebenarnya dirimu itu." tawa Reno memenuhi ruangan.
"Katakan saja! Apa maksudmu?" Ali setengah berteriak.
"Kau mata-mata bukan?" tanya Reno sambil tersenyum iblis.
"Aku cuma pedagang sayur yang berprofesi sebagai guru sekarang." teriak Ali yang mencoba membohongi.
"Bohong!" Reno memukul meja yang ada di depan Ali membuat Ali terkejut.
Ali hanya diam dan mengalihkan pandangan.
"Kau bohong padaku, kau adalah seorang mata-mata. Mata-mataaa...." teriak Reno sambil memberi penekanan pada kata mata-mata.
"Cih, tak mungkin orang sepertiku adalah seorang mata-mata." Ali mencoba mengelabuhi Reno.
"Seseorang!" panggil Reno kepada seseorang.
Datanglah laki-laki berbaju hitam dan wajah ditutupi topeng.
"Apakah Ali adalah seorang mata-mata?" tanya Reno pada laki-laki berbaju hitam dengan topeng hitam di wajahnya.
Laki-laki tersebut mengangguk dan diam tanpa bahasa.
"Hahaha, kau lihat dia. Dia bahkan lebih jujur daripada dirimu agen Ali." gelak tawa Reno, ia merasa menang dari Ali.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Ali berteriak menatap laki-laki berbaju hitam bertopeng.
"Buka topengmu pemuda!" pinta Reno sambil menepuk pundak laki-laki berbaju hitam. Laki-laki tersebut menundukkan pandangannya ke lantai. Ia malu jika Ali melihat wajahnya.
"Cepat buka!" teriak Reno, kini Reno mulai kasar pada laki-laki bertopeng tersebut. Karena ia tak sabar ingin menunjukkan pria bertopeng itu pada Ali.
laki-laki bertopeng itu membuka topengnya perlahan dan menunjukkan wajahnya pada Ali.
"Asataga Wildan itu kau?" tanya Ali dan Wildan menunduk malu.
***
Dilah sudah lama menunggu di depan kantor, hatinya was-was sekali. Sudah tiga jam ia menunggu bahkan ia sudah selesai salat isya.
"Nona, lebih baik anda pulang saja." suara Vio khawatir.
"Kemana suamiku, dia tak pernah terlambat selama ini? Mana orang suruhanku yang aku suruh untuk menyelidiki Ali." ucap Dilah dengan nada khawatir.
laki-laki bernama ikhsan datang tergesa-gesa mengadap Dilah.
"Nona, aku sudah tanyakan kepada orang-orang di sekolah bahwa sekolah San Teresyia bakti School sudah pulang jam 3 sore dan aku sudah mengecek rumah Anda dan tidak ada orang di rumah. Tapi aku melihat mobil Tuan Ali terparkir. Sepertinya dia pergi atau ada sesuatu yang menimpa dia."
__ADS_1
"Apa!" Dilah terkejut dan pingsan seketika.