
Dini mengajak mereka makan malam. Setelah makan malam usai, Mita ingin segera pulang. Tapi hal itu dilarang oleh Riki dan Dini karena sudah larut malam. Namun karena berbagai alasan akhirnya Mita dipersilahkan pulang.
"Ryan, tolong antar adikmu pulang!" ucap Dini tersenyum, tapi Ryan hanya diam dan keluar disusul Mita di belakangnya.
Mereka masuk ke mobil. Mita sangat bahagia karena hari ini ia akan semakin dekat dengan kakaknya. Setelah melewati persimpangan, Ryan buka suara untuk bertanya. "Dimana rumahmu?" Ryan bertanya tanpa mengalihkan pandangan dari kaca depan mobil.
"Di sebelah sana," menunjuk kos-kosan.
Setelah menghantarkan Mita pulang. Ryan pulang ke rumahnya. Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam/ tengah malam.
Ryan sudah sampai di rumah. Ia masuk ke rumah dan mencari dimana istrinya.
"Mungkin dia mabuk lagi," gumam Ryan sedih.
Tak beberapa lama Denia datang, ia berjalan sempoyongan. Ia berkata tak beraturan. Ryan hanya melihat Denia dengan tatapan dingin.
"Kau sudah pulang?" tanya Denia dalam keadaan mabuk.
Ryan hanya diam dan menatap Denia dengan tatapan dingin.
"Kau tuli?" tanya Denia yang berjalan kearahnya.
Ryan hanya diam, pemandangan seperti ini sudah sering ia lihat.
"Jika kau benci padaku ceraikan saja aku, aku hanya mencintai kekasihku," ujar Denia dengan suara tak beraturan.
Ryan masih diam, entah alasan apa yang membuat rumah tangganya bertahan. Denia tak pernah mencintainya bahkan Ryan tak pernah diperlakukan seperti suami olehnya.
"Hahaha, Ryan aku hanya mencintai Kasdin bukan dirimu. Kau hanya suami pengganti." ujar Denia yang masih mabuk. Tiba-tiba ia terjatuh dan dengan sigap Ryan menangkap tubuhnya. Ia membaringkan Denia di kamarnya.
"Mau sampai kapan kamu seperti ini? Kau tak pernah melihat cintaku. Jika cerai adalah keinginanmu, aku akan mewujudkannya." ujar Ryan sambil menyelimuti Denia. Kemudian ia melepaskan sepatu Denia dan meletakkannya di rak.
Pagi hari Denia terbangun, kepalanya agak pusing tapi dia berusaha untuk bangun. Ryan duduk di meja makan sambil memakan masakan yang ia buat. Denia melihatnya dan tak peduli.
"Semalam kau meminta hal aneh padaku." ujar Ryan yang dingin.
Hal aneh? apakah aku minta itu? Tidak-tidak itu tidak akan terjadi.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak mau," ujar Denia, ia langsung berangkat pergi entah kemana.
Syukurlah, ternyata dia tak sungguh-sungguh meminta cerai.
Ryan ke kantor dan duduk di kursi, Ia bingung saat ini. Mengapa selama sebulan setelah menikah, Denia tak menunjukkan kewajibannya sebagai istri? Ia teringat dengan Ali. Bagaimana Ali bisa membuat adiknya yang keras kepala menjadi jatuh cinta?
Ryan menghubungi Ali yang merupakan adik iparnya. Awalnya Ali terkejut tiba-tiba di telepon Ryan. Ryan tak pernah melakukan hal ini sebelumnya.
Setelah pulang mengajar, Ali datang menemui Ryan di restauran.
"Ali, aku ingin bertanya sesuatu," ucap Ryan agak ragu.
"Tanyakan saja Kak," Ali dengan senang hati Ali pasti menjawabnya.
"Bagaimana kau bisa membuat adikku jatuh cinta padamu?" tanya Ryan yang membuat Ali malu untuk menjawab.
"Dengan banyak tahap," ujar Ali tersenyum.
"Kak, ceritakan dari awal masalah kakak!" pinta Ali agar ia mendapatkan solusi.
Ryan agak ragu menceritakannya, tapi ia harus menceritakannya. "Setelah menikah dengannya. Dia tak kunjung melupakan kekasihnya yang telah tiada. Ia sering pulang dengan keadaan mabuk. Ingin sekali aku memberitahu pada orang tuanya tapi aku takut dia dimarahi orangtuanya. Jadi aku biarkan saja dia seperti itu. Mungkin .hal itu yang akan membuatnya tenang," ujar Ryan dengan nada sedih.
"Sudah, tak mungkin kakak berbuat jahat padanya. Kakak sangat sayang padanya." ujar Ryan sambil menunduk. Ingin rasanya mengeluarkan air mata. Tapi, ia bukan sosok pria lemah dan rapuh.
"Cuma ini satu-satunya cara." Ali berbisik di telinga Ryan.
"Apa kau yakin itu?" tanya Ryan yang bingung.
"Bagaimana jika dia marah padaku?" tanya Ryan. Ia takut sekali melihat Denia marah padanya.
"Tidak apa-apa Kak, lagi pula itu tidak berdosa. Justru sudah seharusnya Kakak mendapatkannya." ujar Ali tersenyum dan menepuk pundak Ryan.
Setelah bertemu Ali, Ryan memutuskan untuk pergi ke kantor. Setelah jam 9 malam Ryan pulang ke rumah. Ryan menunggu Denia pulang dengan menyiapakan makanan untuk Denia. Lelah juga Ryan menunggu Denia. Setelah jam 1 malam Denia akhirnya pulang. Denia masih seperti semalam bahkan mabuknya lebih berat dari yang semalam. Denia berguman tak jelas dan berjalan tak beraturan.
"Tidak usah menungguku, kau tidur saja!" suara Denia terdengar tak beraturan tetapi masih bisa dipahami.
Denia berjalan tak tentu arah. Hampir saja ia terjatuh. Jika tak ada Ryan mungkin ia terjatuh.
__ADS_1
"Lepaskan aku!" teriak Denia.
"Hidup begitu kejam ya kan Ryan, aku mencintai orang yang pergi jauh." ujar Denia kemudian ia menangis.
"Aku akan membawamu ke kamar," Ryan memepah Denia akan tapi Denia menolak. Denia berjalan sendiri tapi hampir saja dia terjatuh. Untung saja ada Ryan yang menangkap dan Denia jatuh di pelukannya.
Karena Denia mabuk berat, ia merasa sangat kepanasan ia membuka pakaiannya yang kemudian membangkitkan hasrat Ryan. Ryan menggelengkan kepala.
"Aku tak boleh menyentuhnya," gumam Ryan pelan. Ryan hampir setiap hari melihat pemandangan ini tapi ia berusaha menahan diri.
"Kak, satu-satunya cara agar dia cinta sama kakak adalah buat dia hamil." ujar Ali berbisik di restauran yang terngiang-ngiang di kepala Ryan.
Ryan membuka ponsel dan ia melihat pesan singkat dari Ali, "Tidak ada dosa kakak kalau menyentuhnya. Kalian sudah halal."
"Iya juga," Ryan tersenyum.
Kemudian Ryan menjadi bingung, "Bagaimana cara melakukannya?" Ryan bingung harus mulai dari mana.
"Aku belum pernah melakukannya," gumam Ryan yang masih merasa bingung, kemudian ia mendekati Denia. Mencium keningnya dengan lembut.
"Baru pertama kali aku menciumnya," ujar Ryan tersenyum.
Ryan mulai mencium bibir Denia. Setelah melakukan itu, ia semakin bergairah dan terjadilah.
Pagi hari Denia terkejut dengan bajunya yang berserakan. Ia melihat Ryan yang memeluknya dengan erat. Ia menatap Ryan dengan jijik. "Apa yang terjadi padaku?" tanya Denia bingung. Ia menyingkirkan tangan Ryan dari tubuhnya. Ada darah di seprainya, ia semakin terkejut. Ia merasakan sakit pada tubuhnya."Aduh!" ucapnya kesakitan.
Ryan bangun karena mendengar suara Denia. Ia mengambil pakaiannya dan memakainya dengan cepat.
"Kenapa?" tanya Ryan bingung.
"Apa yang kau lakukan padaku?" tanya Denia berteriak.
Ryan mulai akting, sikap dinginnya muncul kembali. " Seharusnya aku yang bertanya begitu," ucap Ryan dingin.
Apa aku yang memulai duluan?
"Aku peringatkan padamu jangan mabuk lagi, aku lelah melayanimu tadi malam," ujar Ryan kemudian ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Ia tersenyum misterius di kamar mandi.
__ADS_1
"Terima kasih Ali atas solusinya," gumamnya
"Jadi aku yang mulai duluan, Haaa... Kasdin, maafkan aku, aku telah berhianat padamu."