
"Jika kamu tidak ingin aku berada disini. Aku bisa keluar," kata Eldo, ia membalikkan tubuhnya untuk keluar.
"Tunggu!" ucap Dilah sambil menyentuh punggung Eldo.
"Iya, kamu perlu apa?" Eldo berbalik dan memegang tangan Dilah yang sedang meraba-raba agar tidak tertabrak tembok.
"Aku tidak bisa mengambil apapun ketika mandi. Kamu mau ya bantu aku mandi," ucapnya memohon. Dilah melupakan rasa gengsinya pada Eldo. Satu-satunya orang yang bisa membantunya saat ini adalah Eldo.
Eldo tersenyum tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
"Kamu tidak mau? Ya sudah aku akan melakukannya sendiri. Aku pasti bisa!" kesal Dilah karena tak mendapatkan jawaban dari permohonannya kepada Eldo.
"Jangan! Nanti kamu kenapa-kenapa," Eldo melarang. "Aku akan membantumu."
Usai mandi, Dilah duduk di sofa. Ia bingung harus melakukan apa. Ia tak bisa melihat sama sekali. Tiba-tiba air matanya menetes. Apakah kebutaan ini adalah karma akibat menyakiti suami. Apakah ini karma atas dosa-dosa yang tak terhingga banyaknya?
__ADS_1
Eldo membawa makanan untuk istrinya. Ketika ia melihat Dilah sedang bersedih. Hatinya merasa iba. Ia tak tega melihat orang yang paling ia cintai menangis.
"Dia pasti sangat ingin melihat? Seandainya aku menemukan orang yang dapat mendonorkan mata untuknya. Tapi sangat sulit mencarinya. Apakah aku harus yang mendonorkan mataku untuknya?" gumam Eldo.
Eldo duduk di samping Dilah dan bertanya,
"Kamu kenapa?" tanya Eldo dengan nada lembut. Ia meletakkan makanan tersebut diatas meja.
"Aku sedih melihat keadaanku. Aku tidak bisa melihat apapun." bulir-bulir air mata jatuh dipipinya. Eldo menyandarkan kepala istrinya ke bahunya.
"Sekarang kamu harus makan. Ini sudah jam makan siang," Eldo memberikan soto ayam kesukaan sang istri.
"Ini sudah siang? Kamu tidak berangkat bekerja?" tanya Dilah terkejut. Karena tak bisa melihat ia tidak tahu hari telah siang.
"Tidak, aku akan menjaga kamu. Aku takut terjadi sesuatu padamu jika aku pergi meninggalkanmu."
__ADS_1
Berarti kata-katanya waktu itu serius? Dia. Dia. Dia benar-benar mencintaiku? Bahkan dikondisiku yang seperti ini dia tetap menerimaku dan tidak berpaling dariku. Tuhan, maafkan aku. Aku bodoh! Aku tidak dewasa. Aku tidak percaya kata-katanya. Aku terjebak pada masa laluku yang pahit. Aku tidak pernah berpikir bahwa manusia bisa berubah. Dilah membatin.
"Sayang, kok bengong? Buka mulutnya," sendok yang Eldo pegang telah berada di depan mulut Dilah.
"Kamu cinta samaku?" pertanyaan bodoh keluar dari mulut Dilah. Tentu saja Eldo mencintaimu. Dia sudah banyak membuktikannya hanya saja mata dan hatimu buta Dilah.
Eldo meletakkan sendok berisi nasi dan ayam ke tempatnya semula. Eldo menghembuskan nafas berat.
"Aku sudah sering mengatakannya. Jika kamu bertanya soal itu jawabannya pasti iya dan sampai kapanpun aku akan mencintaimu."
Dilah meneteskan air matanya membuat Eldo panik. Membuat Eldo merasa tak tega. Perasaannya masih sama. Ia tak bisa melihat orang yang paling ia cintai menangis.
"Apa kata-kataku tadi salah? Jika kata-kataku salah aku akan tarik kembali kata-kataku.
Kumohon maafkan aku. Aku tahu kamu tidak bisa mencintaiku. Aku paham! Aku paham! Tidak usah dijelaskan aku sudah paham. Tapi kumohon jangan menangis," suara Eldo terdengar lirih.
__ADS_1
"Aku menangis bahagia. Akhirnya mata hatiku terbuka. Kumohon jangan tarik kata-kata itu. Sekarang aku sadar ternyata kau berkata jujur."